Job Analysis Training Kalla Group

0
584

Makassar – Karyawan (employee) adalah aset berharga bagi sebuah perusahaan. Selain itu, karyawan merupakan internal customer bagi perusahaan yang mengetahui segala aspek tentang perusahaan. Terkait fungsinya sebagai penggerak utama kegiatan perusahaan, karyawan memiliki kewajiban (job description) juga memiliki hak (compensation) atas hasil kerjanya. Kedua hal ini memiliki keterkaitan satu sama lain. Agar kedua hal ini dapat seimbang perlu dilakukan kajian mendalam.

Untuk tujuan itulah, holding Kalla Group mengadakan Job Analysis Training yang dilangsungkan di Saoraja Ballroom, Wisma Kalla lantai 2.  Training ini berlangsung selama dua hari, 20-21 Maret 2012 dan diikuti sekitar 30 perwakilan staf HRD dari beberapa anak perusahaan Kalla Group. Diantaranya Kalla Toyota, Bukit Baruga, Kalla Property,Bumi Sarana Beton,dan sejumlah unit perusahaan lainnya di Kalla Group. Hadir sebagai trainer, Dewanto dary Sys Consulting.

Dewanto mengatakan bahwa sebuah job description harus mencantumkan semua tugas tugas dari jabatan secara rinci dan mampu menggambarkan cakupan tanggung jawab pekerjaan. Lebih rinci, Dewanto menjelaskan bahwa seorang karyawan harus  full entity. Dalam artian tidak boleh ada satu orang yang mengerjakan 2 hal yang berbeda. Sebaliknya Jangan sampai ada dua orang yang mengerjakan satu hal yang sama.

Ada banyak kasus dimana ketika terjadi kekosongan jabatan, satu karyawan harus memegang dua jabatan. Hal ini menurut Dewanto akan berpengaruh terhadap pembobotan jabatan. “Sebagai contoh, Kabag IT yang juga harus menjabat Kabag keuangan. Dalam hal ini, yang bersangkutan harus memprioritaskan salah satunya. Kemudian dia diberi SK. Atau solusi lain, dapat dikombinasikan 2 department yang saling berhubungan. Misalnya, Bagian personalia dengan Payroll, Bagian rekruitmen dengan training.” Katanya mencontohkan. Untuk menghindari hal ini, disarankan ketika menyusun Job description, strukturnya harus benar dulu atau dibuat lengkap serta sesuai kebutuhan.

Adapun jika seorang seorang karyawan menginginkan kenaikan grade, maka jobdesk nya harus ditambahkan kemudian di value. Dewanto member contoh, seorang Office Boy yang bertugas membersihkan seperempat lantai kemudian menjadi setengah atau satu lantai, gradenya tidak otomatis naik. Gradenya baru  naik ketika yang dibersihkannya menjadi 2 lantai karena dia harus membuat rencana harian. “ Sebagai kesimpulan kenaikan grade dapat dilakukan berdasarkan penilaian karya atau performance appraisal. “ tegas Dewanto. [MK]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

18 − 15 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.