Reformasi Sikap saat Menjelang Buka dan Sahur

0
617

MEdiaKALLA.com – Puasa selain sebagai medium untuk beribadah kepada Allah, juga pada hakikatnya sebagai proses pembelajaran manusia agar kehidupannya lebih meningkat ke arah yang lebih mulia. Dengan berpuasa sesungguhnya si pelaku sedang melakukan proses pemebersihan jiwa dan raga.

Puasa merupakan ibadah yang diwajibkan dalam Islam, bahkan dia menjadi salah satu rukun Islam. Mengapa manusia diwajibkan melakukan puasa? Lantaran proses berpuasa adalah sebagai proses pengendalian diri atas sifat-sifat yang begitu laten dalam tiap individu manusia, yakni sifat rakus, tamak, dan nafsu yang kalau tak dikendalikan akan menyeruak ke permukaan dan menjadi bentuk perilaku yang merugikan bagi dirinya dan lingkungannya.

Tentu kita telah banyak belajar dan mengetahui bagaimana puasa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Mereka, khususnya Rasulullah mempunyai teladan yang yang sangat bagus dan tepat bagi umatnya yang berpuasa. Apa saja yang menjadi keutamaan dalam berpuasa, mulai dari hal-hal yang bagus sampai pada hal-hal yang membuat puasa kita tak bernilai sampai yang membatalkan puasa itu sendiri, beliau telah mencontohkannya dengan sangat rinci.

Berdoa kepada Allah di dalam keseharian apalagi di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, dimana seluruh pahala ibadah kita dan kebaikan kita dilipatgandakan juga telah dicontohkan dengan baik oleh beliau. Rasulullah sangat menyenangi doa menjelang berbuka puasa dan saat-saat sahur. Hal ini beliau lakukan sebagai bentuk manifestasi sebagai manusia yang lemah dan rendah di hadapan Allah. Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk berdoa, memohon ampunan, petunjuk, kekuatan, dan keberkahan dalam hidupnya di waktu yang mustajab ini. Di samping ada saat-saat lain yang juga mustajab untuk dikabulkannya doa kita, tapi bedoa di dua kesempatan tersebut sangat dicintai oleh Rasulullah.

Doa-doa beliau sangat indah, misal “Ya Allah, jadikan puasaku di bulan ini puasa mereka yang shiyam. Dan ibadah malamku termasuk ibadah mereka yang qiyam. Bangunkan aku dari tidurnya orang-orang yang lalai. Ampuni dosa-dosaku, wahai Tuhan semesta alam. Maafkan segala kesalahanku, wahai yang mengampuni setiap hamba-Nya yang memohon ampunan.”

 “ya Allah, dekatkan aku di bulan ini pada keridhaan-Mu. Jauhkanlah aku di dalamnya dari kemurkaan dan kebencian-Mu. Bimbinglah aku dengan kasih-Mu untuk membaca ayat-ayatMu. Wahai Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi.” Betapa doa-doa beliau jauh dari menuntut, tapi dalam bentuk kepasrahan dan permohonan peningkatan beribadah untuk kemuliaan dan kualitas ketakwaan.

Bagaimanakah bentuk doa kita? Barangkali perlu kita revormasi. Pertanyaan berikut, sudahkah kita memanfaatkan waktu menjelang berbuka dan saat sahur – menjelang salat subuh —  untuk bermunajat dan berdoa kepada Allah dengan cara-cara Rasulullah. Hemat penulis melihat fakta dan data yang ada di lapangan, rasanya mayoritas dari kiita harus merevormasinya.

Bukankah budaya jalan-jalan sore orang-orang Belanda saat menjajah kita, tepatnya di Bandung telah kita adopsi dengan baik melalui nama “ngabuburit”? sebuah aktivitas jalanjalan sore untuk menunggu waktu berbuka puasa. Tidak hanya sekadar jalan-jalan sore, tapi oleh para remaja momentum ini sekaligus dijadikan sebagai aktivitas berpacaran. Dalam hal yang berbeda, bukankah waktu-waktu diijabahnya doa saat bersahur di beberapa tempat telah berubah menjadi ajang tawuran para remaja, bahkan warga antarkampung? Bagi mayoritas dari kita yang tidak melakukan “ngabuburit” saat menjelang berbuka puasa dan  tawuran saat-saat sahur, hemat penulis juga sudah sangat terpedaya dengan tayangantayangan  TV yang sama sekali jauh dari nilai dikdaktik. Berjam-jam kita disuguhi acara-acara konyol, sementara suguhan rohani hanya dalam bentuk kultum. Hanya tujuh menit, itu pun saat kita sudah fokus pada beragam hidangan berbuka dan sahur yang terhampar beragam di atas meja makan. Pada akhirnya kita telah tercerabut dari teladan Rasulullah, yakni berdoa dengan khusuk di saat-saat tersebut, lantaran saat-saat itulah setiap doa sangat diijabah.

Padahal, tentang keutamaan doa di saat sahur  Allah menegaskan, bahwa di sisi Allah ada sebaik-baik tempat untuk kembali, yakni surga. Hal tersebut diurai dalam surah Ali ‘Imraan (3; 13 – 16) lalu dipertegas pada ayat 17, “(yaitu) orang-orang yang sabar, orang-orang yang benar, orang-orang yang tunduk, orang-orang yang menafkahkan hartanya (pada jalan Allah), dan yang memohon ampunan waktu sahur.”

Parahnya lagi tayangan-tayangan TV saat-saat ini adalah tayangan konyol yang memang menstimulus rasa geli kiita, sehingga kita merespon dengan tertawa terbahak-bahak. Ini adalah kerugian lain yang kita dapati setelah tercerabut dari kebiasaan Rasulullah memanfaatkan dengan sebaik mungkin terhadap waktu-waktu terijabahnya doa dengan aktivitas doa secara indah dan khusuk.

Ada suatu hadits bahwa Rasulullah SAW bersabda, “janganlah kalian tertawa (terbahakbahak), karena banyak tertawa mematikan hati.” (HR. At Tarmidzi). Hati yang mati tentu akan kehilangan daya kepekaannya. Orang yang tidak memiliki kepekaan tak akan mampu khusuk ketika beribadah, sedang kekhusukan adalah bagian dari diijabahnya ibadah.

Al Quran dalam surah Lukman ayat 33 memperingatkan kepada kita, “Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakanmu”. Banyak orang yang terpedaya, tetapi mereka merasa tak diperdaya.  Menonton tayangan-tayangan konyol di TV yang memotivasi kita tertawa terbahak-bahak adalah bagian dari bentuk tipu daya.

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/07/download.jpg” ]Edi Sutarto : Direktur Sekolah Islam Athirah[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

14 − 13 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.