Ir. Syamril, M.Pd: Kepala Bidang Pendidikan Yayasan Kalla

0
992

Sejak bulan April 2011 di lingkungan Yayasan Kalla terdapat dua orang wajah baru. Pertama Pak Edi Sutarto yang diberi amanah sebagai Direktur Sekolah Islam Athirah, bergabung sejak April 2011. Sebelumnya beliau di Sekolah Islam Al Izhar Jakarta. Kemudian sebulan kemudian Mei 2011 bergabung pula Pak Syamril yang diberi amanah sebagai Kepala Bidang Pendidikan Yayasan Kalla. Sebelumnya beliau di Lembaga Pengembangan Pendidikan Salman ITB Bandung sebagai Direktur Pelaksana.

Berikut ini perkenalan lebih lanjut dengan Pak Syamril :

Nama Lengkap : Ir. Syamril, M.Pd

Tempat tanggal lahir :  Pekkabata Pinrang, 20 April 1974

Suku Bangsa : Bugis

Riwayat Pendidikan :

SD : SDN 28 Pinrang

SMP : SMPN 1 Duampanua

SMAN : SMAN 5 Bandung

S1 : Teknik Fisika ITB

S2 : Universitas Pendidikan Indonesia

Amanah di Kalla Group : Kepala Bidang Pendidikan Yayasan Kalla

Alamat : Jl. Kayu Agung I No. 19 Kawasan Andalas Komplek Bukit Baruga Makassar

Menikah : tahun 1999

Nama Istri : Nia Murniati, S.Si

Pendidikan terakhir : S1 Biologi ITB

Pekerjaan : Guru SMP Islam Athirah Bukit Baruga

Suku Bangsa : Sunda

Jumlah Anak : 4 orang yaitu Fathiyya (11 tahun), Yasmina (9 tahun), Aliyya (7 tahun), bersekolah di SD Islam Athirah Bukit Baruga dan Ibrahim (4 tahun).

 

Bisa Anda ceritakan perjalanan hidup Anda selama ini?

Saya bersyukur kepada Allah SWT dapat melalui perjalanan hidup yang cukup berwarna baik dari sisi tempat maupun budaya. Dari kecil sampai lulus SMP tahun 1989 saya tinggal di Pekkabata Pinrang Sulsel. Desa yang berjarak 200 km dari Makassar dengan bahasa Bugis sebagai bahasa komunikasi sehari-hari . Desa yang cukup ramai dan akses pendidikan yang juga cukup memadai. Di sanalah saya tinggal dan bersekolah sampai lulus SMP. Kemudian tahun 1989 saya melanjutkan ke SMAN 5 Bandung, lalu kuliah di Teknik Fisika ITB. Menikah dengan gadis Bandung, bekerja dan tinggal di Bandung sambil kuliah S2 di UPI sampai April tahun 2011 sehingga bisa juga berbahasa Sunda.  Tinggal di Bandung selama 22 tahun. Lalu bulan Mei 2011 pindah ke Makassar.

Bagaimana ceritanya Anda bisa merantau ke Bandung?

Alhamdulillah prestasi di SD dan SMP cukup bagus, dapat meraih rangking I di sekolah. Sampai akhirnya di bulan Juni tahun 1989 ada informasi dari seorang guru bahwa ada beasiswa untuk sekolah SMA ke Bandung. Beasiswanya berasal dari PT. Hadji Kalla. Yang mendapat beasiswa ada 18 orang dan berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Sulsel. Salah satu diantaranya adalah Pak Hariyadi Kaimuddin yang sekarang jadi Direktur Kalla Toyota.

Jadi Beasiswa Kalla sudah ada sejak Anda masih SMA tahun 1989 itu?

Bahkan sebelum kami yang berjumlah 18 orang, sudah ada 2 angkatan yang juga disekolahkan di SMAN 3 dan 5 Bandung. Angkatan 1 tahun 1987 ada 1 orang, Muhammad Ashar (alm). Angkatan ke 2 tahun 1988 ada 6 orang dan salah satunya adalah Pak Subhan Djaya yang sekarang Manajer SDM di Kalla Inti Karsa. Jadi saya angkatan ke 3 tahun 1989 yang berjumlah 18 orang dan setelah itu masih ada angkatan ke 4 tahun 1990 sebanyak 5 orang. Kemudian sempat vakum lalu ada lagi di tahun 1994 – 1996 yang jumlahnya sekitar 50 orang.

Apakah program tersebut masih ada sekarang?

Setelah beberapa angkatan oleh Yayasan Kalla, lalu dilanjutkan oleh Yayasan Latimodjong pimpinan Pak Ahmad Amiruddin. Kemudian Yayasan Latimodjong pun mendirikan SMA Tinggimoncong. Sejak itu siswa SMP berprestasi di Sulsel tidak lagi dikirim ke Bandung tapi disekolahkan di SMA Tinggimoncong Gowa.

Mulai tahun ini dijalankan lagi tapi juga tidak dikirim ke Bandung. Yayasan Kalla mendirikan SMP SMA Islam Athirah Boarding School di Bone di area seluas 6,3 hektar. Sekolah ini 80% siswanya (tahun 2011/2012 sebanyak 63 orang) mendapat beasiswa penuh dari Yayasan Kalla. Seluruh biaya pendidikan meliputi gaji guru dan operasional pembelajaran dan biaya pondokan termasuk konsumsi untuk guru, karyawan dan siswa setiap hari dibiayai penuh oleh Yayasan Kalla.

