Morning Sharing Session #1 : “Embro Versus Pipo”

1
578
Embro Versus Pipo
Embro Versus Pipo

MediaKALLA.Com – Alkisah ada dua orang sahabat, Embro dan Pipo yang sama sama bekerja pada Pak RW sebuah desa sebagai tukang angkat air. Mereka bertugas mengangkat air dari mata air dipegunungan ke bak penampungan air didesa. Setiap ember yang mereka bawa akan dihargai dengan sejumlah uang.

Awalnya Embro dan Pipo selalu bersama sama berangkat mengangkat air baik pergi maupun pulang. Embro yang berperawakan tinggi besar merasa senang dengan pekerjaan tersebut tapi tidak demikian dengan Pipo. Dia merasa pekerjaan sebagai tukang angkat air sangat melelahkan.

Untuk itu Pipo mengajak Embro membuat saluran air yang dapat mengalirkan mata air langsung ke bak penampungan air warga desa. Namun, usul tersebut tidak ditanggapi oleh Embro. Embro merasa pekerjaan tersebut akan sangat lama. Dia bahkan merasa bisa mendapatkan lebih banyak uang jika menggunakan ember yang lebih besar. Untuk itu, dia bekerja lebih keras dengan ember tersebut. Hasilnya dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Dengan jumlah uang yang lebih besar itu, Embro bisa membeli sapi dan gubuk baru.  Tak hanya itu, gaya hidupnya juga ikut berubah. Dia kerap kali ke bar menghabiskan hasil jerih payahnya dengan minuman keras.

Sekarang, mari kita tengok Pipo. Berbeda dengan Embro, Pipo justru tak berubah keadaannya. Ia tak kunjung mendapat uang yang lebih banyak seperti Embro sebab air yang dipikulnya hanya seperti biasanya. Hanya saja, di akhir pekan dan di waktu senggangnya, Pipo bersungguh sungguh merealisasikan mimpinya untuk membangun saluran air. Dia mulai menggali dan terus menggali saluran air tersebut hingga orang orang mencemohnya melakukan pekerjaan sia sia dan menjulukinya sebagai Pipo “si Penggali Tanah.” Namun, dia tak mengindahkan cemohan tersebut. Sembari tetap melakukan pekerjaan mengangkat air seperti biasa, Pipo selalu meluangkan waktu untuk membuat saluran air tersebut tanpa kenal lelah.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Nasib kedua orang ini mulai dipergulirkan. Embro semakin terlihat payah dan letih karena setiap hari harus mengangkut  air dalam jumlah besar. Karena kondisi fisik yang demikian itulah, air yang dibawanya setiap hari semakin berkurang sehingga jumlah uang yang didapatkannya pun semakin sedikit.

Lain halnya denga Pipo. Hasil jerih payahnya membuat saluran air selama bertahun tahun mulai nampak. Dan akhirnya, pada suatu ketika, saluran air yang dibuatnya selesai juga. Mata air dipegunungan dapat mengalir dengan cepat ke bak penampungan air warga desa melalui pipa saluran air buatan Pipo. Pipo pun tak lagi harus bersusah payah mengangkut air seperti yang dilakukan Embro. Atas hasil jerih payahnya itu, Pipo mendapat uang berlipat lipat yang menjadikannya hartawan yang sukses. Selain itu yang paling terpenting, masyarakat bisa mendapatkan air dalam jumlah yang lebih banyak.

Demikianlah seharusnya seorang insan Kalla Group. Bahwasanya, setiap karyawan diharapkan tidak hanya bekerja keras namun juga bekerja cerdas dan memilki pandangan visioner serta inovatif. Dalam makna yang lebih mendalam, sejatinya setiap insan Kalla group memiliki spirit untuk berbagi kepada orang lain melalui pekerjaannya. Secara umum, mereka yang ingin berkembang harus berani meninggalkan zona nyamannya dan menunda kesenangan sesaat untuk menikmati hasil yang lebih besar,

Theres’s no growth in comfort zone and there’s no comfort in growth zone.”

Dalam teori motivasi, ada tiga tingkatan orang dalam memandang pekerjaan. Pertama, orang yang memandang pekerjaan sebagai job semata. Orang yang demikian, motivasinya adalah gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dia akan selalu berharap liburan akhir pekan dan memnginginkan kenaikan gaji. Ini adalah tingkatan terendah. Kedua, orang yang memandang pekerjaan sebagai karir maka mtovasinya adalah pengembangan diri dan selalu tertantang dengan kompetisi. Karyawan seperti ini harapannya adalah mengalami kemajuan dan kebanggaan serta selalu mencari kesempatan dipromosikan.

Morning Sharing Session #1 @ Wisma Kalla Lt 13

Ketiga, adalah tipe karyawan yang melakukan pekerjaan sebagai sebuah panggilan hati. Bukan karena iming iming materi namun secara hakiki ingin menunaikan amanah Allah sebagai khalifah di bumi. Karyawan tipe ini tergolong unik karena selalu menginginkan tugas yang lebih banyak karena ingin berkontribusi lebih untuk menciptakan tatanan kehidupan dunia yang lebih baik.

Sepenggal pragraf kalimat di atas mungkin akan sangat sulit diterima oleh kebanyakan manusia di zaman modern sekarang ini. Namun manusia hanya bisa berpendapat, karena di atas segalanya Allah pasti akan selalu menempatkan makhluk-Nya sebagai utusan-Nya untuk melakukan perbaikan terhadap kehidupan dunia yang indah ini. Dan alangkah indahnya hidup ini ketika diri kita, pribadi kita memiliki peranan penting baik secara langsung maupun tidak langsung dalam mewujudkan hal tersebut. 

“Karena keindahan hidup bukanlah disaat kita menerima sebanyak-banyaknya, melainkan di saat kita mampu memberikan sesuatu yang terbaik untuk menjadi sebuah warisan kebaikan bagi generasi penerus kehidupan itu sendiri.”

Semoga artikel di atas mampu memberikan pencerahan yang baik bagi kita semua untuk menuju insan Kalla Group yang baik. [mk]

*Disarikan dari Morning Sharing Session di Wisma Kalla Lantai 13,  hari Kamis (21/6). Diskusi sharing pagi tersebut dilaksanakan setiap Senin & Kamis jam 08.30 – 09.00 pagi dengan tempat yang berbeda setiap pertemuan disesuaikan dengan kondisi dan narasumber yang berasal dari warga Kalla Group.  

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × one =