Kemerdekaan Sejati

0
574

MediaKALLA.com – Bilal, seorang budak Habsyi yang bekerja di rumah Umayah bin Khalaf salah seorang pemimpin musyrik Makkah. Bilal telah mendengar berita tentang munculnya seorang Nabi yang membawa risalah Islam. Meskipun Bilal tahu bahwa tuannya Umayah benci kepada Nabi saw dan risalah yang dibawanya, namun ia tetap pergi menjumpai Rasulullah dan memeluk Islam. Hatinya penuh dengan cahaya Islam yang dengan itu kekallah akidah Islam dalam dadanya, yang menjadikannya lebih mulia dan siap menghadapi segala akibatnya meskipun harus mengorbankan nyawanya.

Ketika Umayah tuannya mengetahui keislaman Bilal, maka Umayah berusaha dengan segala cara agar budaknya itu kembali kepada kemusyrikan, namun ternyata Umayah kehabisan akal, bagaimana mungkin budaknya berani melawan tuannya, bagaimana budaknya berani memeluk agama yang dibenci dan dimusuhinya, sehingga Umayah hendak menyiksanya dengan memerintahkan sekelompok pemuda untuk menjerat leher Bilal dan mengkirabnya ke sekeliling jalan di Makah dengan diiringi umpatan, ejekan dan hinaan.

Kemudian mereka membawanya ke luar kota Makah, menelanjanginya di tengah padang pasir yang panas hingga kulitnya terpanggang, dan ditindihi badannya dengan batu yang panas, dan mereka menunggu jawaban Bilal agar kembali kepada agama nenek-moyangnya dan meninggalkan Islam. Namun apa yang terjadi ? Bilal hanya mengeluarkan kata-kata : “Ahad,  ahad,  ahad!”, sehingga membuat Umayah makin berang dan menjadi putus asa seraya keheranan melihat sikap Bilal tersebut yang tetap kokoh mempertahankan aqidah Islam. Pada saat itu lewatlah Abu Bakar ke tempat Bilal disiksa, kemudian dia berkata kepada Umayah :”Apakah engkau mau menjual budakmu ini kepadaku ?”. Spontan Umayah setuju dengan tawaran Abu Bakar, kemudian Abu Bakar membeli dan membebaskan Bilal sebagai orang yang merdeka.

Sebenarnya Bilal telah merdeka bathinnya sejak memeluk Islam, meskipun secara fisik belum, saat masih menjadi budak Umayah. Dan ketika Abu Bakar membebaskannya, maka Bilal telah merdeka lahir dan bathin. Dan ketika terjadi Perang Badar antara kaum muslimin dan kaum musyrikin, Bilal mampu dengan pedangnya membunuh bekas tuannya, Umayah. Karena suaranya yang bagus, Bilal kemudian dikenal sebagai tukang adzan pada masa Nabi saw.

Makna Merdeka

Untuk kesekian kalinya kita memperingati proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia, setelah terlepas dari belenggu penjajahan bangsa lain. Sehingga seperti tahun-tahun sebelumnya peringatan ini diperingati dengan upacara dan berbagai perlombaan dalam merayakannya. Seluruh anak bangsa larut dalam suka cita dengan segenap kemeriahannya, meskipun dari dua ratus juta lebih penduduk Indonesia ada sebagian kecil rakyat dalam penderitaan akibat penggusuran, kebakaran ataupun korban ketidak-adilan pemerintah atau teraniaya oleh sekelompok orang yang berkuasa. Semua keceriaan itu sangat wajar, bahkan mungkin sebuah bentuk kesyukuran yang sepatutnya bagi bangsa yang lepas dari penjajahan bangsa lainnya, seperti Bilal, seorang budak dari Umayah yang kemudian dibebaskan oleh Abu Bakar, pada kisah di atas.

