REM DAN GAS KEHIDUPAN

0
474

MediaKALLA.co.id – Mobil automatic yang semakin banyak dipakai di era sekarang, hanya punya dua injakan yaitu gas dan rem. Jadi saat awal belajar naik mobil yang dipelajari adalah kapan menginjak rem dan kapan menginjak gas. Salah menginjak rem atau gas akibatnya bisa fatal. Tabrakan dan kecelakaan bisa terjadi jika terlambat menginjak rem atau terlalu kencang menginjak gas.

Antara rem dan gas mana yang paling penting? Mana yang lebih berbahaya mobil yang gasnya rusak atau yang remnya blong? Ternyata banyak kecelakaan terjadi bukan karena gasnya rusak tapi karena remnya blong. Saat melewati jalanan menurun tiba-tiba rem blong maka bisa dipastikan mobil tidak terkendali dan akhirnya masuk jurang atau menabrak kendaraan lain. Kalau gas rusak tapi rem masih berfungsi, kendaraan masih bisa dikendalikan, diperlambat dan dihentikan dengan menginjak remnya. Kendaraan akan berhenti atau tertahan untuk melaju kencang.

Bayangkan Anda membawa mobil yang tidak ada remnya menuju ke tempat tertentu? Jika berjalannya di tengah kota yang ramai dan banyak kendaraan, bisa dipastikan Anda akan menabrak kendaraan lain atau menabrak orang yang ingin menyebrang jalan. Jika Anda ke luar kota Anda tidak akan bisa tiba dengan selamat. Hanya ada dua kemungkinan, Anda tiba di kantor polisi atau tiba di rumah sakit.

Demikian pula dengan kehidupan. Begitu berbahaya jika rem kehidupan ini blong. Akibatnya hawa nafsu tidak akan terkendali. Apapun yang diinginkan harus terwujud. Nafsu syahwat, nafsu amarah, nafsu serakah dan nafsu lain yang membahayakan serta menghancurkan kehidupan menjadi penguasa. Nafsu syahwat yang tidak terkendali maka terjadi perzinahan, pemerkosaan, pelecehan, dan penyimpangan seksual di mana-mana apalagi di era sekarang ini. Nafsu amarah yang tidak terkendali akibatnya tawuran antar kampung, geng motor, begal sampai pembunuhan terjadi setiap hari. Bahkan dalam tingkat yang lebih luas mengakibatkan perang antar negara sejak zaman dahulu kala. Nafsu serakah yang dipelihara akibatnya penipuan, penindasan dan cara-cara licik dan manipulatif dilakukan khususnya di bidang bisnis dan politik. Kehidupan sosial menjadi kacau balau karena nafsu yang tidak terkendali.

Kehidupan pribadi dan keluarga pun menjadi kacau jika nafsu syahwat, amarah dan serakah tidak terkendali. Mengapa banyak suami istri yang bercerai? Karena nafsu syahwat yang tidak terkendali sehingga terjadi perselingkuhan dan perzinahan. Mengapa KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) banyak terjadi? karena nafsu amarah tidak terkendali, hanya karena hal yang sepele memancing kekerasan terjadi. Mengapa ekonomi rumah tangga kacau balau? Karena nafsu serakah yang tidak terkendali, tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Tergoda oleh iklan dan gengsi meskipun harus terbebani cicilan yang tinggi.

Bagaimana mencegah dan mengatasi itu semua? Perlu pengendalian diri. Menahan nafsu syahwat dan menyalurkannya hanya pada yang halal. Menahan amarah dengan berpikir sebelum bertindak. Menghancurkan keserakahan dengan mendahulukan kebutuhan daripada keinginan serta peduli pada orang lain. Sumber daya yang ada bukan untuk diri sendiri tapi untuk banyak orang. Peduli dengan berbagi.

Bulan Ramadhan yang didalamnya setiap orang yang beriman selama 1 bulan melakukan berbagai macam ibadah adalah latihan untuk mengendalikan diri. Nafsu syahwat terkendali dengan melarangnya pada yang halal dari fajar sampai magrib. Nafsu amarah terkendali karena puasa membuat orang tidak mudah marah karena tubuh kurang energi. Orang yang berpuasa dilarang marah karena akan menghapuskan pahala puasanya. Nafsu serakah pun terkendali karena manusia jadi sadar bahwa kebutuhan perutnya terbatas meskipun telah seharian berpuasa. Kita pun diajurkan berbagi melalui zakat, infak dan shadaqah untuk mengikis keserakahan dan menyuburkan kebersamaan.

Lebih penting lagi pengendalian diri kita bukan karena orang lain tapi karena Allah. Kita tidak berani melakukan berbagai perbuat keji dan kemungkaran karena kita malu pada Allah yang Maha Melihat. Ibadah puasa dan shalat tarawih melatih kita untuk merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan kita. Inilah pengendalian diri yang paling ampuh. Bukan malu pada orang lain saja. Bukan juga malu pada diri sendiri, tapi malu pada Allah. Tidak hanya malu tapi juga takut pada hari di mana segala perbuatan di dunia akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya :

Dan peliharalah dirimu dari (adzab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan). (Q.S. Al Baqarah : 281)

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.   (Q.S. Al Zalzalah : 7-8)

Jika bulan Ramadhan kita lalui dengan penuh penghayatan maka insya Allah kita akan menjadi manusia yang bertakwa sebagaimana tujuan puasa diperintahkan. Selamat menikmati Ramadhan yang tinggal 8 hari lagi. Mumpung masih ada kesempatan yang tersisa. Mari tancap gas ibadah semaksimal mungkin. Tilawah Al Qur’an, shalat malam, membaca buku-buku dan artikel keagamaan, membayar zakat, infak dan shadaqah, berbagi pada sesama, serta ibadah lainnya. Sungguh tidak ada jaminan Ramadhan tahun depan kita masih diberi kesempatan oleh-Nya.

Makassar, 28 Juni 2016
Syamril

Follow Us
==============
Facebook; Media KALLA
Twitter; @MediaKALLA
Youtube; Media Kalla Group

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × five =