Shalat Tarawih Rasul dan Sahabat

0
641

MEdiaKALLA.com – Ramadhan adalah bulan implementasi totalitas ibadah sepanjang siang dan malam. Ibadah tersebut mulai dari puasa di siang hari, banyak melakukan kebaikan, membaca Al Quran, sedekah, shalat tahajud, shalat tarawih, shalat witir, zikir, dan sebagainya.

Di masjid dekat rumah tinggal penulis, cukup mengakomodir pluralisme.  Pasalnya shalat tarawih yang dilaksanakan di masjid ini  ada dua gelombang. Untuk gelombang pertama dengan bilangan rokaat delapan plus witir tiga rokaat. Gelombang berikutnya adalah shalat tarawih dengan bilangan rokaat 20 plus  tiga rokaat witir.

Secara teknis pada rokaat pertama sampai rokaat ke delapan semua jamaah ikut serta sebagai makmum. Selanjutnya saat witir sebagian makmum yang ingin melaksanakan shalat tarawih dengan 20 rokaat istirahat terlebih dahulu. Usai shalat witir, imam   pertama digantikan oleh orang lain, sementara yang bersangkutan dan jamaah yang tadi bermakmum dengan beliau berpamitan pulang. Dalam pada itu, jamaah dengan niat tarawih 20 rokaat memulai kembali shalat tarawihnya dengan imam baru. ereka shalat hingga ditutup dengan witir.

Inilah salah satu bentuk pemahaman dan penghargaan dari pluralisme. Meski melaksanaan shalat tarawih pada bilangan rokaat berbeda, tetapi mereka tidak pernah merasa harus merasa beda iman lalu saling mengolok dan mencemooh, apalagi berakhir pada pertikaian.

Suami, istri, orang tua, mertua, anak, ponakan, tetangga, semua bebas menentukan berapa bilangan rokaat terawih yang akan dilaksanakan malam itu.Sebaiknya kita sebagai umat Islam memang tak perlu mempersoalkan perbedaan tersebut. Kita justru harus mempersoalkan terhadap orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan, tetapi tidak melaksanakan shalat tarawih.

Tentang shalat tarawih di bulan Ramadhan kedudukannya sama dengan shalat malam yang sering difirmankan Allah SWT di dalam Al Quran. Dijelaskan keutamaan dan kedudukannya yang sangat istimewa, setiap pelakunya layak mendapatkan pujian dan sanjungan dari allah dan para malaikatnya.

Dalam sebuah hadits shahih yang diuraikan oleh Imam Muslim, mengenai hal tersebut Rasulullah SAW bersabda, “Shalat paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’i). Shalat tarawih adalah bagian dari shalat malam di bulan Ramadhan. Hukum dari shalat tarawih sendiri adalah sunah muakkadah, sunah yang sangat dianjurkan.

Imam Buhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad di masa hidupnya pernah melaksanakan shalat tarawih di hari pertama puasa Ramadhan dengan berjamaah di masjid. Begitu juga di hari kedua dan ketiga. Lalu di hari keempat beliau tidak melakukannya di masjid. Pada keesokan harinya beliau bersabda, “Aku tahu apa yang kalian lakukan (semalam). Tidak ada sesuatu yang menghalangiku untuk menemui kalian, kecuali karena aku khawatir shalat ini akan diwajibkan atas kalian.”

Apa yang diajarkan Rashulullah tentang shalat terawih dengan peristiwa di atas? Beliau menginginkan umatnya memahami, bahwa shalat tarawih itu sunah dan boleh dilakukan di masjid maupun di rumah. Boleh juga dilakukan dengan berjamaah maupun sendirian.

Shalat tarawih sendiri benar-benar dilakukan berjamaah selama bulan Ramadhan setelah Rasulullah wafat. Pasalnya di satu malam tepatnya di bulan Ramadhan, Khalifrah Umar Ibnul Khathab melihat umat muslim di masjid melakukan shalat tarawih dengan kondisi tak  nyaman di penglihatannya. Mereka ada yang shalat sendiri-sendiri, ada juga yang shalat berjamaah dalam kelompok-kelompok kecil. Melihat hal tersebut Umar mempertegas, agar mereka terhimpun dalam satu jamaah dan menunjuk Ubai bin Ka’ab  sebagai imam. Sejak inilah dan dengan alasan tersebut, maka shalat tarawih dilakukan berjamaah di masjid.

Shalat tarawih yang dicontohkan Rasulullah dan Umar serta Ubai antara lain dengan thumaninah, tenang, khusuk, dan pelan-pelan. Bahkan mereka melakukannya dengan bacaan-bacaan yang panjang.

Pertanyaaannya sekarang adalah bagaimana shalat tarawih kita? Sudahkah seperti mereka? Semoga kita melakukannya dengan thumaninah dan pelan-pelan. Mengingat dalam hal ini para jamaah di mana pun masih cenderung menyukai shalat tarawih dengan imam yang melakukan bacaan surahnya pendek-pendek dan dengan tingkat bacaan yang ekspres. Bila kita masih menyukai shalat tarawih yang demikian, maka marilah kita kembali mencontoh cara shalat tarawih yang dicontohkan Rasulullah dan para sahabat, thumaninah, pelanpelan, dan khusuk.

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/07/download.jpg” ]Edi Sutarto : Direktur Sekolah Islam Athirah[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

20 − eight =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.