Masalahnya, tidak semua budak yang merdeka kemudian menjadi benar-benar merdeka seperti Bilal, yang setelah merdeka memang mampu mengentaskan dirinya bisa benar-benar sejajar, atau bahkan lebih mulia dari bekas tuannya. Namun ada juga bekas budak yang kemerdekaannya bersifat semu, yang jasmaninya saja merdeka, tetapi ruhaninya masih mengidap mental budak, sehingga tak pernah bisa sejajar dengan bekas tuannya, apalagi bisa lebih mulia dari bekas tuannya. Senantiasa masih tertunduk-tunduk saat berhadapan dengan sesama orang merdeka, tak punya kepribadian yang kuat, hanya ikut-ikutan orang lain saja. Kawan-kawannya mabuk, ia ikut menghilangkan akalnya. Tetangganya mengumbar aurat, ia ikut telanjang. Saudaranya menawarkan kolusi, ia ketagihan korupsi. Tuannya menawarkan riba, ia mau-maunya dijerat hutang. Tetapi semuanya itu ia lakukan dengan bangga, ia mengira dengan begitu telah menjadi manusia merdeka dan modern, padahal sebenarnya ia menjadi manusia yang terbelenggu dan terbelakang.

Bila dikiaskan dengan bekas budak di atas, maka jenis manakah kita atau manusia Indonesia sekarang ini ? Apakah kita seperti Bilal, menjadi bangsa yang mampu mengentaskan diri setelah merdeka, sehingga mampu sejajar atau bahkan lebih mulia kedudukannya dengan bekas penjajahnya ? Apakah Indonesia telah sejajar dengan Belanda atau Jepang ? Sepertinya masih jauh panggang dari api. Barangkali kita seperti jenis bekas budak yang kedua, yang secara resmi merupakan bangsa yang merdeka dan berdaulat, namun kenyataannya senantiasa takluk dan tertunduk-tunduk menghadapi bangsa lain, masih mau didikte oleh bangsa lain. Sehingga sebenarnya kita hanya mengalami kemerdekaan semu, seolah-olah bebas merdeka, tapi kenyataannya takluk dan didikte bangsa lain. Seolah-olah mandiri, tapi sebenarnya jadi ‘kacung’ dan masih seperti bebek yang gemar menguntit. Oleh karena itu, masih pantaskah kita bergembira ria merayakan kemerdekaan yang semu ini ?

Apakah tidak sepantasnya kita menyesali karena selama ini kita masih tertipu oleh diri sendiri, dan kemudian kita bangkit untuk menjadi bangsa merdeka yang sejati ? Maka sebagai bangsa yang penduduknya mayoritas Islam, tidak ada cara lain untuk bisa merdeka yang sebenarnya, kecuali dengan kembali kepada ajaran Islam sesuai petunjuk Allah (Quran) dan RasulNya (hadits). Bukan mengikuti orang-orang tampaknya menawarkan solusi namun sebenarnya menjadi pemecah umat dan penghancur bangsa, seperti yang digambarkan pada firman Allah :

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung-jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah dengan Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya, dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan sesuai dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya” (QS Al An’aam 159-160)

Solusi kembali kepada petunjuk Allah dan RasulNya akan menjadikan kita merdeka yang hakiki. Secara ruhani, kita terbebas dari penghambaan diri selain kepada Allah, hanya tunduk patuh kepada Allah dan RasulNya, bukan kepada bangsa atau ajaran lain. Secara jasmani, dengan menggunakan akal dan pikiran kita dan semangat kerja keras sebagai suatu bentuk ibadah kepada Allah, yakin kita akan mampu bangkit dan mensejajarkan diri dengan bangsa lain, bahkan akan lebih mulia dari mereka. Dunia akan kita dapatkan, akhiratpun insya Allah akan kita raih. Itulah kesuksesan dari kemerdekaan sejati. Mari bangun jiwa dan raga kita agar kemerdekaan ini tidak identik dengan konvensi dan ritualisme belaka. (*)

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group – Ramadhan 1434 H[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three + 10 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.