Profil Ringkas

Pasangan Hadji Kalla dan Hajjah Athirah Kalla, mengawali usahanya di bidang perdagangan tekstil di kota Watampone. Ketika pindah ke Makassar (saat itu bernama Ujung Pandang), pada 18 Oktober 1952, Kalla mendirikan Firma  NV Hadji Kalla Trading Company yang bergerak di bidang jasa angkut, ekspor-impor. Dalam mengelola NV Hadji Kalla, ia bantu oleh istri dan beberapa temannya, salah satunya Hadji Saebe.

Bisnis keluarga Kalla berkembang kepada usaha sarung sutra di Makassar pada tahun 1964. Sarung sutra dipasok ke kota-kota di Sulawesi dan Indonesia Timur. Bisnis mereka merambah kejual beli hewan dan pakan ternak. Inflasi yang tinggi  yang terjadi pada tahun 1965, Usaha ekspor-impornya yang dijalankan oleh Hadji Kalla mengalami kelesuan, begitu pula usaha lainnya. Pada masa sulit ini, usaha angkutan “Cahaya Bone” tetap berjalan walaupun dengan hanya dikelola oleh satu karyawan yaitu Jusuf Genda.

Selain itu, Hadjah Athirah juga turut berperan pada masa krisis itu. Saat itu, Hadjah Athirah membantu perekonomian keluarga dengan berdagang sarung dan perhiasan. Masa-masa sulit itu sangat membekas di hati Jusuf Kalla. “Pada masa sulit tersebut, yang menghidupi kami adalah usaha niaga ibu,” kenangnya. Berkat kerja keras yang tak kenal lelah, Hadji Kalla dan keluarganya berhasil mengembangkan usahanya dalam berbagai bidang lainnya, Pada yang kemudian disatukan di bawah bendera Grup Hadji Kalla.

Pelanjut Pertama: Jusuf Kalla

Pada 1967, Kalla mewariskan semua perusahaannya kepada anaknya, Jusuf, pria 25 tahun yang baru saja menyelesaikan studi ekonomi di Universitas Hasanuddin Makassar. Tangannya tergolong dingin. Perlahan bisnis itu berkembang kebidang angkutan, ekspor plastik, cokelat, udang, jual beli mobil dan lain-lain.

Di tangan Jusuf, perusahaan mulai dikembangkan dengan misi : membangun usaha yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Usaha pertokoan dibenahi, ekspor-impor dihidupkan kembali, usaha angkutan dirintis dengan modal 10 bis dan bidang kontruksi juga mulai dimasuki dengan mendirikan PT. Bumi Karsa. Di tahun ini pula Jusuf menikah dengan gadis pujaan hatinya, Mufidah binti Mi’ad Sa’ad.

Pada tahun 1969, Jusuf dan ayahnya mulai berdagang mobil. Hingga mereka, melalui perusahaan NV Hadji Kalla, resmi ditunjuk PT Toyota Astra Mobil (pabrik mobil Toyota di Indonesia) untuk menjadi distributor resmi mobil Toyota di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah (sekarang bertambah untuk Sulawesi Barat).

Misi Jusuf untuk membangun usaha yang menyangkut hajat hidup orang banyak terus berlanjut dengan mendirikan beragam usaha di bawah bendera Kalla Group : PT Bumi Sarana Utama untuk beli-jual aspal, PT Bumi Sarana Beton untuk produksi beton, PT Kalla Electrical System untuk produksi transformasi listrik, PT Kalla Inti Karsa untuk perniagaan, PT Baruga Asrinusa Development untuk properti, PT Sahid Makassar Perkasa untuk hotel, PT Bumi Lintastama untuk bisnis angkut-antar daerah, PT Bumi Jasa Utama untuk beli-sewa mobil, Yayasan Pendidikan Agama Islam Athirah untuk pendidikan, PT Energy Poso untuk produksi listrik dan termasuk pecahan usaha-usaha yang membentuk grup lain seperti Bukaka Group.

