Solusi Inflasi Pak Kiai …

0
515

” Bila kemakmuran benar-benar hadir di negeri ini – ingat bahwa ini adalah hasil kerja seluruh rakyat dan untuk dikembalikan ke seluruh rakyat pula, bukan keberhasilan partai atau golongan. ”  Oleh Muhaimin Iqbal 

SEBAGAIMANA ‘mimpi-mimpi’ saya sebelumnya (30/07/2012 dan 21/05/2013), kali ini saya ‘bermimpi’ kembali Pak Kiai diundang untuk hadir di sidang kabinet. Seperti juga pada sidang-sidang sebelumnya, Pak Kiai diminta masukannya untuk ikut mengatasi masalah – yang tidak terselesaikan dengan cara konvensional. Kali ini masalah tersebut adalah membubung tingginya inflasi bahan-bahan pangan pasca kenaikan harga BBM.

Ketika para menteri terkait menjelaskan panjang lebar permasalahan harga daging, bawang, cabe dlsb., Pak Kiai menyimak dengan seksama – sambil sekali-sekali membuka kitab yang sengaja dibawanya.

Betul, Pak Kiai sengaja membawa kitab referensinya – berupa kitab-kitab hadits – untuk make sure solusi yang akan disampaikannya nanti memiliki dasar yang kuat. Referensi utamanya tentu saja al-Qur’an, tetapi karena yang ini seharusnya sudah ada di ruang sidang kabinet – pikir Pak Kiai – maka dia tidak perlu membawanya sendiri.

Setelah menteri-menteri terkait menjelaskan permasalahannya, dan juga ditanggapi oleh menteri yang lain – Presiden-pun berbicara ke Pak Kiai sambil menyimpulkan ringkas – apa yang sedang terjadi:

“Demikianlah Pak Kiai, permasalahan yang kini sedang dihadapi negeri ini. Terus terang saya kurang puas dengan penyelesaian konvensional dari masalah yang terus berulang ini”. Kemudian beliau melanjutkan; “Untuk itulah Pak Kiai kami undang kembali, agar ada pencerahan dalam penyelesaian urusan pangan bagi bangsa ini.”

Setelah diberi kesempatan bicara, Pak Kiai-pun langsung menyambutnya: “Pertama-tama saya mohon maaf pada Bapak Presiden dan para menteri terkait, saya mohon dengan sangat – jangan lagi ada yang menyalahkan bulan Ramadhan sebagai kambing hitam untuk inflasi. Bulan Ramadhan seharusnya menjadi berkah bagi negeri ini dan penduduknya, bukan menjadi penyebab inflasi!.”

Presiden dan para menteri mengangguk-angguk – tanda persetujuannya. Kemudian Pak Kiai melanjutkan: “Setelah kita mengakui bahwa masalah inflasi ini bukan karena bulan Ramadhan, maka kini kita bisa dengan hati yang bersih mencari apa penyebab yang sesungguhnya dan juga kemudian penyelesaiannya.”

“Saya melihat rumitnya masalah yang dihadapi dan solusi yang sudah ditawarkan para menteri nampak tidak memadai, mohon maaf saya berpendapat masalah ini tidak bisa diatasi oleh yang ada di ruang ini!”

Sempat ada kegaduhan sedikit setelah ungkapan pak Kiai yang ceplas-ceplos seperti biasanya ini, tetapi Presiden langsung menengahi: “Apa maksud Pak Kiai bahwa masalah ini tidak bisa diatasi oleh yang ada di ruang ini?”. Pak Kiai-pun menjelaskan, “Mohon maaf Bapak Presiden, bukan berarti meng-arti kecilkan semua yang ada di ruang sidang ini – tetapi penyelesaian masalah ini harus melibatkan seluruh penduduk negeri ini.”

Seorang menteri langsung salah paham dan meng-interupsi: “Maaf Pak Kiai, apa maksudnya dengan melibatkan seluruh penduduk ?, apakah Pak Kiai memandang kami tidak mampu lagi terus harus ada Pemilu lagi begitu?”

