Puasa, Rasul tak Mengubah Beban Aktivitas

0
604

MediaKALLA.com – Tidak diragukan lagi bahwa perilaku yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW adalah teladan yang harus diikuti oeleh semua muslim lantaran perilakunya adalah bentuk implementasi dari ahlak mulia beliau.  Namun mungkinkah kita dapat meneladani ahlak beliau sebagai seluruh perilaku kita sehari-hari?  Atas pertanyaan ini kita seringkali berkilah, tidak mungkin karena kita manusia biasa sedangkan beliau itu nabi.

Jawaban atas pertanyaan tersebut di atas tentu bagian dari exuse semata. Kalau kiita tidak bisa tentu Allah tidak akan memerintahkan kepada kita untuk meneladani beliau, “… Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada firman-firman-Nya dan ikutilah dia (Muhammad) supaya kamu mendapat petunjuk.” (Al A’raaf: 7; 158).

Seluruh perilaku beliau dilakukan dengan komitmen yang tinggi. Di dalam puasa, bukti kongkret Rasulullah memiliki komitmen yang tinggi terhadap puasa adalah beliau tidak hanya sekadar memerintahkan kepada umatnya untuk melakukan puasa. Namun beliau sebagai pelaku utama di dalam ibadah puasa. Beliau mengajarkan rukun, wajib, dan sunah yang harus dilakukan saat kita berpuasa.

Yang paling menarik dari puasa beliau adalah tak mengubah aktivitas beliau di dalam bekerja. Pada saat berpuasa beliau tak mengurangi bentuk dan jam kerjanya, tetapi justru  mempertinggi frekuensi dan kualitas ibadah yang lain-lainnya. Saat berpuasa beliau tak menghentikan usaha perdagangannya.

“Rasulullah tak pernah berbuka pada hari puasa, baik beliau sedang di rumah atau dalam perjalanan.” (HR. Nasa’i). Ini membuktikan kepada kita, betapan Rasulullah memandang penting dan utama terhadap puasa. Beliau tak ingin melewatkan kesempatan berpuasa dalam kondisi apa pun. Kita sebagai pengikutnya, apakah telah memprioritaskan puasa ini sebagai wujud ketakwaan kita?

Bangsa Indonesia sebenarnya melalui puasa telah mereduksi aktivitas keseharian, meskipun sebenarnya Rasullah tak memberikan contoh demikian. Bayangkan lantaran puasa Ramadhan, seluruh kantor dan sekolah libur sekian hari di saat menjelang dan awal puasa Ramadhan. Saat masuk kembali, jam masuk diperlambat dan jam pulang dipercepat. Saat Idul Fitri, kita libur lagi minimal satu minggu sebelum dan sesudahnya. Sungguh kita menjadi kurang produktif dalam kinerja lantaran puasa ini.

Hemat penulis sekolah dan bekerja sebenarnya tetap bisa masuk wilayah ibadah bila kita memandangnya demikian. Jadi, yang perlu kita lakukan adalah justru di bulan puasa kita lebih mengoptimalkan proses kinerja kita, baik dalam belajar maupun bekerja. Inilah paradoksal dari perilaku kita saat bulan Ramadhan dengan kebiasaan Rasulullah.

Saat berpuasa justru mengurangi aktivitas kerja di siang hari dan memperlimpah makanan di malam hari. Kita kurang produktif dalam kerja namun sangast produktif dalam mengkonsumsi makanan. Sekali lagi ini sungguh bertentangan dengan teladan yang diberikan oleh Rasulullah dan para sahabatnya.

Tulisan ini memang bernada kritis, tetapi penulis tidak bermaksud memotivasi siapa pun untuk mengubah kebiasaan yang sudah mengakar ini. Tentu bila penulis mengajak untuk mengubah itu semua, sangat memungkinkan hanya menjadi ajakan yang sia-sia belaka.

Oleh sebab itu, penulis hanya ingin mengajak para pembaca yang budiman, mari dari waktu belajar dan kerja yang sudah direduksi ini kita maknai dengan mengoptimalkan kinerja kita. Paling tidak niatkan kembali bahwa saat belajar dan bekerja sebagai ibadah. Lantaran sebagai ibadah, maka kita melakukannya harus dengan ikhlas, istikomah, dan penuh kejujuran.

Ikhlas yang penulis maksudkan dalam hal ini bukan sekadar menerima apa adanya. Namun sebagai proses – hidup kita hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hidup kita esok harus lebih baik dari hari ini – betapa ikhlas sesungguhnya memiliki tiga tahapan.

Dalam konteks belajar dan atau kerja, tahap pertama dari ikhlas adalah menerima tugas atau pembelajaran dengan penuh syukur. Orang yang bersyukur tidak menerima apa pun dengan sikap menerima apa adanya. Sikap menerima apa adanya adalah sikap yang kalah.

Justru sikap menerima dengan syukur melahirkan tahapan kedua dari ikhlas, yakni agenda.Agenda yang dimaksudkan disini adalah tahapan-tahapan perencanaan menuju pencapaian target dari tanggung jawab kerja atau belajar.

Dengan demikian ikhlas harus melahirkan perencanaan yang matang untuk perbaikan kondisi berikutnya. Sebagai contoh sederhana, misal kita sebagai pelajar sekarang mendapatkan nilai 8 dalam tugas atau ulangannya. Saat itu, kita terima nilai tersebut dengan lapang, tetapi kemudian otomatis lahir niatan untuk mendapatkan nilai 9 atau 10 di tugas atau ulangan berikutnya. Tentu angka yang lebih tinggi itu tak akan mungkin didapatkan tanpa ada agenda untuk mencapainya.

 Tahapan yang ketiga dari ikhlas adalah terimplementasinya agenda tersebut ke dalam bentuk karakter.  Yaitu karakter yang istikomah untuk menjalankannya sesuai dengan prosedur dan sistematika yang telah dirancang dan sesuai normatif yang berlaku di lingkungannya serta kontekstualnya. Tentu hal ini bisa dilakukan dengan optimal bila dibarengi dengan kejujuran.

Sebaiknya hal tersebut yang menjadi latar belakang kinerja kita, baik di dalam belajar maupun bekerja di bulan Ramadhan ini. Jangan sampai dari waktu yang sudah direduksi, mental kerja kita juga tereduksi, lantaran Rasulullah tidak mencontohkan demikian.

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/07/download.jpg” ]Edi Sutarto : Direktur Sekolah Islam Athirah[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nine + ten =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.