Rekor MURI “Penghijauan Lahan Kritis melalui Aerial Seeding”

0
513

Kondisi Hutan di Sulsel

Dari data yang disampaikan oleh Ir. Abdul Kadir, MP Kepala Bidang Pembinaan Hutan dan Pemulihan Lahan Dinas Kehutanan Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan pada acara Pembukaan kegiatan ”Penghijauan Lahan Kritis 1500 ha dengan metode Aerial Seeding”pada hari Senin tanggal 3 Oktober 2011 di Bendungan Ponre ponre Bone, bahwa dari sekitar 2,1 juta kawasan hutan di Sulsel terdapat 369.956 ha yang merupakan lahan kritis di dalam kawasan hutan.
Kemampuan Pemerintah dari dana negara untuk melakukan penghijauan dengan metode penanaman pohon hanya sekitar 5000 ha per tahun. Jadi dibutuhkan waktu sekitar 74 tahun untuk menanganinya dengan asumsi setiap tahun 5000 ha dan seluruhnya berhasil.

Untuk itu perlu terobosan baru metode penghijauan dengan memanfaatkan teknologi yang dikenal dengan aerial seedingyaitu penaburan benih tanaman kehutanan melalui udara menggunakan pesawat atau helikopter. Teknologi aerial seeding digunakan untuk menangani lahan yang sulit dijangkau manusia. Ide awal teknologi aerial seeding dikemukakan oleh Bapak Jusuf Kalla. Beliau mengatakan “secara alamiah sejak zaman dahulu kala penghijauan telah terjadi di mana benih tanaman dibawa oleh burung atau angin. Maka kita bisa juga melakukannya melalui teknologi, penaburan benih dilakukan dengan menggunakan helikopter. Dengan teknologi tersebut akan sangat efisien dan efektif karena bisa menjangkau lahan yang sulit, dalam luasan yang besar dan waktu yang singkat. Teknologi ini juga tidak memerlukan banyak tenaga kerja dan biaya”.

Gubernur Sulawesi Selatan Bapak Syahrul Yasin Limpo sangat menyambut baik ide Bapak Jusuf Kalla tersebut dan melalui Dinas Kehutanan pada tahun 2011 ini akan dilakukan penaburan benih tanaman kehutanan melalui udara (aerial seeding) di hutan kritis seluas 28.000 ha. Dengan metode ini masih dibutuhkan waktu sekitar 13 tahun untuk menangani lahan kritis di Sulsel dengan asumsi setiap tahun 28.000 ha dan seluruhnya berhasil. Untuk mempercepatnya maka Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengajak perusahaan untuk berpartisipasi dengan menggunakan dana CSR.

Kalla Group menyambut baik inisiatif tersebut. Melalui Yayasan Kalla telah ditandatangani MoU dengan Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan tentang Upaya Percepatan Penanganan Lahan Kritis dengan Metode Aerial Seeding  pada tanggal 7 Juli 2011 lalu. Komitmen Yayasan Kalla yaitu menangani hutan seluas 5000 hektar. Realisasi pertama dari MoU tersebut yaitu penghijauan lahan kritis seluas 1.500 ha dengan metode penaburan benih tanaman kehutanan melalui udara (aerial seeding) di sekitar Bendungan Ponre ponre Kecamatan Libureng Kabupaten Bone yang teknis pelaksanaannya bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 3 – 5 Oktober 2011. Dengan menggunakan helikopter tim Yayasan Kalla telah menabur benih sebanyak 2700 kg yang terdiri atas Trembesi 2200 kg, Sengon 220 kg dan Kaliandra 150 kg.

Dipilihnya tempat di sekitar Bendungan Ponre ponre Bone karena bendungan merupakan objek vital yang harus dijaga keberlangsungan airnya sehingga terus memberi manfaat bagi masyarakat. Jika tidak dihijaukan dikhawatirkan dapat menimbulkan bencana di musim hujan seperti longsor dan banjir serta kekeringan dan kekurangan air di musim kemarau.

Penciptaan Rekor MuRI

Pada kesempatan tersebut juga hadir Bapak Paulus Pangka dan tim dari MuRI (Museum Rekor dunia Indonesia). Kehadiran Bapak Paulus Pangka dan tim untuk menyaksikan secara langsung kegiatan ini karena merupakan kegiatan pertama di Indonesia yaitu penaburan benih tanaman kehutanan melalui udara (aerial seeding) dari dana partisipasi masyarakat / CSR perusahaan. Dari pengamatan tim MuRI kegiatan ini layak dicatatkan sebagai Penciptaan Rekor MuRI. Harapannya semoga dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi pihak lain untuk juga berpartisipasi menangani lahan kritis di Sulsel khususnya dan di Indonesia umumnya.

Bapak Paulus Pangka dari Museum Rekor dunia Indonesia menyebutkan dari data Kementerian Kehutanan di Indonesia diperkirakan terdapat lahan kritis seluas 30 juta hektar. Penanganan lahan kritis tersebut tentunya juga membutuhkan terobosan teknologi dan aerial seeding ini dapat menjadi solusi. Apalagi jika sinergi berbagai pihak dapat diwujudkan terutama pemerintah dan perusahaan. Pemerintah termasuk TNI memiliki helikopter dan pesawat tempur yang dapat digunakan untuk penaburan benih tanaman kehutanan. Pendanaan selain dari APBN juga dapat menggunakan dana CSR perusahaan. Apa yang dilakukan oleh Dinas Kehutanan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Yayasan Kalla semoga dapat dicontoh oleh pihak lain.

Penyerahan Sertifikat Rekor MuRI rencananya akan diberikan kepada Gubernur Sulawesi Selatan Bapak Syahrul Yasin Limpo dan Ketua Yayasan Kalla Ibu Fatimah Kalla pada tanggal 19 Oktober 2011 di kegiatan puncak Ulang Tahun Sulsel di Makassar. Rencananya acara tersebut akan dihadiri oleh Gubernur dari berbagai provinsi sehingga diharapkan dapat memberi motivasi dan inspirasi bagi provinsi lain di Indonesia. Semoga kegiatan aerial seeding dengan partisipasi dari CSR perusahaan dapat menjadi gerakan nasional sehingga lahan kritis di Indonesia yang mencapai 30 juta hektar dapat tertangani dengan cepat dan tepat.

 
 
(Makassar, 5 Oktober 2011. Koordinator Green Care Yayasan Kalla Ir. Syamril M. Pd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fifteen − 2 =