Kunci Surga: Menahan Amarah

0
532

MEdiaKALLA.com – Seorang Preman sambil membawa golok di pinggang mendatangi Pak Kyai dan mengajaknya berdebat tentang surga dan neraka. Sang Preman berseru “ Hai Pak Kyai, saya mau berdebat denganmu tentang surga dan neraka”. Melihat sang Preman datang dan berbicara demikian, pak kyai pun menjawab “tidak ada gunanya berdebat dengan orang seperti kamu”. Sang Preman marah, naik pitam dan segera mencabut goloknya dan mengayunkannya ke Pak Kyai. Saat itu pak Kyai pun berkata “itulah neraka”. Sang Preman kaget dan terpana. “luar biasa pak kyai ini” ucapnya dalam hati. Perlahan-lahan dia pun menghentikan gerakan goloknya dan memasukkan kembali ke dalam warangkanya. Lalu sang Preman tertunduk malu berucap “saya mohon maaf pak Kyai atas perbuatan saya tadi”. Pak Kyai pun kembali berucap “itulah surga”. (Diadaptasi dari cerita Arvan Pradiansyah pada buku : You Are Not Alone).

Jadi kunci neraka adalah marah dan kunci surga adalah memohon maaf.  Mari kita bahas satu persatu. Menurut Arifin Ilham sumber marah ada 3 yaitu ilmu (akal), iman, dan nafsu. Marah karena ilmu dan iman itu adalah marah yang baik. Tentunya harus berawal dari niat yang baik. Bukan untuk melampiaskan nafsu tapi untuk memberi pelajaran, pendidikan, penyadaran dan membawa kebaikan. Marah untuk menyelamatkan orang lain. Hal ini seperti marahnya Rasulullah Saw kepada orang-orang yang malas beribadah, kepada orang-orang yang tidak mau menyertai beliau dalam peperangan, kepada orang yang bakhil (pelit), dan yang lainnya. Semua dilakukan untuk kemaslahatan, kebaikan dan kesempurnaan akhlak. Jadi marah yang baik, sebelum marah berfikir dulu tujuannya dan memang tak ada cara lain untuk mencapai tujuan tersebut. Kalaupun marah segera meminta maaf untuk tetap menjalin silaturrahim demi kebaikan, kemaslahatan dan kemuliaan akhlak.

Marah yang buruk adalah yang bersumber dari hawa nafsu. Orang yang mudah marah itu karena lemahnya iman sehingga mudah dikuasai setan. Menjadi budak hawa nafsu. Buktinya, jika kemarahannya sangat besar dia bisa melakukan dosa besar seperti pembunuhan, bahkan terhadap anggota keluarganya sendiri. Sering kita saksikan di berita kriminal seorang anak membunuh orang tuanya atau orang tua membunuh anaknya. Semua terjadi karena kalap dan gelap mata, iman hilang dan hawa nafsu serta setan yang berkuasa. Mengapa terjadi demikian?

Marah bisa terjadi karena kebodohan, tidak memikirkan akibatnya. Orang kalau cerdas akan berfikir panjang. Apa akibatnya kalau dia marah. Sering kita saksikan justru yang bertindak bodoh adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi. Lihatlah perilaku mahasiswa yang tawuran, sampai bakar gedung fakultas. Siapa yang rugi kalau kampus dibakar? Tentu kalau betul-betul cerdas dan berfikir panjang tidak akan membakar kampus karena yang rugi adalah mahasiswa juga.

Kunci kecerdasan sehingga mampu berpikir panjang bukan karena pendidikan atau status social. Tidak ada jaminan professor doctor, bergelar banyak, orang kota, kaya atau berpangkat terhormat pasti tidak mudah marah. Kuncinya justru terletak pada kedewasaan berpikir. Meskipun dia orang kampung yang pendidikannya rendah, miskin, rakyat jelata, namun banyak belajar dari asam garam kehidupan sehingga dewasa dan bijaksana maka tidak akan mudah marah.

Kemudian marah bisa juga terjadi karena sombong, melihat dirinya besar dan hebat sehingga maunya dihormati oleh orang lain. Saat penghormatan itu dia tidak peroleh maka tersinggunglah dia dan akibatnya kemarahan pun terjadi.  Orang seperti ini meniru Iblis yang marah karena diperintah Allah sujud kepada Adam. Iblis marah karena sombong. Dia merasa lebih mulia karena diciptakan dari api sedangkan Adam hanya dari tanah.
Selain itu marah juga karena terjadi karena iri, dengki dan serakah. Tidak senang melihat orang lain mendapat karunia lebih dari dia. Jika ada yang melebihinya maka diapun jadi gelisah, benci dan marah dengan menyebar fitnah tentang orang yang dia tidak senangi.  Orang seperti ini meniru Qabil yang sangat marah kepada Habil karena iri, dengki dan serakah. Sampai tega membunuh Habil saudara kandungnya sendiri hanya karena istri Habil lebih cantik dari istri dia. Iri, dengki dan serakah ingin menguasai istri saudaranya membuatnya marah dan melakukan perbuatan hina. Pembunuhan pertama dalam sejarah manusia.

Bagaimana caranya agar dapat menahan amarah? Tentu kuncinya harus bisa melepaskan diri dari penguasaan hawa nafsu. Arifin Ilham memberikan beberapa tips sebagai berikut :

  1. Pupuklah iman dengan ibadah dan amal shaleh.  Biasakan diri dengan amalan ibadah khusus seperti shalat, puasa, dan sejenisnya serta amalan ibadah social seperti menolong orang lain.
  2. Menjaga wudhu. Rasulullah mengingatkan jika marah segeralah berwudhu karena air itu dingin dan sejuk sehingga dapat melawan setan yang panas.
  3. Duduklah di majelis ilmu dan zikir. Di tempat itu hati akan menjadi tenang dan mendapat ilmu dan hikmah untuk kebaikan diri.
  4. Ingat keutamaan orang yang sabar. Allah cinta orang yang sabar, dijanjikan surga sebagaimana kata Nabi “janganlah marah, niscaya kamu akan masuk surga”.
  5. Jangan lupa selalu berdo’a agar jadi orang yang sabar, rendah hati dan selamat dari gangguan setan yang terkutuk.
  6. Makanlah makanan yang halal karena akan membuat akhlak jadi baik dan menutup ruang setan di dalam tubuh kita.
  7. Berkumpullah dengan orang-orang saleh karena kebaikan itu bisa menular dan malu rasanya kalau marah dan ketahuan sama teman yang sabar.
  8. Ubah posisi diri saat sedang marah. Jika berdiri, duduklah. Kalau belum hilang juga maka berjalanlah dan pergilah tinggalkan orang yang dimarahi.

Semoga dengan mengenali sumber kemarahan dan cara mengendalikannya kita termasuk golongan orang yang dapat menahan amarah sebagai ciri orang bertakwa yang dijanjikan surga. Allah berfirman :

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. (Q.S. Ali Imran : 133 – 134)

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group [/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eighteen − 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.