Memaknai Pekerjaan

0
645

MediaKALLA.com – Cerita ini dari Pak Indra Djati Sidi, dosen ITB dan mantan Dirjen Dikdasmen Depdiknas tahun 1999 – 2005. Kejadiaannya di awal tahun 1980an saat beliau melanjutkan kuliah S3 ke Amerika Serikat. Salah satu yang mengherankannya yaitu perilaku sopir bus sekolah yang setiap hari antar jemput siswa SD. Terlihat sopir tersebut sangat bertanggung jawab. Tidak hanya membawa mobil sampai depan sekolah tapi juga dijaganya satu persatu siswa yang dibawanya sampai masuk ke dalam sekolah dengan aman dan nyaman. Ini sangat berbeda dengan sopir antar jemput siswa di Indonesia umumnya. Biasanya asalkan mobil sudah parkir depan sekolah, itu sudah cukup. Siswa sendirilah yang mengatur dirinya masuk ke sekolah.

Lalu pak Indra Djati pun iseng bertanya kepada sopir tersebut.” Kenapa Anda demikian bertanggung jawab sebagai sopir antar jemput? Kan cukup sampai depan sekolah aja. Tak perlulah turun mengantar masuk sekolah”.  Jawaban sopir sungguh di luar perkiraan pak Indra Djati. Apa jawaban sopir? “Hai saudara, Anda tidak pernah tahu kalau salah seorang dari siswa tersebut kelak akan menjadi Presiden Amerika Serikat. Jadi yang saya antar bukan siswa biasa, tapi para calon Presiden Amerika Serikat”.

Luar biasa, seorang sopir antar jemput siswa memaknai tugasnya sebagai tugas yang sangat penting, bukan semata mengantar siswa tapi mengantar calon Presiden. Pantas saja sopir ini demikian bertanggung jawab. Jika sopir tersebut seperti kebanyakan sopir di Indonesia yang hanya memandang pekerjaannya mengantar siswa biasa, tanpa ada makna bahwa ini calon pemimpin bangsa maka tentu perilakunya pun biasa saja. Akhirnya terjawablah keheranan Pak Indra Djati.

Memaknai pekerjaan ternyata sangat besar dampaknya bagi kita dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. Jika kita memaknainya biasa biasa saja, ada atau tidak adanya kita sama saja, maka perilaku kita pun hanya biasa saja, asal bekerja, seadanya. Sangat berbeda kalau kita memaknainya dengan luar biasa, bahwa posisi kita sangat penting keberadaannya, keberadaan kita dampaknya besar bagi organisasi maka kita pun akan selalu melakukan pekerjaan dengan luar biasa, tidak asal asalan. Kita pun akan melakukan hal yang penting yang memang memiliki dampak berarti (signifikan). Kita akan mengerjakan pekerjaan dengan berkualitas tinggi.

Demikian pula dengan pemaknaan kita terhadap peran dalam kehidupan ini. Sungguh Allah menciptakan manusia dengan proses penciptaan yang luar biasa, bukan asal diciptakan. Ada misi dan tugas mulia yang diamanahkan Allah kepada kita. Allah menciptakan manusia berbeda dengan hewan, tumbuhan dan benda benda lainnya. Allah menciptakan manusia yang berawal dari penciptaan Nabi Adam untuk menjadi khalifah di muka bumi, sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an :

Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. (Q.S. Al Baqarah : 30)

Khalifah artinya pengganti, wakil. Allah mewakilkan kepada manusia tugas mulia untuk mengatur bumi yang telah diciptakan-Nya dan itu hanya manusia yang ditugaskan. Hewan, tumbuhan bahkan malaikat dan jin pun tidak diberi tugas tersebut. Jadi semua kita ditugaskan sebagai pengatur atau pemimpin. Minimal memimpin diri sendiri karena memang hanya manusia yang diberi kemerdekaan untuk memilih tindakannya. Dibekali dengan potensi kecerdasan spiritual, intelektual, emosional dan sosial yang luar biasa. Tentu konsekuensi kepemimpinan adalah tanggung jawab, sebagaimana sabda Nabi :

“… Ketahuilah setiap kalian adalah ra’in (penjaga/pemelihara/pemimpin) dan setiap kalian bertanggung jawab terhadap ra’yahnya (yang dipelihara/dijaga/yang dipimpinnya).” (HR. Muslim)

Kepemimpinan manusia bukan kekuasaan semata, tapi harus memberi manfaat dan rahmat bagi semesta alam. Manusia terbaik menurut hadist nabi yaitu yang paling banyak bermanfaat untuk orang lain. Ini sejalan dengan tujuan Rasulullah Muhammad SAW diutus ke dunia sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an :

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Q.S. Al Anbiya’ : 21)

Jadi manusia diciptakan menjadi Khalifatullah yang Rahmatan Lil ‘Alamin, artinya pemimpin yang memberi rahmat bagi alam semesta. Rahmat bermakna cinta dan kasih sayang. Wujudnya berupa manfaat, dampak positif bukan hanya untuk diri sendiri (personal) tapi juga orang lain (people) bahkan untuk bumi dan seluruh makhluk di atasnya (planet). Harapannya akan tercipta kehidupan di dunia yang sejahtera, damai, tenteram dan bahagia laksana surga.

Jadi apapun peran kita dalam hidup ini baik sebagai karyawan, wirausahawan, pegawai negeri, ibu rumah tangga, pekerja social, dokter, polisi, tentara, petugas kebersihan, satpam, sopir, pejabat,  dan lain sebagainya itu semua adalah peran dan tugas yang penting dan mulia. Keberadaan kita sangat penting karena kita semua adalah khalifah, pemimpin, pengelola dan pengatur kehidupan sesuai dengan tugas dan tanggung jawab kita masing masing. Jika kita dapat melaksanakan dengan baik tugas dan tanggung jawab tersebut maka dampaknya bukan hanya di dunia tapi juga kelak di akhirat. Allah berfirman :

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (Q.S. Al Qashash : 77)

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group – 13 Ramadhan 1434 H[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 + nineteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.