Mengapa JK Mau Jadi Cawapres Jokowi?

0
484

MediaKALLA.com – Akhir-akhir ini banyak muncul pertanyaan mengapa JK mau menjadi cawapres Jokowi? Saya pribadi mendapat pertanyaan dari istri, kakak ipar dan teman di Bandung. Sms di pagi hari dari seorang guru dan juga aktivis Persatuan Islam Bandung berbunyi “mau tanya nih, barangkali tahu jawabannya : “KENAPA JK MAU JADI CAWAPRES JOKOWI?” Ternyata sampai di kantor juga muncul pertanyaan yang sama dari teman kantor. Maka saya pun mencoba menulis artikel ini yang disarikan dari arahan bu Fatimah Kalla di depan seluruh manajer dan direksi se Kalla Group pada hari selasa, 20 Mei 2014.

Salah satu yang membuat JK ‘jatuh cinta’ sama Jokowi dan akhirnya mau berpasangan yaitu factor Megawati, Surya Paloh dan Muhaimin. JK mengatakan “Mereka bertiga adalah Ketua Partai tapi ‘tidak mau’ berkuasa. Megawati wajib dihargai, sebagai Ketua Partai seharusnya dia yang menjadi calon Presiden. Tapi beliau legowo mendengar suara rakyat yang menginginkan Jokowi jadi calon Presiden. Padahal Jokowi juga bukan ‘kader kental’ PDIP. Bukan pengurus partai yang merintis karir dari bawah. Demikian pula dengan Surya Paloh dan Muhaimin. Sejak awal sudah ‘sadar diri’ dan tidak mengajukan diri sendiri sebagai cawapres kepada PDIP”.
Inti dari itu semua adalah ketulusan mereka untuk membentuk pemerintahan yang professional, bukan transaksional. Koalisi yang dibangun antara PDIP, Nasdem dan PKB adalah koalisi professional dengan mengajukan calon yang memang secara karakter, kompetensi dan prestasi memenuhi harapan rakyat. Sejak awal pembicaraan koalisi, tidak ada perjanjian bagi-bagi kursi menteri. JK pun masuk sebagai cawapres bukan sebagai pengurus partai tapi sebagai professional yang telah teruji di dunia bisnis dan politik.

Bandingkan dengan Prabowo yang menerima ARB dengan janji menjadi Menteri Utama. Terlihat bahwa landasannya adalah transaksional. Sebelumnya ARB mendatangi Megawati dan mengajukan diri untuk bergabung dengan syarat 8 kursi menteri untuk Golkar. Namun Megawati menolak dengan mengatakan “koalisi kami bukan bagi-bagi kursi menteri, tapi koalisi professional untuk memajukan bangsa”.

JK melihat itu semua sebagai nilai lebih dari koalisi PDIP, Nasdem dan PKB. Membangun bangsa ini menjadi bangsa yang besar harus berawal dari ketulusan untuk ‘memberi’ bukan ‘menerima’. Langkah awal ditunjukkan oleh para petinggi partai koalisi dengan ‘memberi’ kesempatan kepada mereka yang memang professional untuk menjadi calon presiden dan wakil presiden.

Sejarah perjalanan bangsa pada masa pemerintahan Presiden SBY periode kedua menunjukkan bagaimana politik transaksional bagi-bagi kursi menteri telah menjadikan bangsa ini terkapling-kapling oleh para partai politik. Kementerian yang dikuasai oleh parpol tertentu akan menjadi mesin ATM bagi partai tersebut untuk menjalankan mesin partai. Jadilah begitu banyak korupsi yang melibatkan pimpinan partai seperti yang dialami Partai Demokrat di Kementerian Pemuda dan Olahraga dan PKS di Kementerian Pertanian, yang menyebabkan pimpinan tertinggi kedua partai tersebut ditangkap KPK.

Akankah bangsa ini ingin mengulangi sejarah kelam tersebut? Tentu saja kita tidak ingin itu semua terulang. Bangsa Indonesia yang dianugerahi oleh Allah kekayaan melimpah pada sisi sumber daya alam dan sumber daya manusia harus disyukuri dengan mengelolanya secara professional demi kesejahteraan rakyat. Berawal dari niat yang tulus dn kerja ikhlas untuk memberi yang terbaik. Dilanjutkan dengan kerja keras, cerdas, antusias dan berintegritas sehingga hasilnya berkualitas.

Hanya Allah tempat kita menggantungkan segalanya. Kekuasaan berasal dari Allah yang akan diberikan kepada yang dikehendaki-Nya. Manusia hanya berusaha melalui ijtihad dan jihadnya, pemikiran dan kesungguhannya.   Semoga ijtihad politik JK berpasangan dengan Jokowi dapat menjadi jalan “syukur nikmat nasional” agar terwujud negeri yang sejahtera, adil dan makmur, baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur. Terwujud Indonesia Hebat, Lebih Cepat Lebih Baik, Amin. [Syamril : Sekretaris “Relawan KALLA”]

sumber Poto : http://jusufkalla.info/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eighteen − 13 =