Mensyukuri Kehadiran Ramadhan

0
664

MediaKalla.com – Bersyukurlah kita yang menjumpai bulan Ramadhan. Lantaran bulan ini adalah bulan yang  agung, bertebaran keutamaan yang kita dapatkan dari bulan ini. Dalam hal ini, para alim  ulama selalu memberi pemahaman kepada kita, bahwa kalau kita memahami keutamaan  dan berkah bulan Ramadhan, niscaya akan selalu mengharap kepada Allah agar seluruh  bulan yang ada dijadikan sebagai bulan Ramadan.

Ada banyak keistimewaan yang Allah paketkan bersama hadirnya bulan Ramadhan. Semua  tumpah ruah seumpama air hujan yang terus tercurah di musim hujan. Deras dan memberi  dampak kesegaran spiritual selama sebulan penuh. Siapa pun yang memahaminya, niscaya  tak akan rela melewatkan sedikit pun keutamaan yang telah Allah janjikan.

Namun demikian masih banyak dari kita yang tidak mengerti bagaimana menyikapi  keisteimewaan bulan ini. Parahnya lagi, juga banyak di antara kita yang merasa telah cukup bila sudah melakukan hal-hal ritual secara gegap gempita, padahal itu hanya sebentuk ritual kultur atau adat di seting kita hidup. Mayoritas dari kita kadang merasa sudah cukup siap, tanpa membekali diri dengan ilmu yang cukup, hingga justru terjebak pada tradisi yang menyalahi syariat.

Oleh karena itu, bagi kita yang terdidik harus mensyukurinya dengan sebaik mungkin atas peluang yang diberikan oleh Allah kepada kita untuk menjumpai Ramadhan tahun ini. Salah satu bentuk wujud rasa syukur itu adalah dengan upaya peningkatan takwa. Hal ini seperti firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al Baqaroh: 2; 183).

Sebagai bentuk upaya memperbaiki keislaman diri kita   dapat kita mulai dari sabda Nabi Muhammad SAW seperti apa yang dikatakan oleh Abu Hurairah RA, bahwa “Setiap amalan anak Adam adalah untuk dirinya kecuali puasa. Sesungguhnya ia (puasa) adalah milik-Ku dan akulah yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari Muslim).  Kuncinya adalah prasangka baik, bahwa setiap helaian nafas kita tak lepas dari penglihatan Allah. Kita harus merasa selalu diawasi oleh Allah. Dengan demikian, kita tak akan berani menyimpang dari ketentuanketentuan yang dihakkan oleh Allah  dan kita tak akan berani melakukan kebatilan yang telah digariskan oleh Allah.

Menurut Dr. Falih bin Muhammad ash-shughair dalam bukunya “menjadikan Puasa Lebih Bermakna”,  takwa adalah sifat yang bila ada pada seorang manusia maka akan membangun gaya hidup unik yang senantiasa mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan ketaatan, sekaligus menghalaunya dari perbuatan buruk dan maksiat, dengan motivasi mendapatkan pahala dari Allah dan takut tertimpa azab-Nya. Setiap kali mendengar ada momentum kebaikan, maka ia akan segera mengejarnya. Dan setiap kali mendengar kejelekan atau sesuatu yang meragukan, maka ia segera menghindairinya (1997: 15).

Di bulan ini, dapat dipastikan banyak dari kita yang berlomba-lomba membaca Al Quran sampai khatam. Bagi yang ingin memperbaiki keislamannya tentu tak bisa hanya berhenti pada niatan khatam, tetapi harus menukik dalam pada hakikat membaca Al Quran, yakni untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan isinya. Pembaca Al Quran yang menukik sampai pada hakikat ditandai dengan  melakukan evaluasi diri, mengevaluasi gaya hidupnya selama ini. Lalu berniat dan mengimplementasikan gaya hidup baru yang sarat dengan ketaatan kepada Allah SWT.

 Lebih dari hal tersebut, ustad Bahtiar Natsir dalam dialognya dengan penulis menyarankan  agar dalam membaca Al Quran motivasinya lebih kompleks lagi, yakni sebagai 1) bentuk kekhusuan bermunajad, 2) untuk mencari ilmu, 3) untuk beramal, 4) untuk mencari kesembuhan atau berobat, dan 5) mentadaburinya.  Ini satu bentuk pernyataan bahwa sekali lagi, khataman Al Quran tak hanya dapat dikatakan khatam kalau kita hanya telah merampungkan membaca sekadar membaca selama di bulan Ramadhan.

Ada  tahapan dan motivasi yang harus diakumulasi seperti tersebut di atas, dalam membaca Al Quran. Dengan demikian muaranya menjadi aliran darah yang deras sebagai bentuk karakter setiap diri kita. Usai membaca Al Quran maka akan tercermin dari sikap para pembacanya dalam bentuk perbaikan perilaku hubungan dengan Allah dan perbaikan dalam perilaku hubungan dengan sesama.  Ada tingkat kecerdasan yang meningkat yang ditandai dengan banyak hal, khusunya dalam mencontoh perilaku ibadah di bulan Ramadhan seperti ibadahnya Nabi Muhammad.

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/07/download.jpg” ]Edi Sutarto : Direktur Sekolah Islam Athirah[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eleven + eighteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.