Ikhlas Dalam Dunia Kerja, Mungkinkah?

0
793
Ikhlas Dalam Bekerja

MediaKALLA.Com – Banyak yang berpendapat bahwa ikhlas itu realitasnya sulit ditumbuhkan dari dunia kerja yang sangat penuh materi. “Mustahil ! ” kata mereka. Pastinya tetap ada pamrih yang terbetik di hati. Benarkah demikian? Inilah yang menjadi topik utama dalam Diskusi Jumat Khalifah Club di Warung Kuliner Wisma Kalla lantai IV, 06 April 2012 yang lalu.

Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita simak kisah  nyata yang dituturkan Pak Vivi berikut:

Pada era 80-an, ketika Hadji Kalla masih memimpin perusahaan, tidak dikenal istilah bonus atau insentif di kalangan karyawan. Pun karyawan tidak pernah mempertanyakan berapa gaji yang akan didapat. Pemilik perusahaan, Hadji Kalla hanya berpesan kepada mereka agar bekerja dengan jujur dan amanah. Karyawan yang sangat mengerti perangai Hadji Kalla pun berusaha melaksanakan amanah tersebut dengan sebaik mungkin. Berbekal keikhlasan, semangat kerja yang tinggi dan loyalitas, perusahaan menjadi maju. Laba perusahaan meningkat pesat. Haji Kalla memberikan gaji kepada karyawan sesuai dengan kerja kerasnya. Tanpa disangka sangka, Haji Kalla juga memberikan bonus kepada istri istri karyawan tanpa sepengetahuan mereka. Bukan hanya pada awal bulan namun juga pada akhir bulan. Hal ini sangat mengejutkan mereka. Mereka semakin termotivasi untuk bekerja lebih giat lagi. Perusahaan pun semakin maju. Inilah berkah keikhlasan. Keikhlasan dari pekerja dan keikhlasan dari pemberi kerja.

Tanda tanya besar kemudian muncul, masih mungkinkah hal semacam ini terealisasi pada Kalla Group  pada saat ini? Dalam hal ini ada dua pendapat yang kontradiktif.

Diskusi Jumat Khalifah Club Kalla Group

Pendapat yang pertama mengatakan bahwa keikhlasan tidak akan bisa lahir dari hal hal yang bersifat dunia seperti pekerjaan. Bahwasanya seseorang bekerja bertujuan untuk mencari nafkah penghidupan dunia akan sulit bersikap ikhlas 100 persen. Sedangkan keikhlasan sendiri adalah hanya dalam rangka mencari ridha Allah saja. Tidak untuk niat  yang lain. Keinginan untuk bekerja tidak bisa disamakan dengan keinginan untuk mengamalkan agama. Hanya ibadah mahdah (khusus) seperti sholat yang benar benar bisa dilakukan dengan ikhlas sepenuhnya. Namun demikian, tetap ada celah untuk menjadikan pekerjaan sebagai ibadah. “Sebuah hadist mengatakan semua yang kita lakukan dalam rangka mendukung ibadah adalah juga termasuk ibadah.” Pandangan ini didukung oleh H. Mahmud Abbas, Imam Masjid Al Markaz yang diundang menjadi penanggap dalam Diskusi Jumat tersebut.

