Sakinah, Mawaddah, Warahmah

0
503

MediaKALLA.Com – Ini kisah nyata yang saya alami saat khitbah / melamar istri saya tahun 1999. Setelah sambutan dari pihak keluarga saya yang menyatakan maksud kedatangan untuk melamar telah disampaikan, maka kami pun menunggu jawaban resmi dari bapak mertua. Saya kira ini tinggal formalitas karena sudah ada pembicaraan pendahuluan. Ternyata bapak mertua tidak langsung menjawab ya, menerima. Tapi beliau mengajukan beberapa syarat. Apa kata beliau “saya ingin dijawab dulu pertanyaan saya. Saya akan terima jika jawabannya sesuai harapan saya. Pertama, saya ingin anak saya jadi istri pertama dan terakhir. Kedua, saya ingin anak saya tidak disakiti”.

Mendengar pertanyaan tersebut, saya jadi kaget karena sungguh ini tidak ada dalam skenario. Pertanyaan kedua sih bisa dijawab dengan : insya Allah siap. Yang sulit jawabnya pertanyaan kedua karena harus jadi istri pertama dan terakhir. Dilemanya adalah jika dijawab ya berarti mengharamkan poligami, padahal agama melarang mengharamkan yang halal. Jika dijawab tidak, resikonya lamaran bisa tidak diterima.

Saya pun berpikir sejenak dan kemudian menjawab. “untuk syarat kedua tidak menyakiti istri, insya Allah siap”. Bagaimana dengan bagian pertama? Saya tidak jawab “ya, Insya Allah siap” tapi tidak juga jawab “tidak siap”. Apa jawaban saya? “Menikah itu tujuannya untuk mencapai hidup yang sakinah, mawaddah, warahmah. Jika menambah istri lagi malah membuat keluarga tidak sakinah, tidak mawaddah, tidak rahmah untuk apa dilakukan?” Alhamdulillah, jawaban saya diterima.

Ternyata kejadian ini bagi saya memberi banyak hikmah dan pelajaran. Bahwa segala sesuatu sebelum dimulai harus dengan niat yang kuat yaitu mempertegas tujuan. Berkeluarga itu tujuannya membangun keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Dalam perjalanan berkeluarga jangan sampai lupa sama tujuan ini. Melakukan sesuatu pun harus dikaitkan dengan tujuan. Jika ada masalah misalnya ketersinggungan suami atau istri sampai terjadi pertengkaran, maka jangan dilestarikan tapi segera didamaikan. Buat apa bertengkar jika itu membuat keluarga jauh dari sakinah, mawaddah wa rahmah.

Mari kita maknai dulu ketiga kata di atas. Sakinah makna sederhananya yaitu tenang. Artinya kita berkeluarga agar meraih ketenangan dalam hidup. Apa syaratnya agar dapat mencapai ketenangan? Syaratnya yaitu kepercayaan. Jika keluarga dibangun berdasarkan kepercayaan maka akan membangun kepastian dan keyakinan bahwa suami dan istri akan saling setia. Jika tercipta kepercayaan, kepastian dan keyakinan berdasarkan kesetiaan maka Insya Allah akan merasakan sakinah atau ketenangan. Dasar kepercayaan yang paling kuat yaitu agama sehingga RAsulullah meminta kita memilih pasangan hidup bukan semata karena kecantikan / kegantengan dan harta tapi karena iman berdasar agama.

Sakinah ini ternyata dapat diperluas cakupannya tidak hanya di lingkup keluarga tapi juga di organisasi seperti perusahaan, sekolah atau lembaga tempat bekerja bahkan juga negara. Manusia bekerja tentu juga ingin merasakan ketenangan (sakinah). Demikian pula kita hidup berbangsa dan bernegara. Kapan sakinah (ketenangan) ini muncul? Jika seluruh bagian saling percaya. Bawahan percaya pada atasan, dan juga atasan percaya pada bawahan. Rakyat percaya pada pemimpin dan juga pemimpin percaya pada rakyat. Kepercayaan ini lahir karena terjaminnya kepastian yang lahir dari konsistensi penerapan aturan/hukum. Setiap orang yakin jika ia berbuat baik akan mendapatkan juga hasilnya. Demikian pula sebaliknya, setiap orang takut berbuat tidak baik karena akan mendapatkan juga hukumannya.

