Menyapa Customer, Membelah Belantara Borneo

0
491

MediaKALLA.co.id, Banjar Baru – Roda pesawat Wings Air mendarat mulus di bandara Syamsuddin Noor kota Banjar Baru, dan perjalanan panjang pun dimulai. Rute pertama kami menelusuri bagian tengah bumi Kalimantan, membelah hutan belantara Borneo yang eksotis. Dua jam lebih kami menerawang kehidupan rakyat Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah yang majemuk. Di kanan-kiri kami, terpampang sebuah harmoni kerukunan antar warga beda suku.

Di Pulang Pisau, kami menyaksikan secara bergantian desa-desa orang Banjar yang muslim, Dayak yang Nasrani dan Bali yang Hindu. Sesuai Semboyan kabupaten ini adalah “Handep Hapakat” yang dalam Bahasa Indonesia diartikan ” Hidup Rukun dan Damai Untuk Kesejahteraan Bersama”. Setelah dua jam, kami tiba di gerbang PLTU PJB Pulang Pisau di Kapuas Hulu. Papan nama masih terlihat nama perusahaan China yang sebelumnya mengelola PJB Pulang Pisau sebelum diserahkan ke Bumiputera di akhir Desember 2015.

Antara Pulang Pisau dan Banjarmasin hanya 2 jam perjalanan darat tapi ada perbedaan waktu satu jam. Kalau Pulang Pisau memakai WIB alias Waktu Indonesia Barat yang sama seperti di Pulau Jawa. Tapi di Banjarmasin memakai WITA atau Waktu Indonesia Tengah.

Cerita berakhir kurang manis di Pulang Pisau tapi kami memperoleh banyak pelajaraan terutama bagian mendekatkan diri ke calon customer. Anak-anak muda di PJB punya idealisme yang tinggi namun masih kalah nyali dengan anak-anak Makassar. Ah sudahlah PJB bukan reski kita.

Malam menyambut kami di kota ‘Seribu Sungai’, Banjarmasin, ditemani Soto Banjar yang lezat kami menuntaskan rasa lapar kami. Masih ada satu customer yang menunggu kami di Pelaihari, besok pagi. Kami menyempatkan berkeliling kota Banjarmasin, sekilas kotanya bersih walaupun padat dengan lalu lintas. Kendaraan merupakan representasi kota besar di Indonesia. Di kota ini mudah menemukan penjual minyak bulus dan tongkat ali, lelaki yang biasa ke Banjar pasti hapal dengan dua benda pusaka ini, ingin rasanya membeli satu atau dua botol buat oleh-oleh tapi ketergesaan menjadi halangan kami.

Berteman GPS di smartphone kami coba peruntungan: menemukan jalur ke Pelaihari. Setelah sejam lebih akhirnya kami menemukan buruan kami, disebuah desa kecil yang tenang, PT Indofood. Kantor lumayan besar bila dibandingkan perusahaan yang sama di Makaasar. Indofood di Pelaihari khusus untuk divisi Noodle (mie), wilayah pemasaran meliputi semua area Kalimantan kecuali Kalimantan Barat. Ada 10 unit kendaraan kami yang disewa di PT. Indofood. Kesepuluh unit tersebut tersebar dari Pelaihari hingga Pangkalan Bun yang jaraknya ribuan kilometer.

Seorang pria 40 tahunan menyambut kami dengan ramah, diruangan yang sempit diskusi ringan pun mengalir. Ada banyak PR kami bawa pulang dari Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut dan seperti namanya, saya menyaksikan banyak rumah berdiri di atas rawa laut. Bagi perusahaan jasa menyapa customer adalah kewajiban, mendekatkan customer tidak cukup hanya dengan berkirim sms, telepon atau email. Mereka sangat senang dikunjungi, mendengar keluhan mereka dan memberikan mereka sebuah komitmen.

Sepulang dari Banjar hari Rabu, dua jadwal menyapa customer menanti. Senin 16 Mei , ditemani udara Balikpapan yang segar kami membahas bejibun komplain dan sebuah komitmen pembayaran dari customer telekomunikasi. Ada ratusan unit kendaraan yang disewa, medan kerja lumayan berat karena masuk hingga ke pelosok Kalimantan. Banyak jalanan yang masih berkabung tanah yang bila musim hujan menyiram jalanan berubah menjadi arena motor cross. Kalimantan berbeda dengan Sulawesi atau Jawa, jarak antara satu kota dengan kota lain saling berjauhan. Keesokan harinya, kami berempat atas nama empati rela menempuh perjalanan laut yang singkat untuk mencairkan beberapa kendala dengan pihak Petrosea. Belum tuntas memang tapi setidaknya kemarin sebuah email yang masuk berisi data-data bad debt mengembirakan hati saya. Kami berharap kedepannya masalah deduction driver dan unit bukan lagi menjadi kendala.

Sepekan dari Petrosea, kami menelusuri bagian lain, masuk ke kawasan hutan di daerah kilo. Dari jalan poros Balikpapan-Samarinda kurang lebih 13 Km, dari jalan poros masuk belok kiri, disini perjalanan sesungguhnya menanti, melewati jalan tanah yang belum beraspal dengan kontur perbukitan serasa kami seakan naik mobil rally Subaru. Sempat tersesat ke tempat yang senyap, kami akhirnya menemukan customer yang kami cari, PT. Kutai Chip Mill (KCM), perusahaan asing yang bergerak di sektor perkayuan, sebuah dermaga kecil milik perusahaan yang sepi tanpa kegiatan bongkar muat seolah-olah memberi isyarat sepinya order dari luar. Krisis finansial yang mendera dalam beberapa tahun ini memukul banyak perusahaan di Kalimantan salah satunya adalah KCM dan anak perusahaan seperti KPSI dan Adindo.

Dalam marketing digital, customer bukan lagi raja (as a king) tapi customer adalah mitra kerja (as a friend), yang namanya teman, saling menyapa adalah kebutuhan, ibarat membangun harmoni yang indah seperti yang barusan saya saksikan di belantara Kalimantan. Saya sudah berikhtiar menjadikan bulan Mei dan September sebagai bulan menyapa customer. [Indra Sastrawat/ Finance & Admin Head PT. Bumi Jasa Utama Cabang Balikpapan]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four × two =