Memahami Perbedaan Awal Ramadhan 1434 H

0
580

MediaKALLA.com – Kemungkinan besar awal Ramadhan tahun 1434 H akan berbeda. Muhammadiyah yang mengamalkan hisab murni berdasarkan criteria wujudul hilal sudah mengumumkan awal Ramadhan jatuh pada hari selasa tanggal 9 juli 2013. Namun ada perbedaan dengan ormas Persatuan Islam, MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang juga mengamalkan hisab tapi menggunakan criteria imkan rukyat (visibilitas hilal). Memang konjungsi / ijtima’ yaitu keadaan di mana matahari, bumi dan bulan berada dalam satu garis lurus sudah terjadi sebelum magrib (pukul 14 : 14). Tetapi sampai magrib, tingginya masih sangat rendah yaitu sekitar 1 derajat. Padahal menurut criteria imkan rukyat (visibilitas hilal) tinggi bulan minimal 2 derajat baru dapat terlihat. Jadi metode sama yaitu hisab, keputusan berbeda karena criteria yang tidak sama.

Bagi Nahdlatul Ulama’ yang mengamalkan rukyat, keputusan baru diambil setelah magrib tanggal 8 Juli saat para tim rukyat melaporkan hasil pengamatannya. Jika tidak ada yang melihat maka bulan sya’ban akan digenapkan menjadi 30 hari sehingga awal Ramadhan baru jatuh pada hari Rabu 10 juli 2013. Berdasarkan pengalaman  data rukyat sejak tahun 1960-an sampai sekarang belum pernah ada kesaksian terpercaya saat ketinggian masih di bawah 2 derajat. Dengan demikian dapat diduga kemungkinan besar tidak akan ada yang bisa melihat hilal pada hari Senin 8 juli 2013. Sehingga kemungkinan besar Nahdlatul Ulama’ serta ormas lainnya dan juga pemerintah akan mengumumkan awal Ramadhan dimulai hari rabu 10 juli 2013.

Perbedaan Hisab dan Rukyat

Bagi pengamal hisab murni, menentukan awal dan akhir Ramadhan cukup dengan perhitungan (hisab) dan tidak perlu melihat bulan. Menurut mereka adanya dalil melihat bulan karena waktu itu ilmu pengetahuan (matematika, astronomi / falaq) belum berkembang. Bukankah dalam Al Qur’an Allah berfirman :

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).  (Q.S. Yunus : 5)

Bagi pengamal rukyat menentukan awal dan akhir Ramadhan harus dengan rukyat (melihat) dan perhitungan (hisab) untuk membantu melihat bulan, karena dalil melihat bulan tegas di dalam hadis.

“Berpuasalah bila melihatnya dan beridul fitri-lah bila melihatnya, bila tertutup awan sempurnakan bulan Sya’ban 30 hari” (HR Bukhari-Muslim).

“Bila tertutup awan perkirakan” (HR Muslim). Karena umur rata-ratanya 29,53 hari, satu bulan hanya mungkin 29 atau 30 hari, jadi mudah diperkirakan atau amannya genapkan (istikmal) saja menjadi 30 hari.

Menurut pengamal rukyat, walaupun pengamal hisab menggunakan dalil dari Al Quran, akan tetapi ayat  tersebut bersifat umum untuk semua perhitungan waktu, dan bukan khusus untuk penentuan awal dan akhir ramadhan. Hadits-hadits tentang ru’yat merupakan dalil khusus tentang penetuan awal dan akhir Ramadhan. Jumhur ulama menyatakan bahwa penentuan awal dan akhir Ramadhan adalah dengan ru’yat, sedangkan penggunaan hisab diperbolehkan untuk membantu perkiraan pelaksanaan ru’yat.

Perbedaan Sesama Ahli Hisab

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa antara Muhammadiyah dan Persatuan Islam dan MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang sama-sama ahli hisab pun juga berbeda karena criteria berbeda.  Muhammadiyah menggunakan criteria wujudul hilal (0 derajat) sedangkan Persatuan Islam menggunakan criteria imkan rukyat (visibilitas hilal minimal 2 derajat). Mana yang lebih tepat dari criteria ahli hisab yang berbeda ini? Menurut T. Jamaluddin Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN, Anggota Badan Hisab dan Rukyat, Kementerian Agama RI dalam sejarah perkembangan hisab sudah melewati tiga fase yaitu hisab urfi, tagribi dan hakiki. Kriteria wujudul hilal dan imkan rukyat merupakan hisab hakiki yang menggunakan perhitungan astronomis secara akurat. Membandingkan keduanya T. Jamaluddin (2012) mengemukakan :

“Memang hisab dengan kriteria imkan rukyat akan lebih rumit daripada hisab wujudul hilal. Tetapi, dalam perkembangan pemikiran astronomi, hisab  imkan rukyat dianggap lebih modern daripada hisab wujudul hilal. Faktor atmosfer yang menghamburkan cahaya matahari diperhitungkan. Hilal yang sangat rendah dan sangat tipis tidak mungkin mengalahkan cahaya senja di ufuk dan cahaya di sekitar matahari. Itulah sebabnya perlu adanya batas minimum ketinggian bulan dan jarak bulan-matahari”.

Bagaimana Menyikapinya?

Sebenarnya, kesaksian melihat hilal (ru’yatul hilal), keputusan hisab, dan akhirnya keputusan penetapan awal Ramadhan dan hari raya oleh pemimpin ummat semuanya adalah hasil ijtihad, yang hakikatnya bersifat dzhanni. Kebenaran hasil ijtihad relatif. Kebenaran mutlak hanya Allah yang tahu. Tetapi orang yang berijtihad dan orang-orang yang mengikutinya meyakini kebenaran suatu keputusan ijtihad itu berdasarkan dalil-dalil syariah dan bukti empirik yang diperoleh. Bagi mereka yang berijtihad, menurut Rasulullah jika benar pahalanya dua dan jika salah pahalanya satu.

Ibadah adalah masalah keyakinan. Berdasarkan berbagai informasi dan ilmu yang ada ikutilah mana yang Anda yakini paling mendekati kebenaran. Ingat, tiap orang Islam wajib terikat dengan syariat /hukum Islam. Bila tidak mampu menggali hukum syara’, maka wajib baginya mengambil pendapat para mujtahid dalam masalah hukum. Pendapat Mujtahid adalah hukum syariat yang mengikat bagi pengikutnya selama dilandaskan pada nash-nash syara’. Bagi masyarakat awam jika ingin aman lebih baik mengikuti pendapat mayoritas atau Pemerintah yang akan melakukan Sidang Isbat dengan peserta dari kalangan ulama’ dan ahli astronomi.

Berbeda pendapat selama berpegang pada dalil adalah boleh karena perbedaan adalah rahmat . Mari saling menghargai pendapat yang berbeda selama berpegang pada dalil-dalil syara’. Mari depankan persatuan / ukhuwah Islamiyah, jangan memaksakan kehendak dan pendapat.  Bersama tidak harus sama.   Selamat menunaikan ibadah puasa dan ibadah lain di bulan Ramadhan.  Semoga Allah SWT memberikan kekuatan lahir dan batin dalam menjalaninya sehingga kita dapat meraih derajat takwa. (*)

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fifteen + nineteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.