Kepercayaan dan Ketenangan

0
541

MediaKALLA.com – Waktu itu sudah larut malam, sekitar pukul 23.00. Kami sekeluarga dalam perjalanan kembali ke Makassar setelah menghadiri acara keluarga di Pekkabata Pinrang, berjarak 200 km dari Makassar. Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam, saya merasa ngantuk dan kelelahan. Maka mobil pun saya hentikan. Kemudian istri saya mengambil alih kemudi dengan harapan saya bisa istirahat melepas lelah dengan tidur di perjalanan. Ternyata belum sampai lima menit saat mata saya mulai ingin terpejam, tiba-tiba jalan menyempit. Hampir saja mobil menabrak pohon. Saya langsung kaget dan harus ikut melihat kondisi jalan sebagai navigator. Akhirnya tidak bisa tidur sampai tiba di Makassar.

Di saat yang berbeda saya bersama Pak Anshari salah seorang direktur di Kalla Group dalam perjalanan dari Parepare ke Makassar. Kendaraan yang sama dikemudikan oleh sopir kantor cabang Kalla Toyota Parepare. Sang sopir sudah sangat hafal kondisi jalan karena lebih dari sekali dalam sepekan membawa mobil baru dari Makassar ke Parepare. Kami berdua pun tertidur dan baru bangun setelah mobil berjalan sekitar 2 jam. Tak terasa waktu berlalu. Kota Makassar ternyata sudah dekat.

Dari dua kisah di atas, apa perbedaan suasana antara cerita pertama dan kedua. Mengapa kami bisa tenang dan tidur dengan nyenyak di cerita yang kedua, padahal tidak terlalu mengantuk karena berangkat di pagi hari? Mengapa saya tidak bisa tenang apalagi tidur di cerita yang pertama padahal sudah sangat lelah dan ngantuk karena sudah larut malam? Ternyata kuncinya ada pada tingkat kepercayaan. Pada cerita pertama, semula saya percaya istri saya bisa mengemudikan mobil dengan baik di malam hari. Ternyata setelah kejadian hampir menabrak pohon, kepercayaan saya berkurang. Saya pun akhirnya tak bisa tidur dan membantunya menjadi navigator. Berbeda dengan kondisi kedua. Sebagai sopir professional karena memang itulah pekerjaannya, kami sangat percaya sang sopir bisa membawa mobil dengan baik. Akibatnya kami pun tenang di atas mobil sampai akhirnya tertidur dengan nyenyak. Ternyata kepercayaan melahirkan ketenangan. Demikian pula sebaliknya, ketidakpercayaan melahirkan kekhawatiran dan ketidaktenangan.

Demikian pula dalam pekerjaan atau perusahaan. Jika pemilik percaya sama direksinya maka dia akan tenang karena yakin perusahaan akan tetap jalan meskipun dia sedang jalan-jalan. Tentu jalan-jalannya pun akan berusaha mencari peluang untuk membuka lahan bisnis baru.  Jika direksi percaya sama manajernya maka dia akan banyak mendelegasikan wewenang dan tanggung jawab taktis – operasional sehingga punya waktu banyak untuk berpikir strategis. Dampaknya sang manajer pun terasah dalam problem solving and decision making. Akan tumbuh kultur inovasi dan kreatifitas serta respon yang cepat dan tepat karena segala sesuatu tidak harus menunggu persetujuan direksi. Jika manajer percaya sama section head atau supervisornya maka dia akan mendelegasikan hal teknis-operasional kepada timnya sehingga dia bisa membantu direksi berpikir hal-hal yang strategis. Jika supervisor atau section head percaya pada staff atau timnya maka dia akan mendorong timnya untuk berinisiatif mencari cara terbaik sehingga produktivitas meningkat karena prinsip “lebih cepat, lebih baik” berjalan sebagaimana mestinya.

Apa factor agar kita dapat dipercaya? Terdapat dua hal yang membuat orang dapat dipercaya yaitu karakter dan kompetensi. Karakter terkait dengan akhlak, integritas dan kompetensi terkait dengan keahlian yang dibangun dari pengetahuan dan keterampilan. Jika menggunakan pendekatan kecerdasan SEPIA (Spiritual, Emosional, Power, Intelekktual dan Aspirasi) maka karakter dibangun oleh kecerdasan spiritual dan emosional sedangkan kompetensi dibangun oleh kecerdasan intelektual, power dan aspirasi. Kecerdasan intelektual terkait dengan problem solving, kecerdasan power untuk menggerakkan tim (leadership and management) dan kecerdasan aspirasi untuk menentukan target dan langkah pasti (strategic and planning).

Terminologi agama menggunakan istilah amanah bagi orang yang dapat dipercaya. Rasulullah yang terpercaya  dengan sifat amanahnya diberi gelar Al Amin (Terpercaya). Beliau amanah karena memiliki iman sehingga selalu dalam kebenaran (Shiddiq) dan bertindak dengan tepat dan professional karena memiliki kecerdasan (Fathonah). Juga dapat menggerakkan sumber daya yang ada karena memiliki sifat komunikatif (Tabligh). Akhirnya terciptalah keamanan dan kemenangan.

Mari membina dan membangun diri serta anggota tim menjadi orang yang terpercaya. Lengkapi diri dengan karakter baik dan kuat serta kompetensi intra personal, inter personal dan organisasional yang mumpuni. Semoga dengan itu akan tercipta Kalla Group yang terus maju dan berbagi bersama bangsa. Menggapai visi “menjadi panutan dalam pengelolaan usaha secara profesional berlandaskan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT”. (*)

[Syamril]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

15 − thirteen =