Passion itu Cinta

0
566

MEdiaKALLA.com – Bagi seniman yang sedang berkarya, waktu yang lama terasa sangat cepat. Lukisan yang sangat rumit atau ukiran yang sulit dan perlu akurasi dan presisi tinggi dikerjakannya dengan hati-hati tak kenal lelah sebelum karyanya selesai. Demikian pula dengan peneliti atau matematikawan yang sedang mengutak atik rumus atau permasalahan sains, terkadang berhari-hari mengutak atik angka tidak terasa lelah atau bosan sebelum permasalahan yang dihadapi terpecahkan. Coba bandingkan dengan pengalaman diri kita waktu dulu belajar matematika di sekolah. Dua jam terasa dua puluh jam, demikian tersiksa dan ingin segera bel berbunyi agar penderitaan segera berakhir.

Mereka semua melakukan aktivitas dengan senang dan bahagia. Mengapa bisa seperti itu? Kuncinya mereka mengerjakan sesuatu yang disenangi dan dicintainya. Kalimat bijak mengatakan : “Kerjakan apa yang Anda cintai, dan cintai apa yang Anda kerjakan”. Jika cinta sudah masuk dalam aktivitas kita maka waktu rasanya bergerak begitu cepat, terasa mengalir (flow). Kita bisa focus dan konsentrasi dengan baik tanpa ada beban dan rasa lelah. Mungkinkah itu juga terjadi pada aktivitas seharian di kantor? Tentu sangat mungkin dengan syarat kita mengerjakan sesuatu dengan cinta. Nah, bagaimana agar bisa mencintai pekerjaan? Kuncinya ada pada motivasi.

Motivasi mengerjakan sesuatu ada tiga tingkatan yaitu ketakutan, harapan dan cinta (rela /ridha). Ada orang mengerjakan sesuatu karena takut dengan resiko jika dia tidak melakukannya. Misalnya, jika tidak mencapai target, bonus akan berkurang, atau gaji dipotong bahkan bisa dipecat dari pekerjaan. Ini motivasi tingkat pertama yaitu ketakutan. Melakukan pekerjaan sebagai kewajiban dengan berat hati, dan sekadar menggugurkan kewajiban. Dia mengerjakan sesuatu karena skenario orang lain. Akibatnya kualitas kerjanya pun asal-asalan. Orang yang berada di tingkatan ini akan sulit menggapai sukses apalagi bahagia dalam bekerja. Untuk itu perlu naik ke level kedua yaitu harapan.

Setiap manusia senang jika mendapatkan sesuatu sebagai imbalan atas pekerjaannya. Imbalan ini bisa berupa materi atau non materi seperti pujian dan penghargaan. Dia akan bekerja sungguh-sungguh mencapai target karena akan mendapatkan bonus jika berhasil. Dia dengan sukarela menderita karena setelah itu ada kesenangan yang akan diraih sebagaimana pepatah “bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian”. Ada harapan akan keadaan yang lebih baik di masa yang akan datang. Inilah motivasi level kedua yaitu harapan.

Pada tingkatan ini manusia melakukan tugas pekerjaan bukan lagi sekadar kewajiban tapi juga sebagai kebutuhan. Dia mengerjakan sesuatu karena skenario sendiri. Bisa jadi tugas itu dari skenario atasannya, namun adanya harapan tadi membuat dia menjadikannya bagian dari skenario diri sendiri. Orang yang berada di tingkatan ini akan mudah menggapai kesuksesan dalam bekerja. Apa yang diharapakan akan mudah diraihnya. Cuma tingkatan ini belum menjamin lahirnya kebahagiaan setelah mencapai keberhasilan. Bisa jadi hanya meraih kesenangan (pleasure). Banyak orang mencapai target, meraih bonus, naik jabatan dan hidup dengan senang karena berbagai fasilitas, namun hidupnya belum bahagia. Dia menderita toxic success (racun kesuksesan). Setelah mencapai harapan, terasa adanya kehampaan. Untuk apa ini semua? Dia kehilangan makna.

