Tetap Setia Meski Hampir Meregang Nyawa

0
498

Selama 18 tahun mengabdikan diri, Kurniawan Jaya telah menemui berbagai pengalaman yang tak terlupakan.

MediaKALLA.com – Siang itu, 30 Agustus 1999 Kantor Hadji Kalla Cabang Parepare tampak lengang. Beberapa karyawan sedang keluar menikmati santap siangnya. Kurniawan Jaya melirik arloji dari balik lengan kemeja putihnya. Arah jarum jam saat itu menindik angka 2 lewat 35 menit. “Masih ada waktu untuk Shalat Dzuhur, ” batinnya.

Baru saja ia hendak melaksanakan kewajibannya sebagai ummat Islam, sekelompok orang mendatangi kantor tempat ia bekerja. Jumlahnya sekira 30 orang.

“Mana Kuriawan, ” tanya salah seorang dengan nada tinggi. Spontan dijawab, bahwa dialah orang yang dimaksud. Tanpa pertanyaan lanjutan ayah dua orang putri ini langsung dikeroyok lalu dipaksa masuk ke dalam mobil, yang kemudian membawanya ke Kabupaten Pinrang.

Dalam perjalanan, Ia terus diintimidasi, dihadiahi bogem mentah berkali-kali. Dalam kondisi babak belur, ia menanyakan kesalahan apa yang telah  diperbuatnya hingga diperlakukan seperti itu. Lalu seorang menjelaskannya.

“Ah” Pikirnya kembali pada sebuah kasus penarikan mobil Kijang Expo keluaran tahun 1997 warna merah beberapa waktu lalu. Ia terpaksa melakukan hal tersebut dikarenakan pemilik mobil tidak melunasi cicilan mobil setahun lebih. Celakanya, mobil yang ditarik tersebut adalah milik salah seorang tokoh masyarakat di Pinrang, Andi Ampe.

Mobil yang membawanya, berhenti di sebuah lapangan sekira dua kilometer sebelum memasuki kota. Di sana pria berjenggot lebat ini disambut ribuan warga dengan amarah yang meluap. Tak sedikit diantara mereka yang menggenggam senjata tajam, seperti parang dan badik.

Di sana ia kembali dipukuli. Pelipisnya pun pecah dan mengeluarkan darah hingga berceceran mengotori kemeja putihnya.

Cerita berlanjut hingga ia diseret melalui pematang sawah, lalu ditawan pada sebuah rumah sawah. Ia bisa saja kabur saat itu, namun ia tak mengetahui area tersebut.

Beberapa jam berselang, datang anggota kepolisian mencarinya. Diutuslah seseorang untuk menjemputnya di rumah sawah. Namun ancaman masih saja mengalir untuknya. Beberapa warga mengancam akan membunuhnya bahkan memutilasi tubuhnya. Kasus itu akhirnya berlanjut hingga ke ranah hukum dan orang yang menjadi otak penganiyayah dirinya sempat ditahan namun tak cukup lama.

“Itulah pengalaman yang tidak bisa saya lupakan, ” kata Kurni, sapaan akrabnya. kelahiran  itu. Tentunya bukannya hanya hal berat yang pernah dilewati pria kelahiran, Jakarta, 24 Juni 1970. Dibalik semua itu, banyak pengalaman manis yang membuatnya bertahan dan tetap setia.

Selama bekerja ia pernah mendapat kehormatan untuk melakukan ibadah umrah dan ditanggung oleh perusahaan, dua kali. ” Kesempatan pertama saya taktisi dengan menambahkan uang hingga saya bisa pergi Haji bersama Istri, ” akunya.

Selain itu, pekerjaan sebagai Collector juga mempertemukannya dengan berbagai karakter nasabah yang berbeda-beda, serta mendapatkan kesempatan mengunjungi daerah-daerah di Indonesia dan memiliki banyak kenalan di luar daerah.

Belum lagi, rekan kerjanya di Kalla Group juga sangat welcome dan menganut sistem kekeluargaan dan saling menghargai. Hal itulah yang diyakininya tidak akan ia temui di perusahana-perusahan lain.

Selama karirnya, ia juga sempat menjabat posisi Supervisor Collector pada PT Amanah Finance pada tahun 2006. Namun ia kembali menjabat sebagai Collector pada tahun 2009. “Saya menganggap itu sebagai hukuman” katanya.

Sebenarnya pria yang hobi bermain voli ini juga sempat mendapatkan tawaran bekerja di beberapa perusahaan lain, namun ia menolaknya dengan alasan kecintaannya pada pekerjaannya saat ini. Sarjana Ekonomi AMKOP Makassar ini bahkan berharap dapat terus bekerja di Kalla Group hingga ia pensiun, dan melewati berbagai pengalaman mengesankan lainnya. (*)

Biodata
Nama; Kurniawan Jaya
TTL; Jakarta, 24 Juni 1970
Pekerjaan; Kolektor PT Amanah Finance
Pendidikan; S1 Ekonomi AMKOP Makassar

{azhar]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

16 − six =