Pak Kiai yang suka guyon berusaha mencairkan suasana: “Oh tidak-tidak Pak Menteri, sama sekali bukan itu maksud saya. Tetapi masalah inflasi ini menurut saya penyebabnya bukan masalah produksi yang tidak cukup di dalam negeri sehingga bapak-bapak putuskan impor saja, apalagi jelas juga bukan karena bulan Ramadhan. Masalahnya adalah karena kita mengabaikan satu faktor yang sangat penting – yaitu keberkahan dalam ekonomi kita.”

Sebelum ada yang memotong lagi, pak Kiai langsung melanjutkan: “Nah untuk keberkahan inilah bapak-bapak di ruang ini tidak cukup menghadirkan keberkahan itu tanpa melibatkan penduduk negeri ini.” Kemudian Pak Kiai membacakan Ayat 96 dari surat Al-A’raf dan kemudian mengartikannya:

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Kemudian Pak Kiai menyimpulkan: “Dari ayat tersebut bapak-bapak dapat melihat sekarang, bahwa bukan kita yang ada di ruang sidang ini yang bisa menghadirkan keberkahan bagi negeri ini – tetapi penduduk negeri ini yang tentu saja termasuk didalamnya kita-kita.”

Para menteri yang nampak belum puas dengan penjelasan ini, ada diantaranya yang tidak malu untuk menyampaikan ke-belum-pahamannya: “Tapi Pak Kiai, lantas apa hubungannya keberkahan ini dengan masalah kongkrit yang kini kita hadapi? Yaitu masalah melonjaknya harga-harga bahan pangan?”

Pak Kiai yang suka guyon dan suka bercerita ini ingin menjadikan suasana sidang santai, maka dia akan menjawab pertanyaan tersebut dengan sebuah cerita. Tetapi cerita ini diambilkan dari kisah nyata yang terungkap dalam sebuah hadits Shahih Bukhari – yang dari tadi dibolak-balik Pak Kiai ketika sambil mendengarkan uraian masalah yang disampaikan para menteri.

“Begini bapak-bapak, dalam suatu perjalanan perang – perbekalan kaum Muslimin menipis, mereka kekurangan air dan makanan, lalu mereka mendatangi Nabi Shallallahu ‘ Alaihi Wasallam meminta ijin untuk menyembelih unta mereka, beliaupun mengijinkan. Lalu ‘Umar datang menemui mereka dan mereka mengabari hal itu padanya, kemudian ‘Umar berkata : “Apakah Ada lagi bekal kalian setelah unta kalian habis?”

“Karena tidak mendapatkan jawaban yang diharapkan dari pasukan yang ditanyanya, lalu ‘Umar menemui nabi Shlallallahu ‘Alaih Wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, apakah mereka dapat bertahan hidup setelah mereka menyembelih unta mereka?” Rasulullah nampaknya langsung paham dengan pertanyaan ‘Umar ini.”

“Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-pun berkata : “Panggillah orang-orang agar mereka membawa sisa-sisa bekal makanan mereka kemari”. Kemudian beliau berdo’a, lalu beliau memanggil seluruh pasukan agar membawa bejana mereka masing-masing. Seluruh pasukan-pun mengambil bagiannya masing-masing hingga mereka mendapatkan bagian perbekalan semua, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan aku adalah Rasulullah”.

Pak Kiai ingin menekankan pesan penting yang dibawa dari cerita tersebut dengan bertanya kepada yang ada di ruang sidang : “Apakah bapak-bapak tahu, apa yang dimohonkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam do’anya tadi sehingga perbekalan yang nyaris habis, kembali cukup untuk semua?”.

Karena tidak ada yang menjawab, Pak Kiai yang mengamati wajah para menteri yang penasaran satu persatu kemudian menjawab sendiri pertanyaannya : “Isi do’a Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut adalah memohon berkah !, maka ketika permohonan berkah ini kemudian dikabulkan oleh Allah – perbekalan yang sedikit, yang nyaris habis-pun kembali cukup untuk seluruh pasukan”.

