Rajawali atau Dinosaurus?

0
678

MediaKALLA.Com – Alangkah gagahnya  burung rajawali yang sedang terbang di angkasa. Sayapnya demikian lincah bermanuver, matanya penuh konsentrasi dan siap mencari mangsa. Paruhnya yang kuat dan runcing dapat menangkap mangsa dengan mudah. Namun seiring waktu saat usianya semakin tua, maka mulailah dia lemah. Tak bisa lagi terbang dengan lincah. Tak bisa lagi mengejar mangsa dengan semangat. Paruhnya pun semakin melengkung dan sulit untuk menangkap mangsa.

Ternyata saat usianya semakin tua, burung rajawali ini melakukan sesuatu yang aneh. Dia pergi ke gunung dan mencari batu-batu cadas yang keras, lalu dipatuknya sekuat tenaga sampai ujung paruhnya lepas. Tidak hanya itu, dia juga mencabut bulu-bulu sayapnya. Mengapa dia berbuat demikian?

Mengapa rajawali melakukan itu? Ternyata rajawali ingin agar paruhnya kembali kuat dengan cara melepaskan paruh lamanya. Beberapa bulan kemudian paruh baru akan tumbuh dan kembali kuat seperti semula. Demikian pula dengan sayapnya, kembali tumbuh bulu yang baru dan menjadi kuat lagi.

Burung rajawali melakukan peremajaan diri dengan proses yang menyakitkan, penuh penderitaan dan butuh waktu yang berbulan-bulan. Hasilnya setelah melalui penderitaan maka jadilah rajawali kembali ‘muda’. Dampaknya tidak hanya itu, burung rajawali pun hidupnya menjadi lebih lama, seolah-olah memulai hidup yang baru. Jika umur satu siklusnya 40 tahun maka setelah melewati masa peremajaan dengan penuh penderitaan maka umurnya bisa mencapai 70 tahun.

Apa pelajaran dari burung rajawali ini? Jika Anda ingin terus tumbuh dan berkembang maka lakukanlah selalu perubahan diri. Pengetahuan, keterampilan dan sikap Anda yang sudah tidak sesuai dengan kondisi kekinian segera di-up date. Dunia terus berubah, ilmu pun berkembang. Maka carilah ilmu terbaru yang terkait dengan pekerjaan Anda. Terus belajar meningkatkan kualitas diri. Jangan pernah merasa pintar, tapi pintarlah merasa. Jangan pernah merasa matang, tapi selalulah merasa mentah meskipun sudah matang. Hati-hati, buah yang sudah matang artinya sebentar lagi akan busuk.

Metode, teknologi dan tools terus berubah dan berkembang. Carilah kesempatan untuk belajar agar dapat menguasai metode, tools dan teknologi terbaru. Jika metode, teknologi dan tools baru sudah dikuasai maka segera aplikasikan sehingga memberi dampak pada cara kerja agar lebih efektif dan efisien sehingga kinerja dapat meningkat. Selanjutnya evaluasi sikap dan perilaku selama ini. Apakah ada yang masih negative dan dapat menghambat relasi dengan orang lain atau menghambat optimalisasi potensi diri sendiri. Segera identifikasi kemudian lakukan perbaikan diri.

Jangan seperti dinosaurus yang pada masanya sangat besar, kuat dan penguasa bumi tapi punah karena tidak mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Pada masa sekarang pun kita melihat perusahaan yang dulunya besar, tapi sekarang sudah bubar. Anda tentu kenal dengan Kodak, yang dulu menguasai penjualan kamera dan rol film analog. Seiring perubahan waktu masuknya era digital dengan munculnya kamera digital dan Kodak tidak beradaptasi maka hilanglah perusahaan ini dan hanya menjadi sejarah.

Tentu Anda tidak mau jadi dinosaurus atau Kodak. Tentu Anda ingin jadi rajawali. Maka beradaptasilah, ikuti perkembangan dan lakukan perubahan dan perbaikan diri. Investasikanlah waktu atau mungkin dana  Anda untuk belajar. Jangan pernah merasa pintar, tapi pintarlah merasa. Jangan pernah merasa matang tapi teruslah mematangkan diri Anda dengan belajar agar tumbuh dan berkembang.  Semoga bermanfaat. [Syamril]

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × 2 =