Catatan : Lebih lanjut tentang SMP SMA Islam Athirah Bone dapat dibaca pada artikel lain.

Sebelum bergabung di Yayasan Kalla, Anda bekerja dimana saja?

Semula saya ingin punya usaha sendiri. Tahun 1997 saya dan teman-teman dari ITB mendirikan perusahaan di bidang teknologi informasi yang bernama Nettron Inovatif. Tapi ternyata tahun 1999 gulung tikar karena kondisi krisis moneter, sulit cari proyek. Di bulan Juli tahun 1999 saya menikah dengan keadaan perusahaan baru gulung tikar. Dari pada tidak ada pekerjaan, akhirnya saya pun menjadi guru honorer di SMP SMA Darul Hikam Bandung. Lalu tahun 2002 pindah ke YPM Salman ITB. Di Salman ITB dari tahun 2002 – 2011 saya menangani bidang pendidikan dan kemahasiswaan. Di bidang pendidikan yaitu melatih guru-guru di Jawa Barat sampai ke Maluku, Kalimantan  dan Sumatera. Menyiapkan siswa-siswi dhuafa SMA se Jabar untuk masuk ke ITB dengan Beasiswa Pelopor dari Gubernur Jawa Barat. Hasilnya 96 orang masuk ke ITB dengan beasiswa penuh. Lalu di kemahasiswaan, menangani asrama dan beasiswa kuliah untuk mahasiswa yang mendapat bantuan dari Salman ITB. Ternyata menjadi guru, melatih guru-guru, siswa dan mahasiswa dan segala yang terkait dengan dunia pendidikan itu mengasyikkan. Maka saya pun terus menggeluti dunia pendidikan sampai sekarang.

Kenapa akhirnya pindah ke Makassar?

Saat sedang melatih guru-guru di Jawa Barat bahkan Maluku, Kalimantan, dan Sumatera sering saya berujar dalam hati kapan ya saya bisa melatih guru-guru di Sulsel, kampung halaman saya sendiri. Kemudian saat menangani Beasiswa Pelopor kerja sama dengan Gubernur Jawa Barat yang berhasil meloloskan 96 siswa dhuafa se Jawa Barat masuk ke ITB dengan beasiswa penuh. Kapan ya anak-anak Sulsel juga bisa merasakan hal seperti ini? Sampai akhirnya dapat informasi dari Pak Hariyadi bahwa ada kebutuhan SDM di Yayasan Kalla untuk menangani CSR salah satunya di bidang pendidikan.

Apa yang membuat Anda akhirnya tertarik untuk bergabung dengan Yayasan Kalla?

Bagi saya ada 3 hal yang menjadi parameter yaitu Misi, Diri dan Gizi.  Misi terkait dengan idealisme, panggilan jiwa, alasan mendasar sampai ke passion. Lalu Diri terkait dengan bagaimana diri kita ada kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dengan tantangan dan suasana baru. Dan akhirnya Gizi yaitu pendapatan karena sudah berkeluarga dengan amanah istri dan anak-anak. Setelah bertemu dengan Bu Ima pada hari Jumat tanggal 11 Maret 2011 di Wisma Kalla ketiga parameter tersebut terpenuhi.

Bagaimana rasanya setelah menjalani aktivitas di Makassar?

Pada awalnya terasa sulit karena perlu adaptasi dengan orang baru, kantor baru, cuaca, bahasa dan budaya baru. Lama-lama, Alhamdulillah mulai terasa betah, apalagi menemukan banyak hal dan pembelajaran baru. Istri dan anak-anak saya juga mulai punya teman dan belajar tentang kepercayaan diri dan keberanian dari teman-temannya yang tentu beda dengan kultur Sunda.

Apa harapan Anda terhadap PT. Hadji Kalla di ulang tahunnya yang 59 ini?

Semoga Kalla Group dapat terus maju dan berkembang sampai hidup minimal 1000 tahun lagi. Menjadi yang  terbaik, tauladan dan peduli terhadap kesejahteraan masyarakat. Dapat terus berkembang dengan internalisasi dan implementasi nilai –nilai KALLA yaitu Kerja ibadah, Apresiasi pelanggan, Lebih cepat lebih baik, Loyalitas dan Aktif bersama. Saya sangat bersyukur dan bahagia jika menjadi bagian dari kemajuan itu dan turut berkontribusi secara signifikan untuk kemajuan Kalla Group.

Terakhir pak, apa nilai-nilai yang Anda pegang dalam menjalani hidup selama ini?

Bagi saya, di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Semua sudah dalam takdir Allah. Sehingga saat saya harus menjalani hidup di tempat baru, saya berusaha berbaik sangka. Pasti Allah punya maksud dan saya memohon semoga Allah memberi yang terbaik dan hanya Allah yang Maha Tahu yang terbaik untuk hidup saya. Tugas saya yaitu jalani hidup untuk menjadi yang terbaik dengan memberi manfaat yang sebanyak-banyaknya untuk keluarga, masyarakat dan lingkungan. Bahwa hidup terbaik dengan amalan terbaik bukan hanya untuk mencari coin (uang atau harta) tapi juga poin (nilai tambah dan manfaat) serta berusaha menjadi icon (tauladan dan inspirasi).

Terima kasih pak. Semoga terus berbuat yang terbaik dan apa yang diharapkan dapat tercapai.

*Media Kalla Editor*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five − 3 =