Negara Semakin Tidak Adil

0
582

MediaKALLA.com – Wakil Presiden RI 2004-2009 menjadi pembicara dalam Seminar Nasional “Temu Gagasan Tokoh Nasional Menuju Indonesia Lebih Baik 5 Tahun ke Depan” di Universitas Padjadjaran, Bandung, Selasa, 25 Maret 2014.

JK, sapaan akrab Jusuf Kalla mengatakan keadilan yang dirasakan rakyat kian menurun. Indikator pemerataan ekonomi, kata JK bisa dilihat dari Gini Ratio. Pada 2004 Gini Ratio di Indonesia tercatat 0,37 dan kini sepuluh tahun kemudian semakin mendekati angka satu yang mengindikasikan semakin tidak adil.

“Dulu tahun 2004 Gini Ratio kita sebesar 0,37 tapi sepuluh tahun ini justru makin tidak adil di angka 0,41,” ujarnya.

Sumber daya untuk maju, lanjut dia, sudah dimiliki semua oleh Indonesia. Bahkan Indonesia selalu memiliki perencanaan pembangunan yang baik. Namun yang paling ironi justru pada sisi pelaksanaan.

“Perencanaan selalu bagus, tapi yang tidak bagus pelaksanaannya,” tutur JK yang disambut tepuk tangan seluruh peserta seminar.

Pemerintah, lanjut JK, baiknya selalu turun ke lapangan untuk mengetahui masalah dan menyelasaikannya dengan cepat, bukan di belakang meja.

JK lalu bercerita pada tahun 2007 saat menjabat Wapres RI ia memarahi Departemen Pertanian yang memiliki kantor besar tetapi tidak mampu produksi beras dengan baik.

“Tidak ada kantor pertanian yang sebesar di Indonesia, tetapi impor beras juga yang paling besar,” kata JK disambut grrr para hadirin.

Saat itu dengan tangkas JK memberi target tahun 2008 Indonesia harus swasembada beras dengan ancaman jika tidak terpenuhi, maka kantor (Departemen Pertanian) akan disewakan untuk membeli bibit.

“Tahun depan (2008) Indonesia harus swasembada beras, jika tidak, kantor ini (Departemen Pertanian) akan saya sewakan untuk membeli bibit,” tukasnya bercerita.

Menurutnya terlalu banyak orang pintar seperti insinyur bekerja di belakang meja, bukan di lapangan, padahal para petani dan masyarakat lainnya ada di lapangan. Pemerintah harus menjadi teladan pelaksana yang baik.

Seperti pada banyak kesempatan, JK yang mengenakan batik lengan panjang berwarna abu-abu mengatakan negara ini butuh pemimpin yang berani mengambil keputusan, bukan hanya sekedar menghimbau.

“Pemerintah itu harusnya memerintah bukan menghimbau, karena pemberi perintah mau bertanggung jawab, sedangkan menghimbau, tanggung jawabnya yang melaksanankan himbauan,” selorohnya.

Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat yang juga menjadi pembicara seminar kemudian memuji kepemimpinan JK yang mampu memberi perintah untuk dilaksanakan secara baik dengan orientasi hasil yang jelas.

“Dulu saya pernah ikut rapat Pak JK (saat Wapres) rapatnya unik, selalu memberi perintah, menunjuk instansi yang bersangkutan, dan diberi target, minggu depan harus selesai,” ujar Aher yang disambut tepuk tangan.

Hadir pula pada seminar tersebut Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo, Rektor Universitas Padjadjaran Prof. Ganjar Kurnia, dan jurnalis senior Desi Anwar yang bertindak sebagai moderator.

Sumber : http://jusufkalla.info/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.