STRATEGI PROYEK DALAM PENYELESAIAN PEKERJAAN

0
1264

Proyek kontruksi adalah kegiatan dengan kompleksitas yang tinggi, setiap pekerjaan akan terkait satu dengan yang lain sehingga kesalahan koneksitas pekerjaan bisa berdampak terhadap terlambatnya pekerjaan secara keseluruhan. Untuk itu, Penetapkan strategis pelaksanaan harus berdasar pada manajemen resiko terhadap potensi-potensi penyebab keterlambatan pekerjaan antara lain:

? Keterlambatan terkait material
? Keterlambatan terkait tenaga kerja
? Keterlambatan terkait peralatan
? Perencanaan yang tidak sesuai
? Lemahnya kontrol waktu proyek
? Keterlambatan Subkontraktor
? Koordinasi yang lemah
? Pengawasan yang tidak memadai
? Metode pelaksanaan yang tidak sesuai
? Kurangnya personil secara teknikal
? Komunikasi yang lemah

Managemen resiko terhadap potensi-potensi penyebab keterlambatan dapat memaksimalkan potensi tim proyek dalam menyelesaikan proyek sebelum masa kontrak berakhir, termasuk didalamnya sistem PDCA. Aplikasi manajemen resiko yang dijabarkan dengan strategi respon resiko, yang diterapkan berdasarkan perioritas terhadap penyebab utama keterlambatan dapat
dibagi menjadi beberapa strategi percepatan, seperti:

1. Manajerial
Manajerial harus menetapkan jalur kritis proyek. Penetapan jalur kritis dapat memberikan ruang pada tim proyek untuk membuat metode pelaksanaan yang mempertimbangkan aspek teknis, manajemen sumber daya (manusia, alat dan lingkungan), manajemen subkontraktor, mengatur sistem keuangan dan memfokuskan pekerjaan untuk pencapaian target. Serta mengupdate informasi

terkait jalur kritis, memonitoring dan melakukan tindakan antisipasi dini atas masalah yang mungkin muncul. Majerial juga berfungsi untuk memberi motivasi yang kuat kepada tim proyek dalam usaha pencapaian target, serta
mengawasi pelaksanaan pekerjaan yang safety.

2. Lingkup Pekerjaan
Pengorganisiran lingkup pekerjaan terkait dengan spesifikasi pekerjaaan, BOQ, dan gambar dengan lebih detail dapat meminimalkan adanya perubahan lingkup pekerjaan yang kemungkinan bisa merubah metode pekerjaan secara
keseluruhan sehingga menyulitkan tim dalam pencapaian target.

3. Kontrak
Melakukan monitoring harian penyebab-penyebab keterlambatan yang secara kontraktual dapat menjadi dasar perpanjangan waktu (Addendum waktu) serta melakukan komunikasi yang aktif terhadap pihak Owner.

4. Lintasan kritis
Penetapan lintasan kritis pekerjaan dapat memberikan antisipasi dini untuk pengelolaan sumberdaya yang terfokus pada pekerjaan yang berada pada lintasan kritis. Strategi yang terfokus pada lintasan kritis meminimalkan pada keterlampatan pekerjaan yang tergantung pada pekerjaan lintasan kritis tersebut. Strategi lain adalah mengupayakan pengurangan jumlah durasi
lintasan kritis atau menggabungkan dua atau lebih lintasan kritis dengan sistem managemen pelaksanaan pekerjaan.

5. Metode pelaksanaan
Aktif dalam menemukan metode pekerjaan yang lebih efektif dan efisien serta mengevaluasi dengan berkala kesesuaian metode kerja yang ada. Review design dapat juga dilaksanakan untuk memmperoleh desaign yang efektif tanpa mengurangi kehandalan fungsi design.

6. Pengelolaan lingkungan kerja
Penataan lingkungan kerja dan evaluasi berkala dapat membantu melancarkan pekerjaan dengan pengefektifan alur proses pekerjaan.

7. Manajemen tenaga kerja
Manajemen tenaga kerja dapat dilakukan dengan memonitor tingkat disiplin pekerja, pengaktifan komunikasi yang efektif, traning secara berkala serta penyiapan fasilitas-fasilitas yang membantu karyawan dalam proses pekerjaan dan kesejahteraan karyawan.

8. Suplai material
Managemen persediaan dan dilevery harus diaktifkan oleh tim proyek untuk mendukung ketersediaan suplai material khususnya material pekerjaan yang masuk ke dalam lintasan kritis. Strategi lain yang bisa dilaksanakan dengan menetapkan lebih dari satu supplier untuk melayani pengadaan satu jenis material dengan tetap memperhatikan ketersedian dana.

9. Manajemen alat
Manajemen peralatan dilakukan dengan pengelolaan peralatan yang baik yaitu menjamin ketersediaan alat yang cukup, perawatan yang berkala, penyediaan suku cadang yang memadai dan penggantian peralatan dengan kapasitas yang lebih besar untuk enjamin tercapainya target lintasan kritis.

10. Manajemen subkontraktor
Manajemen subkontraktor juga perlu dilaksanakan untuk mengantisipasi ketidak sanggupan subkontraktor untuk menyelesaikan pekerjaan dengan pengambil alihan pekerjaan, pengurangan atau penyelesaian masalah yang menghambat pekerjaan subkontraktor. Pelaksanaan pekerjaan dengan manajemen resiko yang baik terhadap 10 (sepuluh) faktor diatas dapat mendorong penyelesaian pekerjaan lebih cepat dari waktu kontrak.

Penulis : Muhammad Idris, ST
Pekerjaan : Staf Purchasing department procurement PT. Bumi Karsa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five − 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.