Puasa dan Takbiran Agar Bersyukur (Bagian II)

0
473

Di dalam Al Qur’an, terkait dengan puasa dijelaskan di Al Baqarah : 183 – 185. Ada yang menarik di ujung Al Baqarah : 185 yaitu :

bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Q.S. Al Baqarah : 185)

 

Mentadaburi ayat ini, Allah memerintahkan kita di akhir Ramadhan untuk mengagungkan Allah (takbiran). Itu sudah rutin dilakukan. Untuk apa itu semua? Di akhir ayat Allah menyatakan bahwa itu dilakukan agar manusia bersyukur. Berarti tujuan takbiran, bahkan ibadah di bulan Ramadhan seperti puasa, tarawih, zakat dan sebagainya yaitu menjadikan kaum beriman menjadi manusia yang pandai bersyukur.

Bagaimana Cara Syukur Nikmat?

Cerita 2 :

“Seorang direktur yang baru pulang dari Mekkah memberikan oleh-oleh peci dan sorban kepada sopir pribadinya. Dengan sangat senang, si sopir menerimanya dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Hadiah yang istimewa, dibeli di Mekkah. Sang direktur pun sangat senang karena ucapan terima kasih si sopir. Sampai akhirnya suatu hari Pak Direktur datang ke rumah pak sopir karena ada acara nikahan anaknya. Alangkah kagetnya Pak Direktur karena ternyata sorban yang diberikan dijadikan keset kaki serta peci dijadikan lap meja oleh pak sopir”.

 

Kalau Anda menjadi Pak Direktur bagaimana perasaan Anda? Apakah di saat lain Anda masih mau memberikan hadiah ke sopir Anda?

 

Syukur adalah menggunakan nikmat Allah secara proporsional. Dengan kata lain, nikmat yang kita terima harus dimanfaatkan sesuai dengan tujuan yang dikehendaki Allah sebagai Pemberi nikmat. Jadi syukur mempunyai makna yang sangat luas, tidak sekadar getaran terima kasih yang terungkap dalam hati, mengucapkan dengan lidah atau mengadakan syukuran.

Hal terpenting adalah memanfaatkan semua karunia Allah pada jalan yang diridhai-Nya. Misalnya, akal digunakan untuk berpikir, mempelajari hingga mampu membuahkan pemikiran-pemikiran yang baik dan benar. Anggota tubuh dimanfaatkan untuk ibadah dan melakukan hal-hal yang berguna bagi kesejahteraan hidup.

Imam Al Ghazali mengatakan ada tiga bersyukur kepada Allah yaitu :

  1. Bersyukur dengan hati, yaitu mengakui dan menyadari segala nikmat itu dari Allah.
  2. Bersyukur dengan lidah, yaitu mengungkapkan rasa syukur dengan banyak membaca Alhamdulillah.
  3. Bersyukur dengan amal perbuatan, yaitu menggunakan dan memanfaatkan seluruh anggota tubuh untuk beribadah kepada-Nya.

 

Apakah Pak Sopir tadi sudah bersyukur? Ternyata belum. Dia hanya bersyukur dengan lidah. Tapi amal perbuatannya tidak. Akibat dari perbuatannya itu, bisa jadi atasannya akan marah sehingga di saat lain atasannya tidak akan memberinya lagi hadiah.

 

Demikian pula dengan Allah yang telah memberikan kepada kita nikmat yang banyak. Jika digunakan untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan peruntukannya maka Allah akan marah kepada kita. Tapi kalau digunakan dengan baik di jalan yang diridhai Allah, maka Allah akan menambah nikmat-Nya kepada kita.

 

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”. (Q.S. Ibrahim : 7)

Bandung, 18 Agustus 2012

 

Syamril

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

8 − one =