Pemimpin yang Baik : 7 – As from JK

0
733

MEdiaKALLA.com – Di akhir tahun 2013 ini JK dan keluarga melakukan perjalanan keliling Sulawesi Selatan. Melihat kondisi dan dinamika masyarakat terkini di kampung halamannya setelah selama ini kesibukan beliau lebih banyak melihat daerah di luar Sulsel bahkan di luar Indonesia. Sosok JK di masyarakat Sulsel khususnya bahkan Indonesia umumnya telah menjadi Guru Bangsa karena memiliki trust and respect yang tinggi. Trust (kepercayaan) karena memiliki kemampuan mumpuni untuk menyelesaikan masalah yang ada berbekal knowledge and skill serta pengalaman yang panjang. Respect karena dapat menghargai semua pihak dengan semangat kebersamaan dan keadilan dalam perlakuan. Apa yang membuat JK demikian? Ternyata kuncinya karena JK menjalankan Kerja 7 – As yaitu Kerja Ikhlas, Keras, Cerdas, Mawas, Tuntas, Berkualitas, dan Berintegritas. Mari kita cermati satu demi satu.

Suatu hari Dr. Syafi’i Antonio bertanya kepada JK apa rahasianya sehingga tidak pernah kelihatan lelah dan tetap semangat dalam beraktivitas meskipun usianya sudah tidak lagi muda. Jawaban JK sangat singkat dan padat “lakukanlah segala sesuatu dengan ikhlas. Kalau kita selalu ikhlas dalam segala hal, tentunya kita tidak akan pernah merasa capek dan hilang semangat”. Itulah salah satu kunci JK sehingga mengantarkannya menjadi pemimpin yang baik : Kerja Ikhlas. Itulah As yang pertama.

Apakah cukup hanya dengan Kerja Ikhlas? Ternyata tidak. Kerja Ikhlas menjadi syarat wajib, tapi belum cukup, ibarat makan tanpa nasi. Nasi menjadi wajib ada tapi belum cukup kalau belum ada lauk pauknya. Apa lagi yang lain? Ada 6 – As lagi yaitu Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Mawas, Kerja Tuntas, Kerja Berkualitas, Kerja Berintegritas.

Kerja Keras terkait dengan optimalisasi waktu bekerja melakukan hal yang positif dan bermanfaat. Bangsa Jepang yang dikenal pekerja keras, menggunakan waktunya sangat luar biasa produktif. Jarang kita temui ada karyawan bahkan PNS di Jepang yang santai menonton atau membaca koran di jam kerja karena tidak ada kesibukan. Mereka semua larut dalam pekerjaannya. Nah, jika kita melihat kehidupan pak JK, ternyata beliau juga seorang pekerja keras yang tangguh.

Sejak masih mahasiswa dengan beragam aktivitas kampus dan organisasi, sampai sekarang sebagai Ketua PMI dan DMI serta menjadi Guru Bangsa juga demikian. Satu hari bisa berada di beberapa tempat memberikan pencerahan kepada berbagai lapisan masyarakat. Sungguh hidup yang luar biasa, penuh kerja keras. Sampai istrinya pernah ‘protes’ dengan bertanya “kita kan sudah tua, mengapa tidak bersantai saja dengan cucu, jalan-jalan keliling dunia”. Namun bagi JK, hidup itu bukan ‘bersantai’, namun hidup adalah kerja keras, memperjuangkan misi mulia untuk agama, bangsa dan negara.

Kerja Keras belum maksimal jika tidak disertai dengan Kerja Cerdas.  Jika kerja keras banyak terkait dengan fisik maka kerja cerdas terkait dengan otak. Kerja Cerdas berarti mencari cara kerja yang efektif dan efisien. Metode yang kreatif dan solutif sehingga hasil yang dicapai maksimal. Kita bisa melihat dalam kehidupan pak JK saat beliau menjabat di pemerintahan. Berbagai taktik, strategi dan kebijakan yang ditempuhnya sungguh luar biasa aspek kerja cerdasnya.

Saat mendamaikan perang di Poso, pak JK mengajak mereka berdialog. JK menawarkan kepada kedua belah pihak dua pilihan yaitu berdamai atau perang sampai habis. Jika mau berdamai, pemerintah fasilitasi. Jika mau perang habis-habisan, pemerintah akan beri senjata kepada kedua belah pihak. Tentu saja mereka kaget dengan kedua pilihan ini. Dari pada semua habis, tentu lebih baik berdamai. Maka kedua belah pihak pun mau berunding. Cara diplomasi yang cerdas.