Mari lihat kehidupan kita di tempat kerja dan juga Negara. Jika ketenangan (sakinah) masih jauh berarti kepercayaan, kepastian dan keyakinan belum terwujud. Mengapa? Karena belum ada konsistensi penerapan aturan / hukum. Perhatikanlah negeri ini di mana hukum belum terlaksana dengan baik sehingga penegak hukum dihukum. Jaksa, hakim (bahkan hakim agung), polisi (jenderal polisi) banyak yang ditangkap karena melanggar hukum. Saat segala bisa diselesaikan dengan uang, maka penegak hukum tidak lagi membela yang benar, tapi membela yang bayar. Saat kepastian hukum belum terwujud maka ketenangan pun tidak akan tercipta. Keadilan jauh dari harapan sehingga sakinah pun tidak tercipta.

Selanjutnya makna mawaddah secara sederhana berarti senang (kasih) karena mendapatkan sesuatu sesuai harapan. Dalam kehidupan rumah tangga suami/istri akan senang kerena mendapat pelayanan lahir dan batin dari pasangannya. Masing-masing pihak menunaikan kewajiban dan tanggung jawabnya. Kalau kita ke bank atau tempat pelayanan umum, kita pun akan merasa senang jika mendapatkan pelayanan sesuai harapan. Demikian pula di kantor, di mana kita semua punya costumer (pelanggan) atau pihak yang harus kita layani. Ada pelanggan internal dan eksternal. Jika keduanya mendapatkan pelayanan sebaik-baiknya maka akan tumbuh rasa senang. Di sinilah perlunya service culture atau budaya melayani diciptakan di lingkungan kita, baik keluarga, tempat kerja maupun masyarakat.

Terakhir yaitu rahmah yang artinya sayang, cinta sejati karena tulus melayani orang lain yang berangkat dari rasa cinta. Dalam keluarga suami mencari nafkah untuk menghidupi keluarga semua karena cinta maka itulah rahmah. Ibu yang memelihara anak, mengasuh dan membesarkannya juga karena rasa cinta. Di alam kita lihat cinta ini seperti matahari yang setiap hari memberikan sinarnya dan semua permukaan bumi di manapun dan kapanpun diberikannya sinar matahari yang penting untuk kehidupan. Seluruh pemberian itu matahari tidak pernah mengharap balasan. Itu contoh alam yang semua dikendalikan oleh Allah. Tentu yang Maha Cinta adalah Allah Ar Rahman. Manusia meniru sifat Allah yang Maha Pengasih ini dengan memberi pelayanan tulus tanpa pamrih. Bukan karena kepentingan diri sendiri tapi karena ingin menyempurnakan keberadaan dirinya dengan memberi manfaat bagi kehidupan. Itulah sebenarnya rahmah yang berarti menang, yaitu berhasil melawan ego yang cenderung untuk diri sendiri. Jika semua orang sudah saling memberi maka rahmah pun tercipta. Masyarakat Marhamah yang saling menyayangi pun akan terwujud dalam kehidupan.

Seluruh penjelasan di atas dapat dirangkum sebagai berikut :
Sakinah  : Tenang -> karena Kepercayaan, kepastian, keyakinan -> syarat : Konsistensi Aturan / Hukum
Mawaddah : Senang (kasih) -> karena Mendapat Pelayanan Sesuai/Melebihi Harapan -> syarat : Service Culture
Rahmah   : Menang (sayang)-> karena Tulus Melayani Kepentingan orang lain -> syarat : Saling Memberi

Mari kita berusaha sekuat tenaga mewujudkan sakinah, mawaddah wa rahmah di kehidupan kita bukan hanya di kehidupan keluarga tapi juga kehidupan di tempat kerja bahkan bernegara. Semoga Allah memberi kesabaran dan petunjuk dalam mewujudkannya, amin. (*)

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group – Ramadhan 1434 H[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four − one =