Penataan Speaker Masjid Untuk Peningkatan Kualitas Umat (2)

0
652

MediaKALLA.com – Slamet Effendy Jusuf juga harus jujur dan objektif bahwa seruan penataan speaker mesjid bukan hanya datang dari DMI atau Pak JK sendiri, justru upaya ini tidak henti hentinya disuarakan atau dipelopori ulama ulama NU. Mari kita sesekali membuka situs-situs resmi NU, semua juga menyerukan agar loudspeaker mesjid ditata. Bahhan Gus Dur sejak tahun 1982 sudah menulis di Tempo tentang pentingnya menata speaker mesjid agar tidak bising dan tumpang tindih. Aneh kalau Slamet Effendy Jusuf sendiri tidak melihat upaya tersebut justeru tumbuh dan diperjuangkan oleh kaum Nahdiyyin lingkungan di mana Slamet Effendy Jusuf dibesarkan. Upaya penataan loudspeaker inipun punya landasan hukum, karena sejak tahun 1978 Dirjen Bimas Islam Depag telah mengeluarkan Instruksi Nomor KEP/D/101/1978 Tanggal 17 Juli 1978 Tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Mesjid, Langgar dancMushalla. Artinya bukan barang baru di Indonesia dan memiliki dasar hukum.

Kalau Pak JK jangan lagi diragukan kecintaanya kepada mesjid termasuk untuk hal hal kecil seperti loudspeaker. Di Indonesia ini belum pernah ada yang membangun menara masjid untuk tempat loud speaker setinggi yang pernah dibuat Pak JK tahun 1994 silam yakni menara Mesjid Al Markaz yang tingginya mencapai 90 meter. Menara yang terinspirasi oleh menara Masjid Nabawy di Madinah. Bahkan tidak banyak diketahui publik, jika setiap tahun Yayasan Kalla membagi bagikan ribuan speaker ke masjid-masjid dan mushallah agar kualitas soundnya bagus dan pembagian itu masih berlangsung sampai saat ini.

Soal pemicu insiden Tolikara, siapapun yang ditanya apa pemicu keributan di Tolikara pada saat kejadian, akan menyebut loudspeaker. Apakah dia Slamet Effendy Jusuf, Shodiw Mujahid atau Abdul Mu’ti, tentu akan percaya meyakini informasi aparatnya masing masing di lapangan. Karena itulah laporan pertama dan tercepat yang diterima dari aparat terbawah di lapangan dan termasuk Kapolda Papua. Karena mereka yang dari Jakarta, belum satupun ke lokasi. Wartawan yang bertanya kepada Pak JK menyebutkan dalam pertanyaannya; bagaimana tanggapan Pak JK atas pernyataan Kapolda Papua bahwa pemicu keributan di Tolikara adalah suara loudspeaker? Lalu dijawab Pak JK, bahwa dirinya mendapat informasi jika loudspeaker. Kepada wartawan Pak JK menjelaskan selaku Wapres, itulah pentingnya untuk saling memahami dan menahan diri serta membuka dialog agar peristiwa seperti itu tidak terjadi. Dan Pak JK meminta agar penegakan hukum dalam penyelesaiannya di kedepankan.

sumber; jusufkalla.info

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

6 + seventeen =