Kewajiban VS Kebutuhan

0
568

Ibrahim, anak laki-laki saya yang berumur lima tahun jika asyik bermain sering lupa makan. Ibunya pun yang harus mengingtkannya agar mau makan. Tapi ternyata tidak mudah menyuruh dia makan. Terkadang harus sedikit dipaksa atau ditakut-takuti atau dibujuk dengan hadiah. Berbeda dengan aktivitas bermain. Tidak perlu disuruh, malahan kalau dilarang dia akan menangis atau marah.

Kenapa demikian? Bagi dia, makan itu bukan kemauan dia, tapi kemauan ibunya. Sedangkan bermain itu kemauan dia. Dalam bahasa lain, makan itu dia pandang sebagai kewajiban bukan kebutuhan. Saat disuruh makan maka dia berada dalam kondisi kewajiban. Dalam keadaan kewajiban, ia sifatnya outside – in, dorongan berasal dari luar. Biasanya rasanya tidak nyaman sehingga sulit bagi anak kecil untuk melaksanakannya. Kenapa? Dorongannya bukan dari dalam. Dia merasa terpaksa dan tentu tidak nyaman. Saat bermain maka dia berada dalam kondisi kebutuhan, ia sifatnya inside-out, dorongan berasal dari dalam diri. Tak perlu disuruh dan dipaksa, malah dia memaksa agar bisa melaksanakannya.

Apa perbedaan antara kewajiban dan kebutuhan? Ternyata perbedaannya sangat besar. Mereka yang melakukan sesuatu karena kewajiban maka dia melakukan sesuatu karena scenario orang lain. Biasanya dia hanya berorientasi ‘survive’, bertahan. Mengerjakan untuk menggugurkan kewajiban. Orang ini akan sulit meraih sukses apalagi bahagia. Jika sesuatu dikerjakan karena kebutuhan maka ia mengerjakan sesuatu karena scenario sendiri. Akibatnya dia akan berusaha semaksimal dengan perasaan, pikiran dan action yang positif. Jika ini terjadi maka sukses akan mudah diraih.

Mari kita cermati keseharian hidup kita. Minimal 3 aktivitas yang kita lakukan yaitu bekerja, belajar dan beribadah. Apakah ketiga aktivitas tersebut kita lakukan karena kewajiban atau kebutuhan? Apakah kita bekerja dengan tuntutan mencapai target merupakan kewajiban atau kebutuhan? Kemudian jika kita dikirim untuk mengikuti pelatihan atau tugas belajar apakah kita jalani karena kebutuhan atau kewajiban? Lalu bagi orang yang beragama Islam, melaksanakan shalat lima waktu, zakat, puasa, haji dan ibadah lainnya apakah karena kewajiban atau kebutuhan?

Jika semua kita lakukan karena keterpaksaan, ketakutan, scenario dari luar maka artinya masih orientasi kewajiban. Jika kita sudah melakukannya dengan sukarela, menjadi bagian dari scenario sendiri, senang hati dan kita dapat memahami dan menyadari dengan baik manfaat di balik itu semua maka itu berarti berorientasi kebutuhan. Bersyukurlah jika Anda telah menjadikannya kebutuhan karena pintu sukses dan bahagia akan segera Anda masuki. Dengan konsistensi dan kesabaran maka perlahan tapi pasti suksses dan bahagia akan Anda raih.

Akhirnya mari kita selalu berusaha menjadikan segala aktivitas kerja, belajar dan ibadah kita bukan sekadar kewajiban tapi juga kebutuhan. Semua kita lakukan karena kesadaran sendiri, bukan keterpaksaan. Kita menjalaninya dengan senang hati. Dampaknya pun akan kita petik berupa sukses dan bahagia dalam hidup ini. Sukses dan bahagia karena adanya pleasure and meaning, senang dan makna. Bahwa semua dilakukan bermakna ibadah sebagai aktualisasi tujuan manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah, dan bagi insan Kalla merupakan pengamalan Jalan Kalla: kerja ibadah.

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twelve − 1 =