Puasa dan Takbiran Agar Bersyukur (Bagian I)

0
449

Di dalam Al Qur’an, terkait dengan puasa dijelaskan di Al Baqarah : 183 – 185. Ada yang menarik di ujung Al Baqarah : 185 yaitu :

bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Q.S. Al Baqarah : 185)

 

Mentadaburi ayat ini, Allah memerintahkan kita di akhir Ramadhan untuk mengagungkan Allah (takbiran). Itu sudah rutin dilakukan. Untuk apa itu semua? Di akhir ayat Allah menyatakan bahwa itu dilakukan agar manusia bersyukur. Berarti tujuan takbiran, bahkan ibadah di bulan Ramadhan seperti puasa, tarawih, zakat dan sebagainya yaitu menjadikan kaum beriman menjadi manusia yang pandai bersyukur.

 

Apakah Syukur Itu?

 

Cerita 1 :

Seorang ibu yang memiliki rumah type 21 melihat tetangganya yang rumahnya type 36. “Alangkah bahagianya kalau punya rumah type 36, jadinya tidak berdesak-desakan seperti sekarang”, gumamnya. Pemilik rumah type 36 ternyata juga melihat tetangganya yang rumahnya type 64. “Alangkah bahagianya kalau punya rumah type 64, tiap anak punya kamar”. Eh ternyata pemilik rumah type 64 juga melihat tetangganya yang rumahnya type 100. “Alangkah bahagianya kalau punya rumah type 100. tiap anak punya kamar dan barang-barang juga punya tempat Kalau adakan arisan bisa leluasa di dalam rumah. Ternyata pemilik rumah type 100 juga melihat tetangganya yang rumah type 21. “Alangkah bahagianya pemilik rumah 21 itu. Rumahnya ramai dengan tawa dan canda, tidak seperti saya yang tinggal sendirian karena suami dan anak-anak super sibuk belum pulang sampai jam 9 malam”.

 

Dari kisah di atas, pertanyaannya siapakah yang bahagia? Ternyata orang lainlah yang berbahagia, dirinya tidak bahagia. Menurut masing-masing semua berbahagia, tetapi menurut diri masing-masing tidak ada yang bahagia. Kenapa terjadi seperti itu? Hal ini terjadi karena tiap orang fokus pada yang tidak ada (milik orang lain), bukan fokus pada yang ada (milik sendiri). Jika saja mereka bisa fokus pada yang ada (milik sendiri), bukan yang tidak ada (milik orang lain) maka semua akan bahagia.

 

Jadi kata kunci yang bisa membuat mereka bahagia adalah : fokus pada yang ada, bukan yang tidak ada. Itulah Syukur. Dengan bersyukur manusia akan bahagia.

 

 “Barang siapa yang tidak mensyukuri (pemberian) yang sedikit, dia tidak akan mensyukuri (pemberian) yang banyak.” (HR. Ahmad Baihaqi dan Abid-Dunya).

 

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (Q.S. Ibrahim : 34)

 

Nikmat Allah yang Harus Disyukuri

Nikmat Allah terbagi atas tiga bagian, yaitu :

  1. Nikmat kesehatan dan kehidupan

“Ambillah kesempatan yang lima sebelum datangnya yang lima, yaitu masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, hidupmu sebelum matimu dan waktu senggangmu sebelum waktu sibukmu.” (H.R. Hakim dan Baihaqi)

“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya serta baik pula amal perbuatannya.” (HR Tirmidzi)

  1. Nikmat akal (kemampuan berpikir)

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (Q.S. At Tiin : 4)

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (Q.S. An Nahl : 78)

  1. Nikmat hidayah beragama

Ini merupakan anugerah yang tak terhingga karena tidak sedikit orang yang merasa gelisah saat beribadah kepada Allah SWT. Berbahagialah orang-orang yang mampu merasakan nikmatnya beribadah kepada Allah karena merekalah orang-orang yang telah diberi hidayah oleh Allah SWT.

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (Q.S. Al Insan : 3)

 

Terkait dengan nikmat kehidupan khususnya harta benda, agar pandai bersyukur kita diminta untuk melihat ke bawah, berjiwa qana’ah (merasa cukup) dan jauh dari iri hati dan dengki. Tapi nikmat akal dan hidayah kita diminta melihat ke atas sehingga terpacu untuk selalu belajar, dan memperbaiki diri serta meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah. Kita diperbolehkan untuk iri kepada orang lain yang lebih berilmu dan beramal.

 

Syamril

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × three =