Siapkah generasi milenial menjadi nahkoda perusahaannya?

0
234

MediaKALLA.co.id – Generasi Milenial (1980-2000) kini mengisi dan memberi warna di perusahaan. Kesadaran penuh bahwa mereka lah yang akan menjadi pemangku kepentingan (stakeholder) di perusahan nampaknya perlu disosialisasikan secara berkelanjutan. Hal tersebut penting karena satu-satunya yang dapat diprediksi dimasa depan ialah perkembangan teknologi yang sangat pesat. Saking pesatnya kita bahkan tidak pernah menyangka bahwa teknologi yang kita prediksikan hadir 10 tahun yang akan datang telah hadir saat ini. Bahkan yang lebih parah lagi, beberapa teknologi yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya kini telah dipasarkan bebas.

Pada bisnis Parking Services, sudah sering kita temui perparkiran yang tidak lagi meletakkan petugas pencatat nomor polisi kendaraan di pintu masuknya. Parking management hanya meletakkan kamera dan mesin karcis. Pada bisnis otomotif, telah hadir mobil tanpa pengemudi. Sehingga pemiliknya dapat melakukan pekerjaan kantornya bahkan ketika masih diperjalanan menuju kantor. Inilah beberapa contoh tantangan yang akan dihadapi oleh generasi milenial, yaitu Artificial Intelligence atau Kecerdasan Buatan. Segala pekerjaan manusia yang dapat dikerjakan oleh robot akan terus diciptakan melalui serangkaian inovasi. Secara langsung ataupun tidak langsung, setiap inovasi tersebut mengubah gaya hidup manusia.

Hakikat penciptaan AI (Artificial Intelligence) tidak untuk menggantikan manusia melainkan mendukung pekerjaannya. Jika sebelumnya ia hanya dapat mengerjakan satu pekerjaan, maka kini ia dapat mengerjakan tiga atau empat pekerjaan berkat AI. Sehingga rasanya wajar bila perkembangan bisnis kedepannya terjadi dengan sangat pesat. Hal yang perlu dikritisi ialah mampukah kita menghadapinya? kompetensi apa yang dibutuhkan generasi milenial agar siap menjadi pemangku kepentingan di perusahaannya?

Sharing session yang diinisiasi Learning Center Kalla Group di Amply Theater Wisma Kalla lantai 1, Kamis, 31 Agustus 2017 yang lalu menjadi langkah awal untuk bergerak bersama. Saling memacu diri bahwa kita tidak lagi dituntut mengerjakan pekerjaan rutin, tapi juga terus melakukan inovasi yang dapat mendukung pekerjaan rutin tersebut bahkan memunculkan ide untuk pengembangan bisnis selanjutnya.

Sharing session yang diikuti 30 orang yang berusia 30 tahun ke bawah ini juga mengungkap beberapa kompetensi yang perlu dimiliki generasi milenial di dunia kerja kedepannya, diantaranya: IT Integrated, Global Mindset, Multitasking & Flexibility, Collaboration, dan Creative & Visioning Thinking.

Setiap generasi millennial diharapkan mampu mengintegrasi IT dilingkup pekerjaannya. Kompetensi minimal yang harus dimiliki ialah mampu untuk mengoprasikan teknologi yang ada. Kompetensi ini dapat optimal ketika ia telah mampu memunculkan ide bahkan membuat terobosan dengan membuat teknologi baru yang dapat menunjang pekerjaannya.

Selanjutnya Global Mindset. Tanpa Global mindset sulit rasanya untuk dapat maju. Pemimpin kedepannya perlu untuk menghargai bahkan memanfaatkan multikultural yang ada. Bisa jadi rekan kerja kita nantinya merupakan warga negara asing. Perbedaan latar belakang budaya, kepercayaan, ideologi dll perlu dipahami karena bisa saja masing-masing individu akan mempersepsikan makna yang berbeda dari informasi yang sama. Jika tidak memiliki global mindset yang baik, nampaknya sulit untuk mengembangkan organisasi sedangkan perbedaan pendapat yang terjadi dilingkup kerjanya saja masih sulit diselesaikan. Pada dasarnya ini dapat dikembangkan melalui pengetahuan yang mendalam tentang multikultural. Kompetensi ini juga dapat dioptimalkan dengan melihat potensi pasar melalui global mindset.

Multitasking dan Fleksibilitas. Kedua kata tersebut tidak dapat dipisahkan. Sederhanya, multitasking adalah melakukan dua atau lebih pekerjaan sekaligus dalam satu waktu. sedangkan fleksibilitas adalah kemampuan untuk dapat beradaptasi dan tetap bekerja secara efektif efisien meskipun pada situasi yang berbeda. Sehingga multitasking perlu didukung oleh fleksibilitas yang baik. Kompetensi ini sangat perlu dimiliki oleh generasi milenial. Teknologi yang ada telah siap mendukung hal ini. Hal penting yang menjadi perhatian ialah bagaimana seseorang mampu mindsetting. Ia harus mampu memetakan jenis pekerjaannya secara simultan.

Kolaborasi. Tidak ada perusahaan yang maju hanya karena kemampuan murni dari pemimpinnya, yang ada ialah ia maju bersama bawahannya. Teknologi IT yang akan diintegrasikan dilingkup pekerjaan perlu didukung oleh programmer, robotik, dstnya. Gagasan kita tentang teknologi yang akan kita ciptakan guna mendukung pekerjaan kita, tidak dapat terealisasi atau hanya menjadi angan-angan jika tidak berkolaborasi dengan programmer, robotik, dstnya. Tidak hanya itu, kolaborasi harus terjalin diseluruh unit bisnis. Organisasi adalah sistem yang rumit bila tidak terjalin kolaborasi yang baik. Dampak yang lebih buruk ialah terjadinya bottle neck dan efek domino pada perusahaan.

Terakhir, yaitu creative & visioning thinking. Setiap generasi milenial diharapkan mampu untuk berpikir kreatif. Perusahaan tidak pernah menginginkan menjadi follower abadi perusahaan lain. Perusahaan ingin menjadi leader bagi perusahaan lain. Hal itu hanya dapat dicapai jika nantinya stakeholder mampu kreatif melihat peluang serta menyiapkan langkah antisipatif dalam menghadapi hambatan dan tantangan yang ada.

Keyakinan bahwa setiap hari manusia belajar adalah hal yang mutlak, sekecil apapun yang ia perbaiki merupakan hasil belajarnya. Namun tuntutan bagi generasi milenial kedepannya tidak hanya itu. Ia tidak lagi dituntut untuk memperbaiki masa lalunya melainkan menciptakan masa depannya. Ia diharapkan mampu berdiri satu menit lebih cepat dari waktu saat ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five + 7 =