Sepak Bola dan Isra’ Mi’raj

0
1305

“Jika saya yang menjadi Muhammad, saat dakwah ditentang, kesedihan menerjang dan dukungan tidak berkembang. Tentu saya tidak akan kembali lagi ke bumi saat sudah naik ke langit yang ketujuh bertemu langsung dengan Allah. Tapi kenapa Muhammad masih mau turun ke bumi? “ Demikian kira-kira ungkapan seorang penyair terkenal, Muhammad Iqbal. Peristiwa isra’ mi’raj memang banyak dikaji dan dicari hikmahnya. Salah satu pelajaran menariknya yaitu teladan Rasulullah untuk berani menghadapi tantangan, tidak lari dari masalah.

Seorang teman pernah bertanya, “bagaimana menghadapi segala halangan dan tantangan, saat kita punya ide ternyata tidak semua orang mendukung? “ Jawaban saya waktu itu dikaitkan dengan dua kejadian yaitu Isra’ Mi’raj Rasulullah dan Sepak Bola. Rasulullah turun ke bumi menghadapi masalah dakwah. Diawali dengan sikap mental dan modal spiritual yang semakin kaya setelah pulang membawa oleh-oleh shalat 5 waktu. Kemudian dilajutkan dengan perubahan strategi dakwah. Beliau mencari tempat dan pendukung baru di luar Mekkah. Akhirnya dipilihlah Yastrib yang kemudian diganti namanya menjadi Madinah. Beliau dan pengikutnya pun hijrah ke Medinah. Setelah melalui berbagai peperangan dan perundingan, akhirnya 10 tahun kemudian kembali ke Mekkah meraih kemenangan gilang gemilang. Jadi dua hal yang dimiliki yaitu persistensi, atau daya tahan dan perubahan strategi.

Nah, hal ini juga berlaku pada permainan sepak bola. Tidak ada pertandingan sepak bola yang mulus tanpa halangan. Lawan yang harus dihadapi ada 11 orang. Tapi bagi pelatih dan pemain itu hal yang menantang dia untuk menyusun strategi yang tepat dan teknik bermain yang akurat. Pola pikir dalam sepakbola yaitu semuanya permainan yang harus dinikmati. Semua halangan merupakan syarat agar permainan menjadi menarik. Demikian pula dalam hidup. Segala tantangan dan halangan jadikan dia permainan untuk dinikmati. Dengan halangan itu kita jadi berpikir mencari strategi yang tepat. Melalui permainan tersebut akan menyehatkan mental ketangguhan kita. Masalah harus dihadapi dan dinikmati sehingga dapat diselesaikan dengan baik dan benar. Akhirnya kemenangan dapat diraih sebagai konsekuensi sebuah kesabaran dan kecerdasan. Apakah Anda masih takut dengan masalah? Semoga tidak lagi. [mk]

Syamril

30 Juni 2012

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eleven − 5 =