Pemimpin yang Baik (2)

0
629

MEdiaKALLA.com – Hari Senin 16 Desember 2013 jam 9 pagi saya bersama tim dari Dinas Pertanian Sulsel dan Direktur PT Alamanda Bandung melakukan survey lapangan ke Jeneponto melihat kebun markisa dataran rendah masyarakat yang akan difasilitasi oleh Yayasan Kalla untuk diekspor ke Singapore. Setelah melihat kebun markisa kami pun menuju Bantaeng melihat cold storage, lalu menuju rumah Bupati Bantaeng dan tiba sekitar jam 17.30.  Setelah rehat, ngobrol, jalan-jalan ke Pantai Marina, shalat Magrib Isya, ke Pantai Seruni kemudian makan malam, kami pun kembali ke Makassar dan  tiba di Makassar jam 23.30.

Perjalanan yang mencerahkan terutama saat bersama Pak Nurdin Abdullah, Bupati Bantaeng selama 3 jam. Banyak yang saya pelajari dari kepemimpinan beliau yang memasuki periode kedua, setelah menang satu putaran dengan suara mencapai 80%, tanpa kampanye dan baligho yang besar. Bandingkan dengan daerah lain yang menang hanya dengan suara 30%. Saya mencoba mencari tahu apa yang menyebabkan beliau bisa dipilih oleh 80% rakyat? Seperti apa gaya kepemimpinannya? Dari kebersamaan selama 3 jam, Alhamdulillah saya dapat menemukan 6 kunci kepemimpinan beliau yang luar biasa.
Saat obrolan sore, ada dua cerita yang bagi saya memiliki makna mendalam. Pertama, beliau tidak tinggal di rumah jabatan tapi lebih memilih di rumah pribadi. Apa alasannya? Kata beliau, biar kalau berhenti atau selesai masa jabatannya tidak pusing lagi pindah rumah. Apa maknanya? Bahwa jadi Bupati itu hanya sementara, akan ada akhirnya. Artinya jabatan ini bukan milik pribadi, tapi amanah dan titipan dari rakyat. Kelak akan berhenti setelah dua periode.

Memang demikianlah hakikat sebuah jabatan, ia hanyalah titipan yang sementara, tidak akan selamanya. Seperti halnya  hidup ini juga sementara. Ada kematian yang akan memutus segalanya. Allah menciptakan awal dan akhir, lahir dan mati yang semuanya merupakan ujian bagi manusia. Siapa yang lulus ujian ini? Ternyata bukan yang paling tua, bukan yang paling kaya, bukan yang paling berkuasa, bukan yang paling pintar. Tapi yang lulus adalah yang paling baik amalnya. Paling banyak manfaatnya.

Jadi kunci pertama yang harus dimiliki oleh pemimpin yang baik adalah kesadaran bahwa jabatan itu sementara, ada akhirnya dan itu hanyalah titipan, bukan milik pribadi. Jika waktunya tiba, ia akan berakhir. Tinggal finishnya apa berakhir dengan baik (husnul khatimah) atau berakhir dengan buruk (su’ul khatimah) seperti beberapa pejabat di negeri ini yang berakhir jadi tahanan KPK.

Cerita kedua yaitu selama menjabat beliau belum pernah membeli mobil dinas. Mobil yang dipakai sehari hari adalah mobil pribadi karena beliau memang orang yang kaya sebelum menjadi bupati. Apa makna dari cerita ini dikaitkan dengan kepemimpinan? Ternyata memang ada dua modus kehidupan termasuk kepemimpinan yaitu modus memberi dan memiliki. Orang yang modusnya memiliki maka setelah dilantik yang pertama dipikirkan adalah apa yang dapat saya raih dari jabatan ini. Dihitungnya peluang komisi dari APBD atau setoran upeti yang dapat memperkaya diri.  Lupalah dia bahwa itu semua haram karena hasil korupsi. Tak pedulilah dia bahwa itu semua akan merugikan rakyat. Bagi dia, yang penting saya bahagia meskipun harus mengorbankan orang lain.

