MENJAGA KEBERSIHAN HARTA

0
458

MediaKALLA.com – Gus Dur pernah berucap “Cuma ada 3 polisi yang tidak bisa disuap (polisi jujur). Siapa aja? Polisi tidur, patung polisi dan Hoegeng”. Beliau adalah mantan Kapolri di awal Orde Baru. Karirnya luar biasa menjadi Kapolri di umur di bawah 50 tahun. Namun saat pensiun, dia tidak punya rumah pribadi. Juga tidak punya mobil pribadi. Kenapa tidak punya? Tidak bisa beli karena memang gajinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan bulanan keluarga. Dia tidak mau menerima uang yang tidak jelas seperti suap, komisi dan sebagainya.

Saat Hoegeng bertugas di Medan dan ditugaskan untuk memberantas penyelundupan, para mafia penyelundup berusaha menyuapnya. Segala fasilitas di rumah dinas disiapkan yang mewah dan lengkap. Bagaimana sikap Hoegeng? Diperintahkannnya kepada anak buahnya agar barang-barang tersebut diambil kembali oleh yang memberi. Karena tidak diambil juga akhirnya Hoegeng mengeluarkannya dari rumahnya.

Itulah sosok pejabat yang luar biasa. Memegang teguh integritas, kejujuran dan kehati-hatian. Tidak ingin memperkaya diri karena jabatan. Manjaga diri dan keluarganya dari harta yang haram. Sampai akhir hayatnya beliau hidup sederhana, membiayai kebutuhan hidup dari pensiun dan melukis. Beliau dikenal sebagai polisi teladan. Ada ucapan yang prinsip hidupnya yang luar biasa “memang baik jadi orang penting, tapi lebih penting lagi jadi orang baik”. Ungkapan ini sangat relevan di era sekarang di mana banyak orang mengejar jadi ‘orang penting’ sebagai pejabat, orang kaya namun mengabaikan jadi ‘orang baik’ sehingga menghalalkan segala cara melalui korupsi dan manipulasi. Sosok Hoegeng mengajarkan untuk tetap teguh pada prinsip. Tetap menjadi orang baik saat menjadi orang penting sehingga beliau menjadi “orang penting yang baik”.

Apa yang dilakukan oleh Hoegeng yang tidak mau menerima hadiah apalagi sogokan karena jabatan sejalan dengan cerita di masa Umar bin Khattab berikut ini :

Pada zaman Umar dulu pernah sekelompok orang datang kepada Khalifah mengadukan gubernur mereka yang suka menerima sumbangan. Setelah diseleksi dengan cermat dan ternyata pengaduan itu benar, Umar pun memanggil gubernur itu. “Mengapa Anda menerima sesuatu yang bukan menjadi hak Anda?“ tanya Umar. “Wahai amirul mukminin. Yang saya ambil itu tidak lain adalah hadiah yang memang diberikan orang kepada saya,“ ujar gubernur berdalih. “Yakinkah tuan akan semua itu? Andaikata Anda berdiam di rumah saja, tidak menjabat apapun, apakah orang akan mengantarkan hadiah itu juga?” tanya Umar tegas. Kemudian beliau menyuruh gubernur menyerahkan harta itu ke baitul mal dan kemudian beliau memecatnya. Umar pun berkata, “Barang siapa yang kami beri tugas melakukan suatu pekerjaan dan kepadanya telah kami beri rezeki (diberi imbalan berupa gaji atau lainnya), maka apa yang diambil oleh selain itu adalah kecurangan.“

Hal seperti ini sebenarnya dalam manajemen modern dengan Good Corporate Governance juga dilarang karena akan menimbulkan conflict of interest. Oleh KPK juga dikategorikan sebagai korupsi. Dalam Peraturan Perusahaan pun juga dilarang. Jadi itu semua sejalan dengan ajaran Islam. Dalam hadis lain Rasulullah menyatakan “Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggamannya tidak sekali-kali seseorang mengambil harta dengan cara yang tidak dibenarkan, kecuali ia akan bertemu dengan Allah pada hari kiamat kelak dalam kondisi sedang memikul apa yang telah diambilnya dahulu.“

Tentu kita tidak ingin membawa ‘beban’ berat di Hari Akhir kelak yang akan membuat kita menderita. Semoga bulan Ramadhan yang suci ini menjadi semangat bagi kita untuk juga mensucikan harta kita. Suci sumbernya dan juga suci penggunaannya. Jangan lupa juga dengan dikeluarkan zakat, infak dan shadaqah.

[Syamril]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nine + 13 =