Renungan Akhir Hayat

0
512

Saat uban mulai bertabur
Pandangan mulai kabur
Kulit pun mulai kendur
Gigi juga mulai gugur
Tanda sudah dekat ke liang kubur

Maka mari selalu bertafakur
Dan biasakan bertadabur
Agar hidup selalu bersyukur
Jauh dari takabbur
Dunia dan akhirat pun jadi makmur

MediaKALLA.Com – Salah satu kejadian yang pasti akan dihadapi oleh setiap manusia yaitu kematian. Waktu kematian ini rahasia jadi tidak ada orang yang tahu kapan datangnya. Tapi kalau sudah tiba masanya ia tidak bisa diundur lagi. Imam Al Ghazali mengatakan bahwa yang paling dekat dengan manusia ialah kematian. Maksudnya tidak usah dikejar karena memang ia akan mengejar. Tak usah dihampiri karena ia yang akan mendatangi. Kalau masanya sudah tiba tak usah diundang, ia akan datang. Kalau ketentuan takdirnya sudah diputuskan maka tinggal menunggu pelaksanaan. Allah berfirman :

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.   (Q.S. Al Munafiqun : 11)

Hampir semua orang takut mati. Mengapa? Apakah karena sedih meninggalkan berbagai kenikmatan dan kelezatan dunia? Atau takut mati karena belum siap perbekalan menghadapi kehidupan setelah kematian. Amal shaleh dan pahala belum cukup sehingga khawatir sulit untuk menggapai rahmat dan ridha Allah. Memang nasihat bijak mengatakan bukan kematian yang harusnya ditakuti dan ditangisi, tapi hendaknya kita takut karena belum siap perbekalan untuk melanjutkan perjalanan ke alam kubur dan alam akhirat.

Kematian ini pun sebenarnya tidak ada hubungan dengan badan yang semakin lemah, karena banyak juga orang yang gagah perkasa, muda usia, mati juga. Jadi sebenarnya bukan karena badannya sakit dia mati, tapi karena memang ajalnya sudah tiba. Pernahkah Anda ke rumah sakit membesuk saudara atau teman yang sedang dirawat di ruang khusus. Untuk masuk ke kamar pasien, setiap pembesuk harus menggunakan baju khusus yang disiapkan rumah sakit. Waktu besuk pun juga ditentukan. Nah, tubuh kita itu ibarat baju khusus tersebut, dan penjenguk yang menggunakan baju tersebut adalah ruh kita. Waktu besuk itu ibarat umur atau usia kita. Jika sudah habis waktunya maka kita pun harus keluar dan menanggalkan baju khusus yang tadi dipakai. Tak peduli apakah bajunya sudah usang atau masih baru, jika sudah habis waktunya maka kita pun harus melepasnya. Demikian pula dengan ruh kita. Tak peduli apakah tubuh kita sehat atau sakit, jika ajalnya sudah tiba maka ruh kita harus segera keluar dan melanjutkan perjalanannya ke  alam kubur. Itulah kematian.

Lalu apa pengaruh dari kondisi kesehatan tubuh? Pengaruhnya terkait dengan kualitas kehidupan kita. Jika tubuhnya sehat maka kualitas hidupnya pada aspek fisik juga berkualitas tinggi. Dia menjalani hidup dengan nyaman, tidak banyak keluhan kesakitan. Berbeda jika dia sakit maka hidupnya banyak penderitaan. Sedikit-sedikit sakit pinggang, sakit kepala, batuk, pilek, pegal, linu dan sebagainya. Kalau begitu, untuk apa dong menjaga kesehatan tubuh kalau tidak menjadikan umur kita panjang?

Sebenarnya umur manusia itu ada dua jenis yaitu umur biologis dan umur sosiologis. Rasulullah Muhammad SAW umur biologisnya hanya 63 tahun, beliau sudah meninggal pada tahun 634. Tapi dari sisi sosiologis beliau belum mati meskipun sudah 14 abad lebih. Ajarannya malah terus hidup dan berkembang menerangi jiwa setiap insan. Jadi umur sosiologis terkait dengan keberkahan hidup yaitu seberapa besar manfaat kita berikan kepada orang lain. Meskipun orangnya sudah tiada, manfaatnya masih terus terasa. Sehingga dalam hidup yang penting itu umur sosiologis, bukan umur biologis.

Terkait kesehatan tubuh dengan umur panjang, harapannya bisa memperpanjang umur sosiologis. Dengan tubuh yang sehat, kekayaan yang melimpah atau ilmu yang segudang jika itu digunakan untuk kebaikan maka ia akan memanjangkan umur sosiologis. Keberkahan hidup tersebut semoga menjadi kunci untuk meraih nafsul muthmainnah yang akan disambut oleh Allah dengan penuh kemesraan dan dirindukan oleh surga yang penuh kenikmatan. Allah berfirman :

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.  (Q.S. Al Fajr : 27-30)

Maka wajar saja para ahli tasawuf, justru kematian itu ‘dirindukan’. Mereka rindu untuk bertemu dengan Allah yang Maha Segalanya. Ibarat pemuda yang dimabuk asmara merindukan bertemu dengan gadis pujaannya. Demikian pula dengan para mujahid, mereka merindukan syahid. Mereka berperang untuk ‘menjemput’ kematian tapi bukan dengan bunuh diri. Mengapa? Dengan mati syahid maka pintu surga dengan segala kenikmatan yang tiada tara akan terbuka untuk mereka dan tentu pintu untuk bertemu dengan Allah pun juga terbuka. Bukankah kenikmatan tertinggi yaitu saat perjumpaan dengan Allah, sebagaimana kata Rasulullah bahwa ada dua kenikmatan orang yang berpuasa yaitu saat berbuka dan saat berjumpa dengan Allah. Apa kuncinya? Allah berfirman :

… Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (Q.S. Al Kahfi : 110)

Jadi untuk meraih nafsul muthmainnah dan berjumpa dengan Allah di dalam surga yang penuh kenikmatan kuncinya adalah amal shaleh dan amalan itu dilakukan ikhlas semata-mata untuk Allah.  Oleh karena itu masih siapkan diri dengan sebaik-baiknya. Kerjakanlah amanah dan tugas dengan kualitas terbaik semaksimal kemampuan. Lalu niatkan semuanya sebagai ibadah kepada Allah. Jadi hidup dan kerja amal shaleh untuk ibadah kepada Allah. (*)

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group – 23 Ramadhan 1434 H[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

15 − one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.