Berbeda dengan orang yang modusnya memberi. Setelah dilantik yang dipikirkan adalah manfaat apa yang dapat saya berikan kepada rakyat melalui jabatan ini. Apa masalah rakyat yang dapat saya selesaikan di waktu yang singkat ini. Itu semua membuatnya bekerja keras siang dan malam tak kenal lelah namun bahagia karena melihat orang lain atau rakyatnya bahagia.

Jadi kunci kedua yang harus dimiliki oleh pemimpin yang baik yaitu berparadigma memberi bukan memiliki. Apa bedanya? Paradigma  memberi yaitu mencari kebahagiaan dengan cara membahagiakan orang lain. Paradigma memiliki yaitu mencari kebahagiaan dengan cara mengorbankan orang lain. Pemimpin yang baik yaitu pemimpin yang bahagia karena membahagiakan orang yang dipimpinnya.

Setelah ngobrol di rumah pribadi beliau, kami diantar jalan-jalan ke Pantai Marina dan Pantai Seruni. Melewati jalan-jalan utama yang bersih, hijau dan teduh karena ranting pohon sisi kiri dan kanan jalan bertemu di tengah jalan membentuk atap daun yang indah seperti di Perumahan Bukit Baruga. Di pinggir kiri dan kanan jalan ada jalur sepeda dan motor. Teman seperjalanan yang dulu pernah ke Pantai Marina jadi pangling karena seingat dia lima tahun lalu pantai ini kotor dan penuh alang-alang. Sekarang sudah berubah jadi sangat bersih dan indah lengkap dengan hotel kecil, saung di pinggir pantai dan fasilitas umum lainnya.

Saat di Pantai Seruni pun demikian. Kami dibawa ke alun-alun tempat upacara pinggir pantai yang bersih. Di sebelahnya sedang dibangun rumah sakit berkelas Internasional. Rumah sakit dengan pelayanan berkelas dunia di pinggir pantai yang indah. Semoga dapat menjadi tempat pilihan bagi orang-orang kaya yang suka berobat ke Singapore.  Tentunya setelah memenuhi kebutuhan layanan kesehatan masyarakat sendiri. Tidak jauh dari situ juga sedang dibangun pelabuhan berkelas Internasional sehingga ekspor dapat langsung dari Bantaeng, tidak harus ke Makassar.

Apa pelajaran dari cerita ini? Ternyata kunci ketiga yang harus dimiliki oleh pemimpin yang baik yaitu konsep, gambaran atau visi yang jelas dari apa yang ingin diwujudkannya. Dalam ilmu manajemen disingkat dengan SMART yaitu Specific, Measureable, Agreed, Reliable, Time Bound.  Dengan SMART ini maka visi atau impian tidak menjadi khayalan hampa karena jelas, terukur, disepakati, dapat diraih dan dibatasi oleh waktu sesuai ungkapan “a target is a dream with a deadline”, artinya sebuah target adalah sebuah mimpi dengan tenggat waktu yang jelas.

Bagaimana mewujudkan semua impian itu? Beliau bercerita, agar Bantaeng bersih maka standarnya adalah sebelum masyarakat bangun, jalan jalan kota sudah harus bersih. Jika ada acara besar seperti shalat idul fitri atau idul adha, dua jam setelah acara sudah harus bersih seperti sedia kala.  Itu bisa dijalankan dengan reward yang menarik untuk para petugas kebersihan. Salah satu bentuk rewardnya adalah umrah setelah melalui penilaian kinerja.

Ternyata kunci keempat dari kepemimpinan yang baik yaitu adanya system baik berupa prosedur kerja dalam bentuk  SOP, reward system atau peraturan lainnya yang jelas dan dijalankan dengan konsisten dan adil. Sering kita temukan SOP dan peraturan sudah dibuat setelah melalui studi banding dan melibatkan konsultan. Tapi tidak memberi dampak berarti karena pelaksanaannya yang tidak konsisten dan adil. Akhirnya peraturan, SOP dan lainnya hanya jadi dokumen ibarat macan ompong yang awalnya menakutkan tapi kemudian menggelikan.

