Nabi Adam AS : Khalifah dengan Kecerdasan “Setia”

0
746

Penunjukan Nabi Adam AS sebagai khalifah menimbulkan kehebohan di kalangan malaikat dan iblis. Malaikat mempertanyakan keputusan tersebut. Walau akhirnya setelah Allah mengatakan “Aku tahu apa yang kamu tidak ketahui” dan mempertandingkan Adam dengan malaikat untuk menyebut nama-nama benda di mana malaikat kalah, maka malaikat pun mengikuti perintah Allah untuk sujud kepada Adam. Berbeda dengan iblis, dia menolak keras untuk sujud kepada Adam dengan alasan merasa lebih mulia karena diciptakan dari api dan Adam hanya dari tanah. Karena itu iblis pun masuk dalam golongan sesat dan kemudian bersumpah untuk menyesatkan anak cucu Adam.

Mengapa Allah menunjuk Adam sebagai khalifah? Apa yang Allah bekali atau lebihkan kepada  Adam dibandingkan dengan malaikat dan Iblis? Jika melihat rangkaian cerita penciptaan Adam sampai pada turunnya Adam ke bumi maka dapat ditemukan minimal 5 bekal dan kelebihan Adam. Apa sajakah itu? Adam memiliki kesempurnaan dalam aspek Spiritual, Emosional, Taktikal, Intelektual dan Aspirasional atau disingkat SETIA.

Adam memiliki kualitas spiritual yang luar biasa karena Adam setelah disempurnakan fisiknya Allah pun meniupkan ruh-Nya kepada Adam. Allah berfirman :

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (Q.S. Al Hijr : 29)

Adanya ruh ciptaan Allah tersebut menjadikan Adam dapat meniru sifat-sifat Allah. Jika Allah Maha Pengasih dan Penyayang maka Adam pun juga bisa mengasihi dan menyayangi. Demikian pula dengan kita sebagai anak cucu Adam, juga bisa meniru sifat-sifat Allah. Selain itu dengan komponen spiritual tersebut manusia dapat berkomunikasi langsung dengan Allah melalui shalat, zikir dan do’a. Manusia juga dapat merasakan adanya kekuatan besar di luar dirinya, sebagai tempatnya bergantung jika ada masalah yang sudah sulit diatasi sendiri. Itu semua adalah Allah yang Maha Esa.

Penciptaan Hawa sebagai istri Adam selain maksud untuk perkembangbiakan manusia juga memiliki makna sosio-emosional. Adanya orang lain apalagi wanita yang karakteristiknya berbeda membuat  Adam memiliki perasaan cinta, senasib sepenanggungan dan lain sebagainya yang semuanya merupakan aspek kecerdasan emosional. Adam yang tidak sendirian lagi harus dapat memahami emosi diri sendiri dan juga emosi pasangannya. Sampai akhirnya dapat berkolaborasi dalam menjalankan amanah Allah sebagai khalifah.
Sebelum diturunkan kebumi, Allah menempatkan Adam di surga sebagaimana firman-Nya :

(Dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang dzalim”. (Q.S. Al A’raaf : 19)

Kemudian ternyata di surga juga ada Iblis yang senantiasa mengganggu.

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)”. (Q.S. Al A’raaf : 20)

Sampai akhirnya Adam pun tergoda sebagaimana firman-Nya :

maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Q.S. Al A’raaf : 22)

Skenario ini memberikan pelajaran berharga bahwa dalam hidup akan ada musuh yang senantiasa mengganggu dan menggoda. Ini membuat Adam setelah tergoda menjadi paham akan perlunya taktik dan strategi menghadapi iblis dan syaitan. Adam memiliki kecerdasan taktikal yang membuatnya mampu mengemban amanah dengan penuh perhitungan.

Untuk mengelola dan memakmurkan bumi Allah secara khusus melebihkan Adam dengan ilmu yaitu kemampuan mengenali nama nama benda seluruhnya. Allah berfirman :

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”  (Q.S. Al Baqarah : 31)

Melalui kemampuan intelektual tersebut maka manusia memiliki kreativitas dan inovasi. Memang secara fisik manusia banyak keterbatasan. Kulitnya tipis sehingga di malam hari akan kedinginan. Dengan bekal ilmu dari Allah manusia pun membuat penutup badan yang dinamainya baju. Demikian seterusnya sehingga sekarang ada banyak sekali nama nama benda yang dibuat oleh manusia.

Sejak awal, tujuan penciptaan Adam yaitu khalifah di bumi. Tapi mengapa Allah tidak langsung menurunkan Adam ke bumi, tapi ditransitkan dulu di surga? Ternyata ini punya hikmah yang luar biasa. Di surga Adam sedang studi banding. Melihat dan menyerap ‘aspirasi’ contoh kehidupan terbaik yang harus nanti dibuat di bumi. Kelak di bumi Adam harus membangun surga kehidupan yang sejahtera, aman sentosa dan bahagia dan sebelumnya harus melihat gambaran nyatanya. Inilah kecerdasan Aspirasional.

Akhirnya jika kita semua sebagai anak cucu Adam ingin mengemban amanah khalifah yang rahmatan lil ‘alamin maka milikilah 5 kecerdasan SETIA : Spiritual, Emosional, Taktikal, Intelektual dan Aspirasional sehingga bisa membangun surga di dunia sebelum mendapatkan surga di akhirat.

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group – 13 Ramadhan 1434 H[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 × 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.