Pesan Moral dalam Puasa

0
582

“Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah pada-Ku” (Ad-Dzariyat:  51; 56).”

MediaKALLA.Com – Mengapa kita harus beribadah pada Allah? Ini demi kebahagiaan dan kemuliaan   yang pada hakikatnya kita butuhkan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.  Ayat ini  pemahamannya bukan berarti Allah membutuhkan ibadah kita, tetapi kitalah yang  membutuhkan beribadah kepada Allah.

Menilik ayat tersebut, maka ibadah itu menjadi kewajiban kita dan seluruh bentuk ibadah yang kita jalankan, pada dasarnya memiliki nilai moral. Sebagai tanggung jawab moral yang paling utama, dari setiap ibadah yang kita lakukan harus mengandung indikator peningkatan takwa kita. Menurut Rasulullah, jika ibadah kita tidak meningkatkan akhlak kita, maka ibadah yang dilakukan tak bermakna.

Dalam puasa Ramadhan bisa saja kita dapat melakukannya dengan benar berdasarkan fikih, namun kita perlu mengkritisinya dengan sebuah pertanyaan sederhana, “Sudahkah kita mengimplementasikan tanggung jawab moral dari perilaku berpuasa kita?” pertanyaan ini sangat besar korelasinya dengan sabda Rasulullah, “Banyak sekali orang berpuasa, tetapi tak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.”

Sebagai bentuk tanggung jawab moral, apa yang Anda syukuri pada saat berbuka puasa? Kalau Anda hanya bersyukur pada batas telah melalui ibadah puasa sesuai fikih di hari itu semata, lalu bersyukur atas nikmat hidangan buka yang dimakan semata, Anda belum sampai pada syukur dengan memaknai tanggung jawab moral atas hikmah puasa yang anda lakukan di hari tersebut.

Dengan puasa sesungguhnya Allah tidak hanya memerintahkan kepada kita untuk malaksanakannya dengan fikih yang benar semata, tetapi kita diminta menggunakan intuisi kita untuk memperhatikan dan merenungi tentang kenikmatan yang sudah didapat atas karunia-Nya. Kita juga perlu mengasah kecerdasan kita, imajinasi kita, dan  kepekaan kita bahwa kita harus merasakan langsung, betapa berlimpah nikmat yang telah Allah berikan kepada kita.

Bayangkan dan rasakan kembali saat kita berpuasa, pada pukul sembilan pagi sampai pukul dua belas siang lantaran tak makan dan minum, kita sudah menderita lapar dan haus. Lalu dari pukul dua belas sampai pukul lima sore penderitaan kita semakin bertambah, tubuh lemas bahkan kepala menjadi pening. Kemudian apa yang kita rasakan pada saat waktu berbuka puasa tiba? Bahagianya luar biasa, meskipun kita hanya berbuka dengan seteguk air dan sebiji kurma.

Di sinilah letak tanggung jawab moral dari puasa itu. Kita perlu menyadari bahwa melalui puasa Allah mendidik kita untuk menyadari bahwa kenikamatan yang Allah berikan saat berbuka kepada kita begitu tinggi harganya. Melalui puasa inilah, kita harus pandai bersyukur atas nikmat berlimpah yang kita dapati. Lantaran dengan rasa syukur itu membuat kita semakin merasakan kasih sayang dan ridha Allah atas ibadah yang kita lakukan.

Bagaimana bentuk syukur yang harus dimaknai dalam hal puasa? Betapa puasa memberikan engalaman lapar dan haus. Betapa lapar dan haus itu sesungguhnya membuat kita menderita. Di sinilah kita harus mempertajam kepekaan dan imajinasi kita, bahwa banyak di antara sesama yang masih menderita lapar dan haus lantaran kemiskinannya bukan karena berpuasa. Betapa penderitaan mereka entah kapan berakhir, sedangkan penderitaan lapar dan haus kita akan terhenti pada saat kita berbuka seiring dengan te3nggelamnya matahari di sore hari.

Dalam hal ini, sebagi bentuk tanggung jawab moral dari insan yang diberi kecerdasan, maka harus menumbuhkan rasa solidaritas untuk tidak sekadar merasakan menderita seperti mereka yang miskin. Namun kita harus menggerakan kalbu kita untuk bersedekah, menyantuni mereka yang miskin dalam bentuk apa pun yang kita mampu. Puasa tak bermakna apa-apa sebelum kita memperhatikan secara tulus dan berbagi dengan mereka secara ikhlas, inilah tanggung jawab moral yang tinggi dari perilaku puasa.

Di sisi lain kita juga perlu memaknai, bahwa kita perlu menjaga diri dari perilaku makan kita. Betapa sebaik-baik berbuka puasa adalah dengan rezekinya sendiri, yakni dari rezeki yang halal. Di lain hal, di dalam puasa kita mengenal istilah sahur, baik berbuka dan sahur pun ada waktunya. Betapa kita saat makan hidangan yang halal pun Allah mengajari kiita harus mengggunakan waktu yang tepat.

Ada nilai-nilai yang harus kita maknai pula dalam berbuka dan sahur di sini. Paling sederhana adalah kita harus memaknainya dengan bentuk tanggung jawab moral terhadap nilai disiplin. Jadi, bagi orang yang mampu memaknai tanggung jawab moral dari disiplin waktu sahur dan berbuka puasa, paling mudah menilai keberhasilannya dalam berpuasa adalah apakah yang bersangkutan integritas disiplinnya berubah menjadi baik atau tetap tak berubah. Kalau disiplin yang bersangkutan bertambah baik, inya Allah ini pertanda bahwa puasa yang bersangkutan diterima oleh Allah.

Di dalam berbuka puasa, Rasullah juga mengajari kita makan secukupnya dengan hidangan yang sederhana. Beliau bila berbuka puasa cukup dengan buah kurma dan seteguk air. Nah, dari hidangan   berbuka puasa yang kita siapkan dan kita santap, kita pun telah teruji dalam tanggung jawab moral untuk hidup sederhana. Pembaca yang budiman, mari kita maknai bagaimana tanggung jawab moral kita sesungguhnya dari cerminan saat kita berbuka, melalui apa yang kita santap. Semoga kita tergolong orang yang menjalankan akhlak Rasulullah. Semoga!

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/07/download.jpg” ]Edi Sutarto: Direktur Sekolah Islam Athirah[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.