INSPIRASI WUKUF DAN DO’A SAPUJAGAT

0
504

MediaKALLA.com – Sepuluh tahun yang lalu (tahun 2005) saya berangkat menunaikan ibadah haji bersama kafilah KBIH Salman ITB. Ada satu kejadian yang tidak bisa saya lupakan saat sedang wukuf di Arafah. Setelah ritual wajib wukuf selesai ditunaikan dan tinggallah jamaah haji menunggu berangkat ke Muzdalifah, maka saya mengisi waktu dengan membaca Al Qur’an. Saya membaca Al Qur’an dan terjemahnya dan mencari ayat-ayat haji. Saya kaget saat membaca Surat Al Baqarah 200-201 tentang do’a sapujagat yang hampir semua orang hafal. Ternyata do’a itu ada di rangkaian ayat-ayat haji. Saya merenung kenapa Allah meletakkan do’a ini di rangkaian ayat-ayat haji?

Saya pun kembali mengingat kejadian sebelum berangkat haji. Sebagaimana biasanya sebelum berangkat, datanglah keluarga, teman dan sahabat mendo’akan agar selamat di perjalanan dan dapat meraih haji mabrur. Ada juga teman yang minta dido’akan di tempat mustajab. Agar saya tidak lupa dengan titipan do’a tersebut, maka saya meminta teman untuk menuliskannya di selembar kertas. Saya simpan kertas itu ke dalam dompet dan saya buka saat di tanah suci.

Apa isi titipan do’a di kertas tersebut. Ada yang meminta agar piutangnya yang macet segera dilunasi.  Ada yang mau jual rumah belum laku mohon dido’akan agar segera laku. Ada yang belum menikah mohon dido’akan agar segera dapat jodoh, dan lain sebagainya. Saya pun mencoba mengingat-ingat do’a apa yang banyak saya panjatkan selama di tanah suci?  Ternyata sebagian besar isinya meminta kebahagiaan dunia. Bolehkah meminta dunia? Boleh saja, tapi tidak boleh lupa memohon untuk kebahagiaan akhirat.

Berdasarkan Q.S. Al Baqarah 200-201 manusia berdo’a kepada Allah ada dua tipe. Pertama, manusia yang hanya memohon dunia dan lupa akhirat. Allah mengingatkan dalam Al Qur’an :

… Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. (Q.S. Al Baqarah : 200)

Permohonan dunia berupa kekayaan dengan jalan bisnis yang terus maju bagi para pengusaha atau gaji yang selalu naik bagi karyawan. Jika bentuknya jabatan manusia berharap mendapat promosi di tempat kerja, menduduki posisi strategis di instansi pemerintahan atau swasta dengan harapan pengaruh bertambah dan tentu dampaknya harta juga bertambah apalagi posisinya di tempat yang ‘basah’. Jika bentuknya ilmu khususnya bagi para pelajar dan mahasiswa berharap agar sekolahnya nilainya bagus, masuk ke Perguruan Tinggi terbaik sehingga saat lulus jadi sarjana mudah mencari kerja dengan gaji yang tinggi.

Apa permasalahan dengan permohonan di atas? Sepintas lalu baik-baik saja. Namun jika ditelisik lebih dalam akan tampak bahwa orientasi harta, tahta dan ilmu yang dimintanya hanya untuk dunia atau diri pribadi. Apakah boleh memohon dunia? Tentu saja boleh, tapi Allah mengingatkan agar disempurnakan sekaligus juga untuk akhirat. Maka ada tipe kedua yaitu manusia yang berdo’a untuk dunia dan akhirat. Allah berfirman :

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (Al Baqarah : 201)

Kebaikan di dunia diorientasikan untuk kebaikan di akhirat. Dengan harta yang banyak dapat membantu banyak orang. Punya perusahaan yang besar bisa menjadi makelar rezeki dari Allah kepada ribuan keluarga. Dengan tahta atau jabatan yang tinggi dapat menjadi jalan untuk membela rakyat dengan kebijakan yang adil sehingga rakyat jadi tambah sejahtera. Dengan ilmu yang tinggi dapat memberi pencerahan, solusi atau berkarya untuk kemaslahatan rakyat. Semua itu sebagai wujud syukurnya atas nikmat dari Allah yang tak terhingga. Semoga dengan itu semua do’a sapujagat yang senantiasa dipanjatkan setiap selesai shalat dapat terkabulkan, meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, Amin.

Itulah sedikit hikmah yang penulis dapatkan saat wukuf di Arafah. Semoga dapat memberi inspirasi. Dan semoga dalam waktu dekat Allah memberi kesempatan kepada kita untuk wukuf di sana di musim haji yang penuh berkah.

Makassar, 9 Zulhijjah 1436 / 23 September 2015

[Syamril]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × 1 =