Masih ada juga menteri yang belum paham, dia menyela : “lantas menurut Pak Kiai apakah kita cukup berdo’a memohon berkah untuk mengatasi masalah pelik inflasi yang terus meninggi ini?”.

Sambil tersenyum penuh kepahaman, Pak Kiai menjawab : “Oh tentu saja tidak pak menteri, solusinya tentu tidak hanya berdo’a. Coba perhatikan urut-urutan cerita saya tadi : Pertama beliau mendengarkan usulan/masukan dari pasukan atau rakyatnya dan kemudian beliau juga menerima masukan dari sahabat utama beliau yaitu ‘Umar – yang terkenal dengan ketajaman visinya. Kedua beliau melibatkan rakyat untuk berkontribusi dengan yang dimilikinya meskipun sedikit. Ketiga baru beliau berdo’a memohonkan berkah dari Allah. Keempat ketika keberkahan itu terkabul, hasilnya dikembalikan semua untuk rakyat atau pasukannya. Dan kelima beliau menggunakan solusi ini untuk menguatkan keimanan dengan mengucapkan kalimat sahadah.”

“Lima langkah yang terungkap dalam cerita tersebut diatas-lah solusi bagi inflasi negeri ini bapak Presiden dan para menteri !” Demikian penutup cerita Pak Kiai.

Dengan kata penutup dari Pak Kiai tersebut, nampaknya Presiden ingin meyakinkan agar para menterinya paham dengan masukan Pak Kiai: “Untuk memudahkan para menteri menjabarkan lima poin Pak Kiai tadi dalam program kerja departemen atau kementerian masing-masing, bisa tolong Pak Kiai ulangi lagi yang lima poin tadi?”

Pak Kiai-pun menjawab: “ Baik bapak Presiden, saya ulangi dan perjelas lima poin tadi dalam bahasa operasional – agar lebih mudah ditindak lanjut oleh bapak-bapak para menteri:

Pertama dengarkan suara rakyat yang sesungguhnya, apa yang mereka rasakan, apa yang mereka inginkan, atau bahkan juga solusi apa yang mereka pikirkan. Dengarkan pula masukan para ahli dibidangnya. Maksudnya adalah dalam setiap pengambilan kebijakan, para menteri harus sebanyak mungkin mendengarkan masukan-masukan ini.

Kedua, jangan under estimate apa yang mampu diproduksi oleh rakyat kita sendiri. Jangan ujug-ujug mengambil solusi impor lagi dan lagi sebelum seluruh potensi yang ada di dalam negeri di elaborasi secara tuntas. Tidak masuk di akal kita di negeri yang subur ini solusi pengatasan problem pangannya harus impor terus.

Ketiga, banyak-banyaklah berdo’a untuk keberkahan negeri ini, tetapi selain berdo’a untuk menghadirkan keberkahan – jangan lupa penuhi syaratnya untuk terbukanya berkah itu sendiri seperti yang terungkap di surat 7 ayat 96 tadi – yaitu tingkatkan terus keimanan dan ketakwaan penduduk negeri ini.

Keempat, bila kemakmuran benar-benar hadir di negeri ini – ingat bahwa ini adalah hasil kerja seluruh rakyat dan untuk dikembalikan ke seluruh rakyat pula, bukan keberhasilan partai atau golongan tertentu – dan jelas pula bahwa kemakmuran bukan hanya untuk golongan elit tertentu.

Kelima, ingatkan terus menerus agar penduduk negeri ini senantiasa meningkatkan aqidahnya – jangan sampai kemusyrikan tumbuh di negeri ini. Ingat bahwa yang bisa membuka berkah dari langit dan dari bumi adalah keimanan dan ketakwaan penduduk negeri ini, maka jangan sampai iman dan takwa ini terkikis dari negeri ini oleh maraknya kemusyrikan dalam berbagai bentuknya.”

Setelah Pak Kiai menyampaikan hal tersebut, semua peserta sidang nampak manggut-manggut mengisyaratkan kepahamannya. Dan saya terbangun dari ‘mimpi’ ini. Wa Allahu A’lam. (*)

{ Ashabul Kahfi }

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × five =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.