Dalam perjalanan tersebut kami juga ditemani oleh Pak Syamsu Alam, Kepala Dinas Pertanian yang juga merangkap sebagai Kepala Dinas Pendidikan. Cerita Bu Ida dari Dinas Pertanian, Pak Syamsu Alam ini latar belakangnya adalah dosen yang diminta bantuan oleh Bupati menjadi Kepala Dinas. Tentu pertimbangannya karena beliau memiliki kompetensi di bidangnya, bukan semata pejabat atau birokrat yang kurang menguasai bidang kerjanya.
Ternyata kunci kelima dari kepemimpinan yang baik yaitu tim handal dengan SDM unggul yang akan mengimplementasikan program dengan segala system dan prosedurnya. Cirinya ada tiga yaitu Kompetensi, Karakter dan Kemauan (Passion). Kompetensi terkait dengan kemampuan kerja yang dibentuk oleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. Karakter salah satunya terkait dengan integritas berupa kejujuran yaitu sesuainya pikiran, perkataan dan perbuatan.  Kemauan atau passion terkait dengan kepercayaan diri, inisiatif dan semangat menghadapi segala tantangan karena mengerjakan sesuatu dari panggilan hati sehingga enjoy, easy, excellent and earn dalam bekerja.

Hari itu hari Senin saat kami disuguhi minuman dan makanan ringan, Pak Syamsu Alam tidak ikut menikmati karena sedang berpuasa. Pak Bupati mengatakan sebenarnya hari ini saya juga berpuasa, cuma tadi siang ada tamu dari Direksi Bank Mandiri sehingga harus berbuka karena menghormati dan menjamu makan siang. Ternyata kebiasaan beliau bukan cuma puasa sunnah, tapi juga shalat tahajjud di penghujung malam.. Jadi kunci keenam dari kepemimpinan yang baik yaitu mendekatkan diri kepada Allah baik dalam keadaan suka maupun duka.  Memohon do’a dan pertolongan Allah agar dapat menjalankan amanah dengan baik.

Demikianlah 6 kunci kepemimpinan yang baik yang digali dari 3 jam bersama Bupati Bantaeng yaitu :
1.      kesadaran bahwa jabatan itu sementara, ada akhirnya dan itu hanyalah titipan, bukan milik pribadi.
2.      berparadigma memberi yaitu mencari kebahagiaan dengan cara membahagiakan orang lain. Bukan memiliki yaitu mencari kebahagiaan dengan cara mengorbankan orang lain.
3.      memiliki konsep, gambaran atau visi yang jelas sesuai kriteria SMART yaitu Specific, Measureable, Agreed, Reliable, Time Bound.
4.      adanya system baik berupa prosedur kerja dalam bentuk  SOP, reward system atau peraturan lainnya yang jelas dan dijalankan dengan konsisten dan adil.
5.      tim handal yang  memiliki Kompetensi, Karakter dan Kemauan (Passion) yang akan  mengimplementasikan program dengan segala system dan prosedurnya.
6.      Memohon do’a dan pertolongan Allah agar dapat menjalankan amanah dengan baik.

Semoga 6 kunci tersebut juga dapat kita miliki sehingga kita dapat menjadi pemimpin yang baik, yang dicintai oleh anggota tim atau rakyat yang kita pimpin. Menjadi cerita dan teladan yang baik bagi generasi yang akan datang. Serta kelak di Hari Kemudian akan termasuk satu dari tujuh golongan yang akan mendapatkan perlindungan dari Allah SWT dan dijanjikan surga karena menjadi pemimpin yang jujur, amanah,  adil dan istiqamah. Amin.

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group [/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

10 − one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.