Kisah anak Yahudi dan Ibrahim

0
545

MediaKALLA.co.id – Tanpa terasa bulan penuh berkah, rahmat dan ampunan, akan segera berakhir. Alhamdulillah atas segala limpahan rahmat dan karunia dariNya. Ceramah kali ini diisi oleh CEO Kalla Toyota, Hariyadi Kaimuddin yang selalu tampil sederhana. Beliau mengenakan baju koko putih dan masih dengan senyum khasnya menyapa para jamaah musholla Wisma Kalla.

Ia membuka ceramah dengan sangat santai menurut saya, kita seperti sedang berada di dalam kelas dengan seorang dosen yang sudah ditunggu mata kuliahnya. Beliau menceritakan bagaimana Al Qur’an memberikan pencerahan bagi seorang anak keturunan Yahudi. Semakin menguatkan statement bahwa Islam Rahmatan lil’alamiin.

Dahulu di Perancis ada seorang pemilik toko bernama Ibrahim. Ia berasal dari Ras Turki.

Ia tinggal di sebuah apartemen, bertetangga dengan keluarga Yahudi yang memiliki anak berumur 7 tahunan.Namanya Jad, ia biasa berbelanja di toko Pak Ibrahim, sekedar jajan layaknya anak-anak pada umumnya.

Hal menggelitik ialah kebiasaan Jad yang suka menguntit cokelat, namun tanpa disadarinya pemilik toko selalu mendiamkannya karena dianggapnya masih anak kecil.

Hingga pada suatu ketika, Jad lupa mengambil cokelat kesenangannya, ia pun keluar toko setelah berbelanja, kemudian Pak Ibrahim segera memanggilnya.

Nak,kamu lupa cokelatnya ya? tanya Pak Ibrahim

Jad kaget, ia pun ketakutan

Ia bertanya, memangnya Bapak tahu ya kalau saya suka mengambil cokelat?

Pak Ibrahim tertawa mendengar pertanyaan Jad.

Ia bertanya kembali, apa Bapak akan melaporkan saya ke pihak keamanan atau kepada keluarga saya?

Tidak, begitu jawab Pak Ibrahim dengan tenang dan wajah ramahnya.

Ia hanya memberi satu syarat kepada Jad jika ingin dimaklumi, jangan kamu mencuri lagi kepadaku dan kepada yang lainnya, begitu seterusnya. Tambah Pak Ibrahim.

Mulai besok, lusa dan seterusnya, kamu tidak usah kawatir, karena saya akan memberikan cokelat kepadamu secara cuma-cuma.

Jad merasa senang dengan kebaikan Pak Ibrahim, ia juga mengiyakan syarat yang diajukan dan berjanji tidak mengulanginya lagi. Dalam benaknya amat jarang orang berbuat seperti itu, biasanya seorang pencuri akan langsung diusir dan tidak diperkenankan datang ke tokonya lagi. 

Hari demi hari, Jad pun menjadi semakin akrab dengan Pak Ibrahim yang berhati mulia.

Canda tawa akhirnya biasa menghiasi hari-hari mereka setelahnya.

Jad tumbuh sebagai pemuda Yahudi dalam lingkungan Eropa yang penuh corak warna.

Di usianya, ia mengalami berbagai masalah remaja dan kesulitan yang membuat hatinya sempit.

Jad pun mencurahkan isi hatinya kepada Pak Ibrahim, karena di matanya bapak tersebut bisa dipercaya dan menyenangkan.

Pak Ibrahim dengan senang hati mendengarkan segala keluh kesah Jad yang kini sudah menjadi remaja.

Kemudian ia mengeluarkan kotak, berisi sebuah bacaan. Jad yang seorang Yahudi tidak mengetahui sebelumnya jika benda yang diperlihatkan kepadanya adalah Al-Qur’an.

Kemudian Pak Ibrahim memintanya untuk membuka 2 lembar dari arah mana saja kepada Jad, kemudian ia akan coba jelaskan maksudnya.

Jad mengikuti arahannya dan setiap kali dijelaskan ia merasa permasalahannya sudah terjawab, padahal hanya 2 lembar. Ketika  2 lembar yang lain dibuka hal yang sama dirasakan. Entah kenapa hal itu terjadi, Jad pun bingung.

Hari terus berlanjut, hingga tiba suatu masa, Pak Ibrahim tidak berjualan, karena sakit yang mengharuskannya di rawat.

