TETAPLAH BERJIWA MUDA

0
753

MediaKALLA.com – Arvan Pradiansyah mengemukakan bahwa manusia dapat dibagi atas empat jenis yaitu : 1). Orang muda berjiwa muda; 2). Orang muda berjiwa tua; 3). Orang tua berjiwa muda; dan 4). Orang tua berjiwa tua. Mari kita lihat satu per satu dari empat kategori ini. 

Golongan pertama : Orang Muda Berjiwa Muda. Inilah manusia yang energinya besar dan semangatnya juga besar. Kita saksikan dalam sejarah Sumpah Pemuda pada tahun 1928 yang dipelopori oleh orang muda yang berjiwa muda. Soekarno pada masa itu umurnya masih 27 tahun. Lalu Mohammad Roem, Kasman Singodimedjo, WR. Soepratman, Moh. Hatta semua masih usia antara 20-30 tahun. Mereka pemuda yang gelisah dengan kondisi bangsanya. Sebenarnya jika mereka ingin hidup nyaman bisa saja menjadi pamong praja Belanda karena mereka berpendidikan tinggi. Tapi jiwa mudanya membuat mereka memilih menjadi pejuang yang siap menderita bahkan harus dipenjara. Di era sekarang khususnya para penemu teknologi informasi terkini yang banyak digunakan sekarang ternyata sebagian besar ditemukan oleh anak muda. Google dan Facebook dibuat oleh anak-anak muda umur di bawah 30 tahun. Di Indonesia yang sekarang terkenal yaitu Gojek juga didirikan oleh anak muda berusia 31 tahun.

Golongan kedua : Orang Muda Berjiwa Tua. Inilah manusia yang apatis dan fatalis. Usianya masih muda tapi sudah kehilangan semangat berkarya. Ada dua kemungkinan dia kehilangan semangat. Pertama karena factor internal yaitu mindset, kaca mata kuda atau katak di bawah tempurung. Dia jarang melihat dunia luar sehingga pandangannya sempit. Bisa juga karena kurang saingan. Dia sudah merasa jago karena memang tidak ada lagi lawan tanding yang lebih hebat. Jadilah dia jago kandang. Untuk mengatasinya perlu diberi kesempatan untuk berkompetisi pada level yang lebih tinggi. Keluar dari zona nyaman dan masuk ke zona resiko sehingga adrenalinnya kembali terpacu untuk berbuat. 

Penyebab lain Orang Muda Berjiwa Tua karena factor eksternal seperti perlakuan keluarga, lingkungan atau organisasi membuatnya memiliki pengalaman buruk yang membuatnya kapok untuk berbuat. Didikan orang tua yang terlalu sering melarang bisa membuat anak takut bertindak. Bisa juga karena ada trauma suatu saat berbuat dan ternyata salah. Bukannya dapat bantuan tapi malah omelan. Atau dia pernah berbuat namun tidak mendapat apresiasi dari pimpinan. Sering ada ungkapan dari golongan ini “Ngapain repot-repot toh tidak ada juga dampaknya pada penghasilan dan karir. Malah kalau salah bisa dapat hukuman”. 

Golongan ketiga : Orang Tua Berjiwa Muda. Inilah manusia yang terus semangat selama hayat masih dikandung badan. Inilah manusia yang tidak pernah merasa cukup meskipun prestasinya segudang. Inilah tipe manusia yang tidak pernah merasa matang karena dia yakin ‘buah yang matang berarti sebentar lagi akan busuk’. Dia menghindari zona nyaman yang membuatnya merasa hebat, pintar dan sudah di puncak. Dia terus mencari tantangan dan resiko untuk menantang dirinya dengan hal hal baru. 

Golongan keempat : Orang Tua Berjiwa Tua. Secara alamiah memang demikian biasanya keadaan manusia. Saat sudah tua sudah masuk fase menikmati. Tidak terlalu ‘bernafsu’ lagi untuk meraih. Jika sudah banyak yang diraihnya saat masih muda maka masa tua dia tinggal bernostalgia, bercerita dan berbagi dengan anak dan cucunya. 

Mana dari keempat golongan tersebut yang dibutuhkan untuk memajukan negeri ini? Tentunya sangat dibutuhkan Orang Muda Berjiwa Muda apalagi Indonesia memiliki bonus demografi di mana generasi mudanya lebih banyak dari pada generasi tua. Berbeda dengan Negara maju yang sudah lebih banyak generasi tua dari pada generasi muda. Indonesia sungguh memiliki potensi untuk maju yang sangat besar jika para generasi mudanya produktif. 

Membangun jiwa muda di kalangan anak muda membutuhkan growth mindset yaitu cara pandang yang terus tumbuh dan siap menghadapi tantangan zaman. Di sinilah pentingnya anak muda diberi motivasi dan inspirasi oleh para orang tua yang berjiwa muda. Belajar dari sejarah, para tokoh pergerakan tidak lahir dan muncul begitu saja. Ada sosok yang jadi guru, mentor dan inspirator mereka. Lihatlah bagaimana sosok Cokroaminoto dapat menjadi mentor Soekarno, Agus Salim dan tokoh tokoh pergerakan lain di era Sumpah Pemuda. Untuk era sekarang dibutuhkan leader atau pemimpin bangsa dapat menjadi teladan para pemuda.         

Akhirnya agar Indonesia terus maju dan berkembang membutuhkan generasi muda dan tua yang tetap berjiwa muda. Sinergi kedua golongan sangat penting agar generasi muda yang berjiwa muda bergerak dengan terarah, efektif dan efisien karena dibimbing oleh generasi tua yang berjiwa muda. Oleh karena itu wahai para generasi muda dan generasi tua mari tetap berjiwa muda.  [ Syamril ]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

thirteen − nine =