Tiga Musibah yang Harus Dimaknai

0
624

MediaKALLA.com – Seperti biasanya, sebelum puasa Ramadhan penulis menerima pesan singkat dari rekanrekan melalui SMS dan BB. Umumnya berisi salam, permohonan maaf, dan doa peningkatan takwa di bulan penuh berkah ini. Namun kali ini, ada satu pesan di BB yang menarik  perhatian penulis begitu sangat kuat.

Ini pesan itu, “Dikisahkan ada seorang yang menghadap kepada imam Zainal Abidin AS dan orang itu menjelaskan bahwa dirinya tidak menerima kondisi hidup yang dialaminya. Kemudian Imam berkata kepadanya, “Ketahuilah, setiap hari manusia dihadapkan kepada tiga musibah, tetapi sayangnya manusia tidak bisa mengambil pelajaran darinya. Jika manusia dapat mengambil pelajaran darinya, maka dunia dan berbagai persoalannya akan mudah baginya.”

“Musibah pertama, umur manusia setiap harinya berkurang, tetapi tidak merasa bersedih. Jika ada hartanya yang berkurang, ia bersedih, mekipun harta yang hilang tersebut dimungkinkan untuk diraih kembali. Namun mereka kurang memaknai bahwa umur manusia yang berkurang setiap harinya itu tak akan pernah bisa kembali lagi.”

“Musibah kedua, setiap hari manusia makan rezekinya sendiri. Jika yang dimakan dari rezeki yang halal, maka manusia akan diberikan ganjaran padanya. Sebaliknya jika rezeki yang mereka makan adalah rezeki yang haram, maka manusia akan diberikian balasan yang pedih padanya.”

“Musibah yang ketiga ini lebih penting dari sebelumnya, yaitu setiap satuan waktu hari telah usai, kita maju selangkah lebih dekat menuju akhirat. Namun demikian, manusia tidak bisa mengetahui apakah mereka melangkah menuju surga atau menuju neraka.”

Penulis yakin, pembaca pasti sependapat bahwa pesan tersebut menyedot perhatian. Atau kalau tidak demikian, sekarang penulis bertanya, “Sedihkah Anda hari ini karena usia Anda sedang berkurang? Sedihkah Anda karena Anda sedang melangkah, tapi tidak tahu menuju pintu surga atau pintu neraka?”

Saat penulis mengurai tulisan ini pun dalam keadaan sedih. Pertama, sedih karena selama ini tidak menyadari dan memaknai dengan baik terhadap tiga musibah tersebut.  Kedua, sedih karena bisa jadi orang-orang di sekitar penulis, yang penulis kasihi tidak merasa sedih terhadap musibah yang dialaminya ini, bahkan mungkin pada saat membaca tulisan ini.

Pesan tersebut menjadi sangat tepat dan kontekstual untuk masuk ke bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Hal ini berkaitan erat dengan hakikat ibadah Ramadhan, yakni melatih diri agar dapat meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, sehingga ada yang harus kita perbaiki dari diri kita melalui berbagai bentuk ibadah di Ramadahan ini.

Target peningkatan takwa kita oleh Allah juga sangat ditegaskan dalam surah Al Baqarah ayat 183, “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Betapa apabila kita tidak meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT melalui ibadah Ramadhan, maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa dari ibadah puasanya, kecuali hanya menahan lapar dan haus belaka. Sementara Allah tidak membutuhkan lapar dan haus kita, tetapi yang Allah harapkan adalah peningkatan akhlak mulia dari setiap diri kita.

Sedangkan sebaiki-baiknya akhlak adalah seperti yang diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW seperti yang ditegaskan dalam ayat ini, “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) mempunyai akhlak yang ulia.” (Al Qalam: 68; 4). Berdasarkan landas pikir di atas, apa indikator peningkatan takwa kita  di bulan Ramadhan kali ini? Jawabnya adalah niat, bentuk, dan intensitas, serta kualitas ibadah kita harus lebih baik dari ibadah kita di Ramadhan terdahulu. Kita harus melakukan pencapaian target yang lebih optimal dari sebelumnya.

Menurut hemat penulis, yang harus kita lakukan pertama adalah membaca ulang tentang profil Nabi Muhamad SAW. Bagaimana sosoknya, bagaimana akhlaknya ketika berhubungan dengan sang Khalik dan bagimana akhlaknya ketika berhubungan dengan sesama, baik dengan keluarganya, dengan para sahabatnya, dengan para lawannya?  Kedua adalah taqarrub illah, mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kita melatih diri untuk memiliki rasa dekat kepada Sang Khalik, sehingga selama beraktivitas terasa betul sedang dalam pengawasan-Nya. Dengan demikian dalam diri kita selalu tertanam bahwa apa yang kita lakukan semua harus dipertanggunjawabkan di hadapan Allah.

Ketiga adalah tazhkiyatun nafs, membersihkan jiwa. Dengan jiwa yang bersih, kita dapat melaksanakan ajaran agama Islam dengan penuh kesadaran. Dengan demikian kita akan menjalani kehidupan ini dengan baik sehingga memperoleh keberuntungan dengan kualitas yang baik. Keempat adalah  memakmurkan masjid. Caranya mulai dengan shalat berjamaah, memperkokoh ukuwah dengan sesama muslim, dan melakukan i’tikiaf terutama di sepuluh hari terakhir Ramadhan.

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/07/download.jpg” ]Edi Sutarto : Direktur Sekolah Islam Athirah[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 + fourteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.