Sejak Tahun 1982, Grup Hadji Kalla dipimpin oleh Muhammad Jusuf Kalla. Untuk kawasan Indonesia Timur, Grup Hadji Kalla merupakan kelompok usaha yang paling menonjol. Kendali usaha dipusatkan di Makassar sedangkan operasionalnya meliputi seluruh wilayah sulawesi dengan tiga bidang usaha utama: otomotif, perdagangan dan konstruksi. Grup Hadji Kalla juga mengerjakan proyek-proyek untuk kawasan Indonesia Timur, khususnya yang berkaitan dengan infrastruktur.

Manuver usaha Kalla yang dikelola oleh Jusuf Kalla merambah ke daerah Jawa. Yang berbasis di Jakarta. Dimana,  perusahaan bergerak ke sektor konstruksi bangunan, jembatan, perkapalan, transportasi, kelapa sawit dan telekomunikasi. Di bawah bendera PT Bukaka, imperium keluarga Kalla melar dalam 12 anak usaha.

Ketika terjadi krisis ekonomi 1998, Group Bukaka terpaksa menghentikan sejumlah proyek dan memberhentikan ratusan karyawan. Tapi benteng bisnis di Makassar membuat perusahaan bisa bertahan.Hampir semua bahan baku bisnis mereka berbasis lokal.Dan diekspor kesejumlah negara.Bisnis mereka terus membesar lewat bisnis plastik, udang, cokelat, dan rempah-rempah.

Setelah krisis berlalu, mesin bisnis di Jawa kembali menderu. PT. Bukaka kembali beroperasi dengan membangun konstruksi, gedung raksasa, perkapalan, telekomunikasi, dan pembangkit listrik tenaga air.

Fatimah Kalla: Presiden Direktur Kalla Group

Pada bulan Oktober 1999 di masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, Jusuf Kalla diangkat menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Amanah baru tersebut membuat Jusuf Kalla tidak bisa lagi fokus mengurus perusahaan. Apalagi karirnya di pemerintahan terus berlanjut menjadi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) di era Megawati dan Wapres dari tahun 2004 – 2009 di era SBY. Kepemimpinan di PT. Hadji Kalla pun dilanjutkan oleh adiknya Fatimah Kalla. Di bawah kepemimpinan Fatimah Kalla sebagai Direktur Utama dan didampingi oleh Imelda Jusuf Kalla sebagai Direktur Keuangan, Kalla Group terus berbenah diri untuk maju bersama menggapai impian. Apalagi setelah Wisma Kalla diresmikan pada bulan Januari 2010 maka mulai saat itu seluruh aktivitas bisnis Kalla Group dikendalikan dari tempat ini. Di sinilah berkantor para jajaran direksi perusahaan.

Kini Kalla Group telah menginjak usia ke-59 tahun. Sampai kapan group ini akan bertahan? Harapan Jusuf Kalla, dalam ceramahnya di hadapan segenap karyawan, Kalla Group bisa bertahan hingga ratusan tahun ke depan dengan visi: tumbuh bersama dalam kebersamaan; bermanfaat bagi masyarakat dan negara.

Kini Kalla Group dibagi kepada tiga divisi yaitu divisi otomotif dan pembiayaan, divisi energi dan pembangkit listrik, divisi konstruksi dan properti, dan divisi pendidikan.

*Klik gambar untuk memperbesar

[singlepic id=137 w=320 h=240 float=none]

Menjadi Ikan Besar di Kolam Kecil

Menurut Jusuf Kalla, Kalla group perusahaannya bukanlah perusahaan yang besar untuk ukuran nasional tetapi salah satu yang terbesar di Indonesia Timur. Dalam ungkapannya, “Lebih baik menjadi ikan besar di kolam yang kecil, dari pada menjadi ikan kecil di lautan yang besar.” Itulah sebabnya sebagian besar usaha Kalla group berada di kawasan timur Indonesia.

Dengan membuka kantor di Jakarta, tampaknya usaha Hadji Kalla Group akan mulai Go Nasional. Terlebih lagi dengan mulai tampilnya generasi ketiga bisnis perusahaan akan bergerak ke tingkat yang lebih luas seperti ke tingkat regional Asia Tenggara. (mk)