Orang yang Taqwa Pasti Bahagia

0
601

MediaKALLA.co.idBa’da Dzuhur, di Musholla Wisma Kalla lantai 4, seperti hari kemarin, jamaah selalu disuguhkan hidangan spesial’ Ramadhan. Karena ini lagi bulan puasa, maka hidangan spesialnya itu sebuah pencerahan atau yang biasa disebut ceramah.

Saat khotib mengucapkan nama beliau (Prof. Hamdan Juhannis) telingaku masih terasa asing. Tetapi saat disebutkan bahwa yang akan membawakan ceramah hari ini adalah sekaligus penulis buku “Melawan Takdir” refleks aku langsung memperbaiki posisi dudukku dan menengok ke mimbar. Berusaha mengenali si penulis buku yang quotenya biasa terpasang menjadi display picture BBM ku.

Dari sosoknya tergambar isi buku yang telah dituliskannya. Namun bukan bukunya yang dia bahas, melainkan motivasi dalam menjalani kehidupan yang bernafaskan Islam.  Itudituang ke dalam 3 segment, yang pertama adalah etos kerja, kedua adalah doa optimis dan ketiga adalah harapan hidup.

Dalam dunia globalisasi saat ini, kita dituntut untuk meningkatkan etos kerja.  Akan tetapi etos kerja yang seperti apa yang dimaksudkan Prof termuda di Sulawesi Selatan sekaligus guru besar Sosiologi UIN Alauddin tersebut?. Etos kerja yang penuh semangat yang tidak hanya sekedar bekerja, tapi bagaimana kita mampu mengatur waktu kita dengan baik. Sehingga ibadah kita tetap menjadi yang utama di tengah gempuran kesibukan pekerjaan.

Jangan sampai karena alasan kesibukan, membuat kita menunda beribadah, membuat kita lupa bahwa bekerja sejatinya bukan hanya untuk mencari uang. Namun, jika kita mampu memaknainya sebagai ibadah, seharusnya ibadahlah yang mendasarinya dan kita tidak terjebak dalam kesibukan kita tersebut.

Pria kelahiran Bone tesebut, mengatakan saat ini do’a yang dipanjatkan umat Islam pada umumnya bersifat pesimis, mengapa? Karena do’a yang dipanjatkan seperti orang yang kehilangan harapan di hadapan Sang Maha Kaya. Ketika dalam berdo’a saja kita menunjukkan sikap pesimis bagaimana kita mampu memotivasi diri? Sedangkan dalam Al-Quran saja telah tertulis ayat yang artinya Allah SWT tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali dia yang mengubah nasibnya sendiri”. Nah, dalam Al-Quran saja telah jelas digambarkan, apakah kita tersentak dengan ayat tersebut? Ataukah kita hanya menjadikannnya bacaan dan tidak memaknainya?

Pria yang dibesarkan oleh ibu yang bekerja sebagai penenun kain Sengkang ini memberikan tips do’a optimis yang mungkin masih jarang, bahkan belum pernah kita lafadzhkan ketika bero’a, dengan semangat khas anak rantau, beliau mengatakan ‘seharusnya doa kita seperti ini, Ya ALLAH I’ll do my best

Motivasi ketiga adalah harapan hidup. Profesor lulusan Universitas Canbridge dan lulusan terbaik universitas australia ini juga menyinggung soal life style orang Indonesia. Beliau mengambil contoh Makassar, dengan beragam kulinernya. Karena semua tersedia, kita terkadang lupa bahwa makanan juga menjadi salah satu faktor yang sangat penting untuk menyelaraskan harapan hidup. Tetapi yang perlu kita perhatikan pula adalah makan-makanan halal dan sehat.

Berdasarkan survei, orang – orang di Jepang berumur 90-100 tahun. Angka yang fantastis bukan? Itu karena mereka senang mengolah makanan mereka sendiri serta menyeimbangkan dengan olahraga. Kalau soal pekerjaan, mereka jangan ditanya, mereka adalah pekerja keras.  Bukankah sudah menjadi budaya orang luar negeri bahwa berjalan kaki itu menyehatkan? Selain itu dalam ilmu kedokteran, disebutkan bahwa dengan berjalan kaki setiap hari minimal 30 menit, selain baik untuk kesehatan tulang juga dapat membentuk sel-sel baru bagi tubuh.

Nah, pilihan berada di tangan kita, apakah kita mau menambah harapan hidup dengan menjalani life style sesuai keinginan kita atau mengambil contoh life style positif?

Seiring dengan gempuran modernisasi dan globalisasi, kita cenderung menjadi materialistis. Padahal orang yang materialistis sering susah berhadapan dengan kenyataan hidup. Karena mereka suka mengkonsumsi sesuatu dengan keinginan bukan kebutuhan. Anak Bone yang sempat berjualan kue pawa di kampungnya demi memenuhi kebutuhan hidup sejak ditinggal ayahnya diusianya yang masih belia tersebut sempat berinteraksi dengan jamaah Sholat Dzuhur Wisma Kalla.

Ia sempat bertanya tentang aplikasi yang sering digunakan di smartphone yang setiap bulan selalu saja berganti tipe dan harga. Tanpa disadari kita telah menjadi manusia konsumtif, di mana barang yang kita beli sesuai dengan keinginan kita bukan kebutuhan kita. Masih dengan dialeg khas Bugis beliau menuturkan bahwa sebaiknya kita jangan terjebak ke dalam dunia yang serba konsumtif, etos kerjalah yang harus kita selaraskan ke dalam dunia yang serba cepat.

Ditunjang dengan sikap optimis sehingga doadoa optimis juga menjadi salah satu pilihan untuk mengningkatkan kapasitas diri menjadi pribadi dengan harapanharapan hidup baru. Sehingga bahagia bisa tercipta dengan berlandaskan ketakwaan kita terhadap Sang Maha Rahmaan, Sang Maha Pengasih. Karena orang yang takwa kepada ALLAH SWT, pasti bahagia. [Anita Anwar / Sales Program & Performance Management PT Hadji Kalla]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × two =