Tentang Rasa Cinta

1
699

MediaKALLA.Com – Tiga hal yang membuat kita merasakan dan mampu mengukur “rasa cinta”, yaitu:

1) Perhatian
2) Perngorbanan
3) Rasa memiliki

==========================================

PERTAMA

Jika kita memiliki perhatian terhadap sesuatu, itu artinya kita telah menanamkan benih cinta kepada sesuatu tersebut. Sesuatu itu bisa benda atau manusia, atau yang lainnya. Termasuk dalam hal ini adalah Allah.

Sebagai contoh, ketika kita mencintai salah satu harta kita, motor misalnya. Maka perhatian kita pada motor tersebut tentu melebihi perhatian kita pada tas, sepatu, televisi, buku, atau yang lainnya. Tentu, kita akan memberikan perhatian khusus kepada motor kita tersebut. Kita membersihkannya setiap hari. Tidak cukup diusap memakai kain bekas, bahkan mencucinya setiap hari pun, tentu akan kita lakukan. Kita akan sering memikirkan motor tersebut. Misalnya, kita memikirkan bagaimana agar motor kita itu dimodifikasi seperti ini atau seperti yang lain. Ya, kita memikirkan motor kita, kita perhatian pada motor kita, itu karena kita mencintainya.

Begitu juga, ketika kita mencintai lawan jenis kita. Terlepas dari halal-haramnya, perhatian pun juga akan tertuju ke sana. Mencari-cari dimana dia berada. Kita memikirkannya setiap saat. Mengapa bisa begitu? Namanya juga perhatian. Tidak kelihatan sehari saja, kita kebingungan. Ada yang hilang sepertinya. Mengapa? Sekali lagi, namanya juga perhatian. Jika tidak kelihatan, perhatian ini akan diberikan kepada siapa? Bingung ‘kan?

KEDUA

Pengorbanan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang kita berikan kepada sesuatu yang kita miliki tersebut. Berapa banyak harta yang kita keluarkan untuk merawat motor kita sampai kinclong? Setiap bulan diganti oli, setiap minggu diservis, dan setiap hari dicuci. Begitu cintanya kita pada motor kesayangan, sampai-sampai berapa duit pun keluar, rasanya tidak menjadi masalah. Jika kita buat permisalan, sekali ganti oli membutuhkan dana 50 ribu, sekali servis membutuhkan biaya 35 ribu, dan sekali cuci motor 10 ribu. Dalam waktu satu bulan kira-kira biaya untuk merawat motor dengan cara di atas menghabiskan dana 460 ribu. Hanya buat motor saja, 460 ribu per bulan? Wow!

Bagi lawan jenis yang kita sukai, tentu pengorbanan bisa lebih besar lagi. Jika lawan jenis kemana-mana jalan kaki, maka kita pun pasti memikirkan bagaimana caranya membelikannya sepeda ontel. Jika sudah memakai sepeda ontel, tetapi masih kecapekan juga, motor pun dibelikan. Begitu seterusnya. Mengapa bisa begitu? Ya, namanya juga pengorbanan. Walaupun dompet kosong melompong, kalau sudah datang malam minggu, saatnya ngapel. Jalan kaki pun tidak masalah walaupun jarak rumahnya 5 kilometer. Luar biasa bukan? Namanya juga pengorbanan. Apa pun akan ditempuh.

KETIGA

Rasa memiliki adalah perasaan ingin mempertahankan keberadaan sesuatu yang kita cintai dari gangguan apapun yang akan menghalangi eksistensi sesuatu tersebut. Rasa memiliki juga bisa berarti perasaan ingin melindungi. Ketika rasa memiliki kita terhadap motor begitu menguat, maka hal apapun kita lakukan untuk melindunginya.

Suatu ketika mungkin kita sedang berbelanja di sebuah toko atau pasar. Sudah ada tukang parkir yang mengamankan motor kita. Tetapi rupanya belum cukup. Takut motor hilang, rantai besar pun dibawa untuk mengikat roda motor kita dengan sesuatu. Tidak hanya itu, bel motor tanda ada maling pun dipasang di berbagai sudut motor. Suaranya dikeraskan biar terdengar jika ada pencuri yang mengambilnya, dan kita bisa segera menyelamatkan motor kita tentunya. Luar biasa bukan? Mengapa semua itu bisa dilakukan demi sebuah motor? Yaitu karena rasa memiliki kita kepada motor tersebut sangat kuat. Kita tidak ingin motor kita hilang, bahkan lecet sedikit pun.

Begitu juga ketika kita menyukai lawan jenis hingga mempunyai rasa memiliki terhadapnya. Karena merasa lawan jenis itu milik kita, maka kita pun berusaha untuk melindunginya. Kita pun menjaganya agar dia selalu mencintai kita, tidak mencintai orang lain. Segala upaya ditempuh agar dia tetap mencintai kita. Kita berikan dia baju baru. Setiap kali mau makan di-SMS, diingatkan untuk makan. Setiap malam minggu diajak ke restoran. Minimal makan di luar-lah. Warung bakmi juga tidak masalah, asal dia tetap cinta kita, tetap merasa diperhatikan kita.

Coba terapkan semua itu kepada Allah dan kepada perjuangan ini. Perhatian kepada Allah, berkorban untuk Allah, dan punya rasa memiliki akan Allah (tidak mau kehilangan Allah). Dan lihat serta rasakan apa yang terjadi. (*)

sumber: Ust. Agus Trisa

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.