Dan pada waktu itu pula takdir mengantarkan Pak Ibrahim pada ajalnya. Sebelum meninggal, ia berwasiat kepada anak-anaknya. Jika ada seorang pemuda bernama Jad, tolong berikan kotak ini (berisi Al Qur’an) kepadanya. Begitulah pesan singkat Pak Ibrahim. Mendengar kabar duka, Jad seorang pemuda yang berasal dari keluarga Yahudi datang ke rumah Pak Ibrahim.

Anak-anaknya pun tak lupa menyampaikan amanat yang diberikan orangtuanya.

Jad pun merasa bahagia akan hadiah yang diberikan Pak Ibrahim, baginya ini adalah suatu kehormatan.

Hari semakin berlalu, Jad begitu kehilangan dengan sosok Pak Ibrahim yang penuh dengan sejuta kenangan. Kini, tiada lagi tempat ia mencurahkan isi hatinya sebagaimana Pak Ibrahim yang membuatnya terkesima. Ia teringat akan kotak yang diberikan Pak Ibrahim, ia coba membukanya, namun semua dalam Bahasa Arab.

Ia pun segera mencari orang yang bisa menerjemahkan lembarannya ke dalam Bahasa Perancis. Akhirnya bertemulah dengan seseorang dari Tunisia, Jad belum mengetahui kalau itu adalah kitab suci umat Islam. 

Kemudian ia pun meminta agar orang tersebut mau menjelaskan sebatas 2 lembar saja.

Ketika dijelaskan, Jad mengucurkan air mata, semakin takjub, bacaan apa ini, setiap kali dijelaskan sebatas 2 lembar, seakan masuk ke relung sanubari dan menyiram ruang hampa yang bisa menyejukkan hati.

Ia pun bertanya kepada orang tersebut.

Buku apa ini, sihir kah?

Bukan, tapi ini adalah bacaan kami, berasal dari Allah SWT  yang diturunkan kepada Nabi kami Muhammad SAW, kitab suci umat Islam, laksana cahaya, petunjuk bagi semesta dan penawar bagi penyakit hati.

Rasa penasaran Jad selama ini terpuaskan, ia akhirnya menyadari selama bertahun-tahun ternyata inilah yang membuatnya bahagia, solusi bagi setiap permasalahnnya. Hadiah yang diberikan pak Ibrahim berpengaruh besar dalam merubah hidup Jad. 

Ia pun bertanya kembali,

Bagaimana caranya untuk menjadi seorang muslim?

Mudah saja, jawab orang Tunisia tersebut, cukup mengucap dua kalimat syahadat, “Aku bersaksi  bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusanNya”

Dengan segala konsekuensinya, Jad memilih menjadi seorang muslim di usianya yang baru berumur 20 tahunan. Sejak saat itu, ia mulai mendalami Islam dengan para pemuka agama di Eropa. Namanya berganti menjadi Jadullah Al-Qur’ani

Ia menjadi dai selama bertahun-tahun dan mengabdikan dirinya untuk berdakwah. Dalam kotak pemberian Pak Ibrahim, ada sebuah pesan berharga yang dilampirkannya kepada Jad.

Isi pesan tersebut dikutip dari ayat Al-Qur’an.

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf: 108)

Islam agama rahmatan lil’alaamiin. Rahmat bagi semesta alam. Sebagai Insan Kalla, nilai – nilai tersebut tidak luput dari kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana kita memaknai kerja ibadah sebagai suatu hal yang kita kerjakan bukan hanya karena mencari duniawi akan tetapi bagaimana kita bisa mengerjakan pekerjaan kita dengan penuh tanggung jawab, jujur serta mengutamakan kepentingan pelanggan. Karena insya ALLAH rejeki akan mengalir seiring dengan ikhitar kita. Jika saja kita bisa mengikuti jejak Ibrahim menjadi agen muslim yang baik. Karena berdakwah ataupun bersyiar, tidaklah harus menjadi ustad atau ustadzah dulu, karena kita bisa memulai kebaikan dari sekitar kita, tentunya dari diri kita sendiri.

Bapak dari tiga putra ini menuturkan bahwa, sejatinya Islam adalah agama yang sempurna, tidak ada keraguan didalamnya dan datang dengan dibawa oleh manusia yang paling mulia, baginda Muhammad SAW. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari apa yang telah dilakukan oleh Ibrahim. Inilah sejatinya dakwah, ia merupakan sebaik-baik pekerjaan, namun harus dibungkus dengan cara yang baik dan penuh dengan makna.

Anita Anwar
Sales Program & Performance Management PT Hadji Kalla

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

sixteen + 17 =