Pendapat kedua mengatakan bahwa keikhlasan dalam dunia profesional adalah mungkin. Pendukung pandangan ini adalah mereka yang telah lama bekerja di Kalla Group dan telah membuktikan sendiri dalam pekerjaan mereka. Satu di antara pandangan yang cukup berbeda itu disampaikan oleh Bu Fatimah Kalla yang melihat keikhlasan sebagai bagian dari profesionalisme bekerja. Keikhlasan itu bekerja dengan cinta, seperti ibu kepada anaknya, memberi dan tidak hitung-hitungan. Keikhlasan adalah salah upaya memberikan pelayanan ‘beyond the expectation’ kepada customer. Begitu pula dalam hubungan atasan-bawahan, harus menjadikan keikhlasan sebagai landasan. Dengan keikhlasan, seorang atasan akan memberikan coaching dan mentoring kepada bawahannya walaupun hal tersebut akan sangat menyita tenaga dan pikirannya. Demikian pula bawahan dapat bersikap ikhlas terhadap atasannya. Ketika dia mengerjakan pekerjaannya melebihi job descriptionnya semisal bekerja overtime dan dia tidak menuntut bayaran. Itulah wujud keikhlasan seorang bawahan. Simpelnya, tidak ada ‘hitung hitungan’ antara atasan dan bawahan sehingga kedua pihak ‘menikmati’ keikhlasan tanpa disadari.

Pendapat senada didukung oleh Pak Fattah bahwasanya ikhlas menghendaki profesionalisme dalam berbagai aspek termasuk dalam pekerjaan. Dengan tauhid yang kuat tentu akan membuahkan keikhlasan. Keikhlasan yang dibawa dalam bekerja akan membuat seorang karyawan mencintai pekerjaannya. Dia akan fokus bekerja sesuai dengan job descriptionnya, menempatkan diri sesuai dengan posisinya dan tak pernah memusingkan posisi orang lain. Final goalnya, karyawan semacam ini akan sangat professional.

Hafid Rahim menyampaikan pendapatnya dalam diskusi kali ini

Dalam lingkungan Kalla Group, Pak Hafid dan Pak Syam’un mendeskripsikan keikhlasan itu ibarat aturan tidak tertulis perusahaan. Maka karyawan yang tidak ikhlas dapat disamakan dengan keluar dari aturan perusahaan. Dan seandainya ikhlas dapat berbentuk aturan, maka keikhlasan akan menjadi kontrol terhadap kinerja karyawan. Keikhlasan akan menentukan professional tidaknya seseorang dalam bekerja.

Untuk mengukur sejauh mana seorang karyawan bersikap ikhlas dalam bekerja, maka menurut Pak Arfah, karyawan maupun atasan harus tahu tentang kerja dan aturan aturan perusahaan. Ketika seorang karyawan mengoptimalkan potensinya untuk melakukan yang terbaik bagi perusahaan termasuk kerelaan mengerjakan hal hal di luar tanggung jawabnya, maka dia telah bersikap ikhlas. Sementara keikhlasan atasan adalah ketika memberi tambahan gaji kepada karyawan berdasarkan kerja kerasnya walaupun sang karyawan tidak meminta. Itulah yang menjadi titik temu keikhlasan antara karyawan (employee) dan atasan (employer).

Indikator mengukur keikhlasan dapat pula dilihat  dari totalitas dan loyalitas seorang karyawan terhadap pekerjaannya. Loyalitas adalah menyangkut kesetiaan seorang karyawan terhadap atasannya namun secara hakikat ia setia pada Allah, walaupun kenyataannya perjanjian kerja dengan atasan. Sedangkan totalitas akan terlihat pada bagaimana karyawan melakukan pekerjaannya bukan hanya untuk mendapatkan materi (coin), tetapi juga menganggap pekerjaan itu untuk memberikan manfaat, nilai lebih (poin) dan menjadi yang terbaik dalam pekerjaan tersebut sehingga dapat jadi inspirasi dan teladan (icon). Ini adalah pendapat Pak Syamril yang membuatnya melakoni pekerjaannya dengan nikmat.

Untuk itu, Pak Sjaiful yang mengawal diskusi ini mengajak semua insan Kalla Group untuk kembali pada khittah perusahaan ini yakni menerapkan keikhlasan dalam bekerja seperti keinginan pendiri perusahaan, Haji Kalla. Bahwasanya spirit keikhlasan dalam ibadah mahdah harus mampu ditransformasikan dalam dunia kerja. [mk]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × 4 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.