SYUKUR NIKMAT KEMERDEKAAN

0
574

MEdiaKALLA.com – Cinta tanah air adalah naluri manusia, cinta kepada tempat dimana dia lahir dan dibesarkan adalah fitrah. Karena itu, Cinta tanah air adalah manifestasi dari iman (Hubbul Wathan minal iman). Cinta  tanah air,  bangsa dan negaranya adalah manifestasi iman bukan sekedar sebagian dari iman. Jadi bila tidak ada cinta kepada tanah air, kepada bangsanya maka tidak ada iman di dalam dadanya. Ciri-ciri ada iman adalah cinta kepada tanah airnya.

“Engkau, wahai kota Mekkah adalah negeri yang paling saya cintai”, sabda Nabi ketika hijrah ke Madinah.

Orang yang tidak mencintai tanah airnya boleh kita sebut sebagai pengkhianat. Orang yang beriman menempatkan negara di tempat yang tinggi. Karena tempatnya yang tinggi ini, oleh Allah, tanah air disejajarkan dengan agama. Perhatikan firman Allah berikut :

Laa yanHaakumullaahu ‘anilladziina lam yuqaatiluukum fiddiini wa lam yukhrijuukum min diyaarikum an tabarruuhum wa tuqsithuuu ‘ilaihim innallaaha yuhibbul muqsithiin

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. 60:8).

Selama orang-orang non-muslim bersahabat dengan kita, maka kita dapat hidup berdampingan dengan mereka, bahkan harta dan jiwa mereka dalam jaminan Nabi. “Barangsiapa yang mengganggu mereka,  maka telah menggangguku”, sabda Nabi.
Namun begitu musuh masuk ke negara kita dan mengusir kita dari tempat tinggal kita, maka tidak ada kata lain, no way, kita harus bangkit, yang mati karenanya adalah syahid. Seandainya leluhur kita tidak berjuang dahulu maka kita tidak akan seperti sekarang ini.

Nah, keberadaan dan kemerdekaan yang kita rasakan saat ini wajib kita syukuri, karena kemerdekaan adalah salah satu nikmat yang besar dianugerahkan kepada kita. Bagaimana kita mengingat kenikmatan kemerdekaan ini ? Kita kenang perjuangan para leluhur kita, kita ingat cita-cita perjuangan mereka, kita kenang jasa-jasa mereka.

Tsumma latus alunna yau maidzin ‘aninn na’iim

‘kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu (akhirat) tentang kenikmatan yang kamu dapatkan” (QS. 102:8).

Bagaimana agar kita bisa mengetahui bahwa kemerdekaan itu berupa nikmat ? Kita akan baru sadar arti sebuah kemerdekaan apabila dibandingkan dengan Negara-negara yang sedang direnggut kemerdekaannya, seperti yang dialami Irak, Afghanistan, sekarang ini. Bayangkan kalau Negara kita masih dikuasai oleh bangsa lain.

Kemerdekaan adalah kita dapat dengan bebas mengatur negara kita sendiri, lalu dari kebebasan mengatur ini akan keluarlah beberapa peraturan yang kita ciptakan sendiri, dan kita mengikatkan diri dengan peraturan-peraturan tersebut dalam rangka kebahagiaan bersama. Manifestasi dari mensyukuri kemerdekaan adalah dengan cara melaksanakan peraturan-peraturan yang telah dibuat  tersebut guna mencapai kebahagiaan bersama. Negara kita menyimpan segudang materi dan sumber daya alam yang luar biasa, yang bahkan orang-orang lain menyebutnya, Indonesia sebagai bagian kecil dari taman-taman surga.

Kita pun bisa belajar dari negara kita sendiri, karena negara kita mengandung juga makna-makna yang dalam. Seperti di negeri kita, tumbuh berdampingan antara pohon besar dan rumput di sekitarnya. Kita bisa mengambil pelajaran bahwa rumput kecil bisa hidup berdampingan dengan pohon besar tanpa merasa khawatir tidak kebagian rizki. Pohon besarpun melindungi rumput dari panas terik dan angin besar. Kalau pohon dan rumput bisa demikian, seharusnya antara rakyat kecil dan para pengusaha besar dan pejabat dapat hidup berdampingan dan saling membantu.

Mensyukuri adalah menggunakan anugerah nikmat sesuai dengan tujuan anugerah itu diberikan. Seperti misalkan kita diberi peci, maka mensyukurinya adalah peci itu digunakan, dan harus diletakkan di kepala, bukan untuk menggosok sepatu. Mensyukuri kemerdekaan adalah demikian juga, harus sesuai dengan cita-cita kemerdekaan itu sendiri, yaitu bisa mengelola negara dan bangsa sendiri seoptimal dan sebaik mungkin.

Kita punya laut, punya ikan-ikannya, mutiaranya.. berapa banyak ikan yang bisa kita tangkap ? berapa banyak mutiara yang baru diambil ? Masih sangat sedikit. Boleh jadi Jepang lebih mensyukuri pemberian negaranya.

“Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.” (QS. 16:14).

Kemerdekaan bukanlah kebebasan yang mutlak karena kebebasan yang mutlak  bisa  menyebabkan kerusakan yang mutlak pula. Karena itu, kemerdekaan mengandung batas-batas karena kalau tidak kita akan mudah dijajah. Penjajahan tidak lagi seperti dahulu berupa invasi pasukan, karena memakan biaya sangat boros di sisi penjajah, tapi penjajahan akan masuk pada sektor-sektor pendidikan, ekonomi, penjajahan di bidang ilmu dan teknologi dan lain-lain.

Jika kita bersyukur  terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah, maka janji Allah akan menambah nikmat tersebut. Kita bersyukur bukan hanya memenuhinya dengan mengucapkan ‘alhamdulillah’ tapi harus dibarengi pula dengan bekerja keras, bekerja  dengan giat memanfaatkan semua nikmat sesuai dengan fungsinya dan menggali potensi-potensi nikmat yang belum tergali dan termanfaatkan.

[Dari berbagai sumber]

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group [/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.