Sajadah Panjang Hidup Ibadah

0
526

MediaKALLA.com – Jika Anda seorang karyawan, mari cermati hidup Anda selama 24 jam. Perhatikan aktivitas apa yang paling banyak menyita waktu Anda. Cermati berapa lama yang Anda gunakan untuk aktivitas kerja. Jika masuk jam 8 pagi dan pulang jam 17 sore  ditambah perjalanan 2 jam pulang pergi maka sudah 11 jam. Jika ada pekerjaan yang harus diselesaikan bisa pulang lebih lama lagi sampai jam 18. Jadi total 12 jam atau 50% digunakan untuk aktivitas kerja.

Lalu perhatikan berapa lama waktu yang digunakan untuk ibadah ritual seperti shalat, dzikir, do’a dan membaca Al Qur’an. Jika shalat 5 waktu aktivitas wudhu, shalat, dzikir dan do’a rata-rata menyita 20 menit maka hanya menghabiskan 100 menit, ditambah membaca Al Qur’an 20 menit jadi total 120 menit atau 2 jam, tidak sampai 10% . Lalu tidur sekitar 8 jam sehingga tersisa 2 jam untuk aktivitas lainnya seperti mandi, nonton, baca koran, dan sebagainya.

Selanjutnya setiap kita berdo’a setelah shalat biasanya membaca do’a sapujagat, meminta kepada Allah untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan juga di akhirat serta dijauhkan dari siksa neraka. Permintaan ini ada tiga, satu bagian untuk dunia dan dua bagian untuk akhirat. Untuk meraih ketiga permintaan tersebut maka akan dinilai dari kehidupan kita di dunia ini. Jika dikaitkan dengan waktu yang digunakan di kehidupan maka secara matematis rasanya kurang berimbang. Dengan ‘saham waktu ibadah’ 10% ingin mendapatkan hasil 2/3 atau 67%. Tentu idealnya minimal 67% juga.  Bagaimana solusinya?

Cara sederhananya naikkan ‘saham waktu ibadah’. Bagaimana caranya? Beri porsi minimal 67% atau 16 jam dalam sehari untuk ibadah. Kalau begitu, kapan kerjanya? Masak harus di musholla terus selama jam kerja? Nanti atasan bisa marah dan memecat kita. Mau kerja atau mau ibadah. Tentu saja tidak harus di musholla selama 16 jam melakukan shalat, zikir, do’a dan membaca Al Qur’an. Kita tetap bisa bekerja sambil beribadah. Caranya? Jadikan kerja itu sebagai ibadah.

Pada buku “Jalan Kalla” karya Dr. Syafi’i Antonio penulis mensyaratkan 5 hal agar bekerja dapat bernilai ibadah yaitu : tauhid, ikhlas, amanah, jujur dan istiqamah. Berawal dari niat, bekerja sebagai pengabdian kepada Allah menjalankan tugas mulia sebagai pemimpin (khalifah) di muka bumi. Itu adalah manifestasi tauhid  dalam bekerja. Jaga niat semata-mata untuk Allah dengan keikhlasan. Lalu buktikan dengan kerja yang amanah, menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Jaga dengan kejujuran dan konsistensi atau istiqamah.

Sebenarnya bukan saja bekerja yang harus jadi ibadah, tapi seluruh aktivitas hidup kita harus bernilai ibadah karena Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya. Jadi Hidup adalah Ibadah. Artinya segala aktivitas kita dari sejak lahir (buaian) sampai meninggal (tepi kuburan), dari bangun sampai tidur dan bangun lagi harus bernilai ibadah. Dengan demikian hidup kita menjadi sebuah sajadah panjang seperti sya’ir lagu Bimbo “Sajadah Panjang” berikut :

“Ada sajadah panjang terbentang, dari kaki buaian. Sampai ke tepi kuburan hamba. Kuburan hamba bila mati. Ada sajadah panjang terbentang. Hamba tunduk dan sujud. Di atas sajadah yang panjang ini, diselingin sekedar interupsi. Mencari rezeki, mencari ilmu. Mengukur jalanan seharian. Begitu terdengar suara adzan. Kembali tersungkur hamba. Ada sajadah panjang terbentang, hamba tunduk dan ruku. Hamba sujud dan lepas kening hamba. Mengingat dikau sepenuhnya.” (*)

[Syamril]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 × 2 =