Indikator Pemenang

0
645

MediaKALLA.Com – Training sebulan selama Ramadhan harapannya dapat membuat kita menjadi pemenang. Pemenang ada indikatornya yang dapat digali dari Al Qur’an. Kata Al Qur’an tentang pemenang ada dua yaitu ‘faizun’ dan ‘falah’. Kata ‘faizun’ dalam Al Qur’an ditemukan pada surat An Naba’ ayat 31 :

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan (mafaza),

Kata ‘falah’ digunakan dalam kumandang adzan ‘hayya alal falah’ yang artinya mari meraih kemenangan. Dalam Al Qur’an ditemukan pada Surat Al Mukminuun ayat 1 :

Sesungguhnya beruntunglah (aflah : menanglah) orang-orang yang beriman,

Juga orang takwa meraih keberuntungan :

Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Al Baqarah : 5)

1. Apa ciri-ciri atau indikatornya?

Mari kita lihat berdasarkan penjelasan Al Qur’an berikut : Shalatnya khusyu’ dan terjaga

Training sebulan dengan shalat 5 waktu ditambah tarawih tiap malam diharapkan dapat membentuk kompetensi  khusyu’ dalam shalat. Mengapa? Khusyu diperoleh jika kita dapat merasakan kehadiran Allah. Suasana berpuasa di mana tidak makan dan minum tanpa pengawasan dari manusia tapi merasakan pengawasan Allah akan memudahkan meraih suasana khusyu tersebut. Kemudian shalat sunnah saja rajin dikerjakan semoga membuat kita semakin menjaga shalat wajib. Semoga dengan itu dapat menjadi mukmin yang meraih kemenangan karena memiliki ciri-ciri sesuai Al Qur’an :

(yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. (Q.S. Al Mukminuun : 2,9)

mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat … , (Al Baqarah : 2)

Selepas Ramadhan diharapkan dapat mengerjakan shalat dengan khusyuk, berusaha shalat lima waktu secara berjama’ah pada awal waktu di masjid atau musholla.

2. Hidupnya produktif, efektif dan efisien

Perhatikan bagaimana kita bersikap terhadap waktu saat Ramadhan. Rasanya sedetik pun sangat berharga apalagi menjelang buka puasa karena ingin segera berbuka. Lalu bangun di waktu sahur untuk makan kemudian shalat subuh. Tadarus Al Qur’an dengan target khatam 30 juz. Shalat berjama’ah lima waktu dan tarawih menjadi kebiasaan dan mendengarkan ceramah menambah ilmu, memperkuat iman dan mendorong amal shaleh. Rasanya mudah menghindari perbuatan yang sia-sia dan tak berguna. Berkurang waktu untuk nonkrong dan ngobrol ngalor ngidul apalagi ngegosip. Itulah ciri mukmin yang meraih kemenangan:

dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, (Q.S. Al Mukminuun : 3)

Semoga di bulan berikutnya kita menjadi manusia yang hidupnya produktif, efektif dan efisien karena umur digunakan untuk hal yang berguna, jauh dari kesia-siaan. Kita menghargai waktu hidup di dunia yang hanya sebentar dengan mengerjakan amal shaleh. Itulah bekal untuk menjalani hidup abadi di akhirat.

3. Dermawan dan senang berbagi

Di bulan Ramadhan kita sangat mudah mengeluarkan uang yang bukan untuk keperluan diri sendiri. Setiap hari di saat tarawih, kencleng beredar di masjid. Kemudian membagikan makanan buka puasa atau mengadakan acara buka puasa bersama. Perumahan dan sekolah biasanya mengadakan acara bakti sosial berbagi dengan kaum dhuafa, anak yatim dan jompo. Lalu iklan zakat, infak dan shadaqah yang gencar mengajak menunaikannya. Membayar zakat fitrah, mengantar parcel lebaran, memberi uang ke keluarga atau kerabat lain yang membutuhkan. Itu semua melatih kita menjadi dermawan, jauh dari pelit dan kikir. Inilah ciri orang beriman dan bertakwa yang meraih kemenangan sebagaimana firman Allah :

…dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, (Al Baqarah : 3)
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, … (Ali Imran : 134)

dan orang-orang yang menunaikan zakat, (Al Mukminuun : 3)

