Menanam dengan Cara Tuhan

0
665

MediaKALLA.Com – Dahulu kala, sebelum manusia diciptakan, Bumi sudah dipenuhi oleh pohon-pohon lebat. Mengapa pohon itu bisa tumbuh dengan lebat, karena adanya hewan yang menyebar biji buah yang sudah dimakannya. Namun, kini seiring berjalannya waktu dan jumlah manusia semakin meningkat malah membuat pohon-pohon semakin berkurang.

Penembangan pohon untuk diolah menjadi bahan meubel ataupun lahannya untuk pertambangan, perkebunan dan perumahan semakin menurungkan jumlah pohon yang ada, apalagi jumlah yang ditebang tidak sebanding dengan jumlah yang ditanam. Kondisi ini membuat lahan menjadi gersang dan hutan menjadi gundul. Akibatnya, bencana banjir dan tanah longsor kian menghantaui.

Dilansir dari Kompas.Com bahwa kondisi hutan di Sulawesi Selatan semakin kritis. Dalam satu dekade terakhir, luasan hutan terus berkurang dari 2,1 juta hektar menjadi 1 juta hektar. Degradasi lahan itu dipicu alih fungsi dan pembalakan liar. Padahal dalam UU No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, luas hutan idealnya 30 persen dari luas wilayah. Dengan luas wilayah Sulsel yang mencapai 64 juta hektar, luas hutan mestinya 19,2 juta hektar.

Kondisi ini semakin memiriskan dengan kemampuan pemerintah yang hanya mampu melakukan penghijauan sekitar 5000 ha/tahun. Belum lagi, kondisi lahan yang sulit dijangkau.

Jusuf Kalla sebagai tokoh yang peduli dengan lingkungan merasa prihatin dengan kondisi ini. Ia kemudian mengutarakan idenya untuk mengatasi permasalahan ini. Carannya, menanam dengan cara Tuhan. JK mengangap hewan yang menyebarkan biji-bijian dahulu kala, adalah salah cara Tuhan untuk menanam. Namun, kali ini tidak lagi memanfaatkan hewan, tetapi memanfaatkan ‘hewan besi’ (helikopter). Jadi, dengan memanfaatkan helikopter untuk menanam pohon. Bibit pohon ditebar di udara dengan helikopter.

Cara ini dikenal dengan istilah aerial seeding. Teknologi aerial seeding digunakan untuk menangani lahan yang sulit dijangkau manusia. Teknologi tersebut juga sangat efisien dan efektif karena bisa menjangkau lahan yang sulit, dalam luasan yang besar dan waktu yang singkat. Teknologi ini juga tidak memerlukan banyak tenaga kerja dan biaya.

Melalui Yayasan Kalla bekerjasama dengan Dinas Kehutanan Sulsel telah melakukan metode ini untuk menyebarkan bibit pohon di lahan kritis seluas 1500 ha, di  sekitar Bendungan Ponre ponre Kecamatan Libureng Kabupaten Bone. Sebanyak 2700 kg yang terdiri atas Trembesi 2200 kg, Sengon 220 kg dan Kaliandra 150 kg. Kegiatan ini kemudian dicatat di Museum Rekor Indonesia.

Ada baiknya, kegiatan seperti ini dilaksanakan lagi, mengingat sangat mudah dilaksanakan dan efisien pula. Kegiatan seperti ini menurut JK adalah salah satu investasi surga, karena bisa mengembalikan kesejukan dan fungsi hutan. [azhar]

*Diolah dari berbagai sumber.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 + nineteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.