Selanjutnya untuk mencapai hasil yang maksimal juga dibutuhkan ketelitian dan kecermatan. Segala rencana kerja dipantau dengan baik pelaksanaannya. Jika ditemukan masalah dan penyimpangan maka segera dicarikan jalan keluar. Untuk itu dibutuhkan Kerja Mawas. Saat terjadi banjir di Jakarta sehingga jalan tol ke arah bandara tidak bisa dilewati yang mengakibatkan banyk orang ketinggalan pesawat, maka JK memberi solusi untuk membangun jalan tol yang lebih tinggi di sebelahnya. Tentu saja perlu penyelesaian yang cepat. Maka JK pun selalu mengawasinya dengan teliti dan cermat. Setiap pekan dipantau perkembangannya. Akhirnya pekerjaan pun dapat diselesaikan sesuai target. Banyak cerita tentang Kerja Mawas pak JK yang dikisahkan oleh para Menteri yang memiliki pengalaman menarik dengan beliau. Silakan dibaca di buku “Mereka Bicara tentang JK”.

Jika Kerja Keras, Cerdas dan Mawas bisa dilakukan maka Insya Allah Kerja Tuntas pun dapat dilaksanakan. Maksudnya rencana yang sudah disusun di tahap awal betul-betul dilaksanakan sampai tuntas. Bukan ‘panas-panas tahi ayam’ atau hanya semangat di awal saja. Setelah itu 3L atsu letih, lesu dan loyo lagi. Di sinilah diperlukannnya konsistensi, pantang menyerah, endurance, daya tahan menghadapi segala problematika kerja.
Program Konversi minyak tanah ke gas adalah salah satu contoh program pemerintah di era JK yang tuntas pelaksanaannya sampai dapat mengubah kebiasaan masyarakat menjadi lebih baik. Semuanya untung karena subsidi APBN ke BBM berkurang drastis dan masyarakat menikmati energi yang murah dan ramah lingkungan. Jika program ini tidak dikawal sampai tuntas, bisa jadi menimbulkan gejolak masyarakat karena multi dimensi. Tidak semata ekonomi tapi juga sosiologi.

Adanya 5-As tadi yaitu Kerja Ikhlas, Keras, Cerdas, Mawas dan Tuntas mengakibatkan Kerja menjadi Berkualitas. Dalam ilmu manajemen diajarkan tentang siklus PDCA (Plan, Do, Check, Action) yang harus dilakukan jika ingin meraih hasil yang berkualitas di bidang apapun baik bisnis, politik, sosial, pendidikan dan sebagainya. Berbagai prestasi yang diraih oleh JK sekarang ini sebagai Ketua  PMI yang berhasil mengedukasi masyarakat sehingga menjadikan donor darah sebagai gaya hidup adalah buah dari Kerja Ikhlas, Keras, Cerdas, Mawas dan Tuntas. Proses perdamaian di Aceh pun demikian. Kualitas kerjanya dapat dinikmati oleh rakyat Aceh sampai sekarang.

Akhirnya itu semua tidak akan dapat diraih jika tidak dilengkapi dengan Kerja Berintegritas. Trust  and respect dari berbagai pihak lahir sebagai dampak adanya kesesuaian antara pikiran, perkataan dan perbuatan. Sehingga melahirkan pribadi yang jujur dan dapat dipercaya. Bahasa Bugis menyebutnya “taro ada taro gau”. Apa yang dijanjikannya berusaha diwujudkan sepenuh hati dan sekuat tenaga, serta jauh dari segala cara yang melanggar norma dan etika apalagi sampai merugikan masyarakat karena terindikasi korupsi.

Integritas juga ditunjukkan pada keteguhan memegang prinsip dan membela kebenaran. Apa yang diyakininya salah maka ditentangnya serta ditindak tanpa pandang bulu. Kasus Bank Century merupakan contoh yang menarik dari Pak JK. Saat Presiden ke luar negeri sehingga wewenang tertinggi pemerintahan ada di pak JK, kemudian dilihatnya ada kejanggalan dan penyimpangan maka dengan cepat diambil tindakan tegas dengan memerintahkan Kapolri untuk mencekal dan menangkap pelakunya. Pada kasus ini yang sampai sekarang belum tuntas di KPK, pak JK menjadi salah satu ‘narasumber’ terpercaya untuk membuka tabir century.

Demikianlah 7-As dari perilaku dan kehidupan pak JK yang dapat kita jadikan sebagai teladan untuk menjadi pemimpin yang baik. Mari mengemban amanah dengan melakukan Kerja secara Ikhlas, Keras, Cerdas, Mawas, Tuntas, Berkualitas dan Berintegritas. Semoga 7-As from JK ini dapat menjadi kartu As bagi kita untuk menjadi pemimpin yang dikenang sepanjang masa sebagai pemimpin yang luar biasa.

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group [/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen − sixteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.