Bagaimana agar bisa senang dan juga bahagia? Dia harus naik ke level ketiga yaitu cinta (rela/ridha). Agar bisa rela mengerjakan sesuatu maka apa yang dikerjakan harus lahir dari diri sendiri, inside – out. Maksudnya dia mengerjakan sesuatu sesuai dengan bakatnya sehingga bagi dia, ini bukan pekerjaan tapi hobby. Seorang teman yang jadi chef mengatakan “chef is my passion, not my job”. Untuk itu kenali diri Anda, bakat Anda sehingga anda mengatakan inilah saya, Pekerjaan ini GUE BANGET bagi saya. Lakukan pencarian melalui eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi diri dengan berbagai eksperimen dan experience. Ibarat sedang bercermin, lihat dari berbagai posisi dan sudut pandang sehingga terlihat secara utuh.

Sebenarnya kita bisa mengenali sesuatu yang “GUE BANGET” dengan mengenali indikasinya. Jika saat melakukan sesuatu Anda sangat “enjoy and easy” sehingga hasilnya ‘excellent” maka itu sudah indikasi menemukan diri. Pada tahun 2000 – 2004 saya pernah menjalani dua pekerjaan secara bersamaan yaitu sebagai guru / trainer (SMP, SMA dan Pelatihan Guru) dan juga sebagai insinyur (Acoustic and Noise Control). Pekerjaan guru/trainer banyak bertemu dengan orang-orang. Berbeda dengan pekerjaan insinyur, bertemu dengan peralatan, data, angka, computer dan benda mati lainnya. Ternyata setelah menjalani terasa bahwa saya lebih enjoy & easy saat jadi guru/trainer. Hasilnya pun excellent.  Berbeda saat jadi insinyur, saya tidak bisa menikmatinya. Meskipun guru/trainer gajinya kecil dibandingkan dengan insinyur karena terasa lebih bahagia akhirnya saya pun mantap meninggalkan pekerjaan insinyur dan memilih jadi guru/trainer. Bagi saya inilah “GUE BANGET” saya.

Pada awalnya itu saya lakukan dengan mengikuti kata hati hasil eksplorasi dan elaborasi diri. Pada tahun 2007 itu semua terkonfirmasi setelah saya mengikuti “talents mapping”. Ternyata bakat saya memang dominan di relation and thinking (right brain) yang cocok untuk pekerjaan guru dan trainer. Bukan di striving and thinking (left brain) yang diperlukan untuk pekerjaan insunyur. Meskipun S1 saya di Teknik Fisika ITB ternyata tidak menjamin insinyur merupakan passion saya. Untungnya dulu pada tahun 2005 saya berani memilih jalan saya, mengikuti kata hati saya yang Alhamdulillah sesuai dengan bakat saya sehingga saya mengerjakannya dengan penuh kerelaan.  Saya pun kemudian mengembangkan kemampuan diri dengan melanjutkan pendidikan ke S2 pada bidang pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia.

Pada akhirnya agar bisa sukses dan bahagia perlu pemaknaan yang bersifat spiritual. Allah menciptakan manusia itu unik. Masing-masing ada tugas khusus, untuk itu Allah membekali kita dengan bakat yang special. Penciptaan kita memiliki tugas mulia sebagai khalifah, pengelola, pemakmur dan pemimpin bumi. Khalifah yang mulia untuk menyebarkan rahmat bagi semesta alam. Memberi manfaat bagi diri sendiri (personal), orang lain (people) dan bumi (planet). Agar rahmat dan manfaat itu bisa maksimal maka peran yang diemban harus sesuai dengan bakatnya sehingga mampu melahirkan yang terbaik sebagai  wujud syukur anugerah Allah. Jika pekerjaan dilakukan sesuai bakat maka maka akan tumbuh kerelaan dan kecintaan pada pekerjaan tersebut. Itulah passion. Allah berfirman :
Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (Q.S. Al Israa’ : 84)

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group – Ramadhan 1434 H[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × 4 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.