SEHAT JIWA RAGA

0
543

MediaKALLA.com – Dalam Lagu Indonesia Raya ada ungkapan “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”. Lagu ini memberi pesan bahwa pembangunan manusia Indonesia harus utuh jiwa dan raga. Sebagai manusia kita harus memperhatikan kesehatan jiwa dan raga. Jangan sampai hanya kesehatan raga atau fisik saja tanpa peduli dengan kesehatan jiwa.

Ada empat tipe manusia jika dipetakan dalam kesehatan jiwa dan raganya yaitu :

  1. Sehat jiwa, sehat raga
  2. Sehat jiwa, sakit raga
  3. Sakit jiwa, sehat raga
  4. Sakit jiwa, sakit raga

Tentu yang terbaik adalah sehat jiwa, sehat raga dan yang terburuk adalah sakit jiwa, sakit raga. Dari dua yang tersisa yaitu nomor 2) sehat jiwa, sakit raga dan nomor 3) sakit jiwa, sehat raga;  mana yang Anda pilih? Sebenarnya sih kita tidak mau memilih salah satu di antaranya, tapi dalam kenyataan biasanya pilihan itu juga muncul.

Sebelum menentukan pilihan, mari kita lihat dulu perbedaan antara nomor 2 dan 3. Misalnya, Jika Anda sudah memakai kacamata artinya mata anda sudah sakit. Jadi secara fisik Anda sudah tidak sehat sempurna, artinya sudah terkategori sakit raga. Agar dapat melihat dengan baik Anda harus menggunakan kacamata. Jika saat pakai kacamata dan Anda gunakan untuk kebaikan seperti bekerja, belajar atau membaca Al Qur’an maka artinya jiwa ‘mata’ Anda sehat. Meskipun raganya sakit tapi jiwanya sehat.

Berbeda jika Anda pakai kacamata dan digunakan untuk menonton film porno maka kondisi Anda adalah sakit raga (mata) dan juga sakit jiwa (mata). Atau mata Anda normal dan bisa melihat tanpa alat bantu, tapi Anda gunakan juga untuk maksiat maka raga (mata) sehat, tapi jiwa (mata) sakit. Jadi sehat dan sakitnya jiwa kita menentukan penggunaan dari raga. Jika digunakan untuk amal kebajikan maka artinya jiwa kita sehat dan jika digunakan untuk keburukan maka artinya jiwa kita sakit.

Perhatikan orang-orang yang bergelimang keburukan atau kejahatan. Biasanya raganya sehat. Tapi kenapa mereka melakukan kejahatan? Itu karena jiwanya yang sakit sehingga menuntunnya melakukan kejahatan. Jiwa yang sakit dalam Al Qur’an disebut nafsu lawwamah (jiwa yang amat menyesali : Al Qiyaamah : 2) dan nafsu ammarah ( nafsu yang selalu menyuruh kepada kejahatan  : Q.S. Yusuf : 53)

Saat kelak kembali menghadap kepada Allah atau meninggal dunia, Allah tidak meminta pertanggungjawaban fisik kita apa sehat atau sakit, tapi Allah meminta pertanggungjawaban penggunaannya apa untuk kebaikan atau kejahatan. Jika kita isi hidup ini dengan kebaikan dan amalan yang Allah ridhai maka kita akan kembali kepadanya sebagai jiwa yang sehat atau nafsul muthmainnah :

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”. (Q.S. Al Fajr : 27-30)

Ibadah di bulan Ramadhan yang kita lakukan merupakan latihan dan upaya agar nafsu kita menjadi nafsul muthmainnah, jiwa yang sehat, tenang karena membiasakan diri melakukan amal kebaikan. Melakukan amalan untuk penyucian jiwa sehingga menjadi golongan orang yang beruntung. Allah berfirman :

“dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (Q.S. As Syams : 7-10)

Bahkan selain menyehatkan jiwa, ibadah puasa pun juga menyehatkan raga. Penelitian di bidang kesehatan telah membuktikan hal itu dan sesuai dengan hadist dari Rasulullah “berpuasalah maka engkau akan sehat”. Jadi ibadah di bulan Ramadhan ini salah satu hikmahnya yaitu menyehatkan jiwa dan raga.

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group – Ramadhan 1434 H[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.