4. Hawa nafsu terkendali

Apa yang membuat manusia sengsara? Hawa nafsu yang tidak terkendali jawabannya. Nafsu makan, nafsu syahwat, dan nafsu amarah adalah beberapa nafsu manusia yang jika tidak terkendali akan membahayakan. Banyak penyakit di era sekarang ini berasal dari makan yang berlebihan. Puasa melatih untuk mengurangi makan dan minum dan ternyata membuat fisik dan jiwa jadi sehat. Lalu era modern yang terbuka segalanya membuat godaan nafsu syahwat begitu gampang tidak terkendali. Jika ini terjadi akan merusak kehidupan pribadi, rumah tangga maupun masyarakat. Puasa melatih mengendalikan nafsu syahwat dengan tidak melakukan pada suami/istri yang halal. Harapannya kepada yang halal saja dapat dikendalikan apa lagi pada yang haram. Demikian pula dengan nafsu amarah yaitu ketidakmampuan mengendalikan emosi pada orang lain. Puasa melatih untuk mengendalikan marah. Hawa nafsu yang terkendali menjadi ciri orang yang bertakwa sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an :

… makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Q.S. Al A’raaf : 31)

dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Q.S. Al Mukminuun : 5-7)

… dan orang-orang yang menahan amarahnya …  (Q.S. Ali Imran : 134)

Jika pasca Ramadhan manusia tetap dapat mengendalikan hawa nafsunya maka dia akan menjadi manusia yang meraih kemenangan, peperangan terhadap diri sendiri.

5. Menjaga Amanah

Kehancuran negara atau bangsa salah satu karena pemimpin yang tidak amanah. Demikian sulitnya mencari pemimpin yang amanah di negeri ini sehingga korupsi tetap merajalela. Mengapa pemimpin negeri ini sangat sulit memiliki sifat amanah? Bukankah mereka mayoritas orang yang beragama dan percaya adanya Allah? Memang demikian adanya tapi mereka hanya percaya adanya Allah namun tidak merasakan adanya Pengawasan Allah. Sehingga pelanggaran dan maksiat tetap berjalan karena merasa tidak ada yang lihat. Orang yang amanah mengerjakan tugas sebaik-baiknya meskipun tidak ada yang mengawasi. Baginya cukuplah Allah yang Mengawasi. Amanah itu juga titipan yang harus dipertanggungjawabkan kelak di hari akhirat.

Puasa melatih kita untuk menjadi orang yang amanah. Menahan lapar, haus, dahaga dan nafsu seksual tanpa ada pengawasan dari manusia. Bisa saja kita masuk dalam kamar lalu makan minum karena tidak ada yang melihat. Namun itu tidak dilakukan karena kita yakin Allah Maha Melihat. Dengan demikian puasa akan membentuk pribadi yang amanah sesuai firman Allah :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (Q.S. Al Anfaal : 27)

Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya, (Q.S. Al Mukminuun : 8)

6. Senantiasa Introspeksi Diri

Orang yang hebat bukanlah mereka yang merasa hebat tapi mereka yang hebat merasa. Jika seseorang sudah merasa hebat maka dia tidak bisa lagi melihat kekurangan pada dirinya. Dia akan merasa suci dan tak punya dosa lagi. Lama-lama bisa jadi manusia yang sombong. Puasa melatih kita untuk senantiasa introspeksi diri. Memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Beramal shaleh sebanyak-banyaknya untuk bekal hari akhirat. Allah berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al Hasyr : 18)

Puasa juga mengajarkan kita untuk senantiasa introspeksi diri, memohon ampun kepada Allah dan memohon maaf kepada sesama manusia. Allah berfirman :

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (Q.S. Ali Imran : 135)

7. Senang Belajar dan Cinta Al Qur’an

Orang yang menang yaitu mereka yang selalu melakukan yang terbaik dalam hidupnya. Untuk itu harus senantiasa belajar mencari cara dan jalan yang terbaik terhadap segala amalannya. Allah menurunkan Al Qur’an di bulan Ramadhan untuk menjadi petunjuk bagi manusia. Pada bulan Ramadhan kita begitu bersemangat membaca Al Qur’an sampai tamat 30 juz. Alangkah indahnya jika selain dibaca juga dipelajari, direnungi, dihayati dan diamalkan. Allah berfirman :

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. (Q.S. Shaad : 29)

Semoga seluruh amal ibadah kita di bulan Ramadhan diterima oleh Allah SWT sehingga kita memiliki ciri-ciri orang yang beriman dan bertakwa yang berhak meraih kemenangan. Taqabbalallahu minna wa minkum.

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group [/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × five =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.