Idul Fitri dan Jalan Kalla

0
654

MediaKALLA.com – Hari Kamis 9 Agustus lalu kita merayakan Hari Raya Idul Fitri yang berarti kembali suci karena bersih dari dosa kepada Allah dan sesama manusia. Allah menjanjikan siapa yang berpuasa karena iman dan mengharap ridha Allah maka diampuni segala dosanya yang telah lalu. Dosa kepada manusia harapannya juga bersih karena saling maaf memaafkan. Apa sebenarnya makna fitri menurut Al Qur’an? Dapat ditemukan pada ayat berikut :

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (Q.S. Ar Ruum : 30)

Mari kita perhatikan ayat di atas. Allah selain menciptakan manusia juga menciptakan agama (din) yang sesuai dengan fitrah atau sifat dasar manusia yaitu Islam. Manusia ibarat computer atau smart phone, agama Islam itu ibarat Operation System (OS). Komputer atau smart phone tidak akan bisa beroperasi dengan baik kalau OS-nya tidak sesuai. Bagi pengguna Samsung, OS yang sesuai yaitu Android. Artinya Samsung fitrahnya Android. Bagi pengguna Nokia, OS yang sesuai yaitu Symbian. Artinya Symbian fitrahnya Nokia. Jika Nokia pakai Android maka dijamin pasti tidak akan bisa beroperasi dengan baik.

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group [/author]

Demikian pula dengan manusia, Allah ciptakan dengan ‘OS’ Islam. Jika manusia tidak menggunakan Islam maka dijamin pasti ada masalah. Hidupnya tidak akan bahagia, istilah Al Qur’an penghidupan yang sempit. Allah berfirman :

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (Q.S. Thaahaa : 124)

Islam sebagai agama fitrah menginginkan adanya keseimbangan antara iman, ilmu dan amal. Fitrah manusia untuk mengakui adanya sesuatu yang lebih besar di luar dirinya dan menjadi tempatnya bergantung terutama dalam keadaan sulit diajarkan dalam konsep tauhidullah yaitu mengesakan Allah dan ibadatullah (ibadah kepada Allah). Kemudian manusia selalu ‘bertanya’ hal yang mendasar siapa dirinya, untuk apa dia hadir ke dunia ini, mau ke mana setelah ini, semua dijawab oleh Islam dengan konsep yang gamblang dan sederhana. Manusia diciptakan sebagai khalifah (pengelola/pengatur) bumi untuk menyebar manfaat (rahmat) bagi semesta alam. Manusia ini ‘pengembara’ yang sedang menyiapkan bekal menuju perjalanan selanjutnya yaitu alam kubur dan akhirat di mana di sana semua akan dipertanggungjawabkan.

Penelitian London School of Economic menunjukkan bahwa kebahagiaan suatu negara tidak berbanding lurus dengan kebahagiaan masyarakatnya. Ternyata negara-negara miskin seperti Bangladesh dan Bhutan masyarakatnya lebih bahagia dibandingkan dengan Negara-negara makmur seperti  Amerika Serikat dan Jepang.  Mengapa terjadi demikian? Masyarakat di Negara makmur bukan mengalami krisis ekonomi tapi mengalami krisis makna hidup (meaning of life). Obatnya manusia harus kembali ke fitrah kemanusiaanya dengan mencari makna hidup yang diajarkan oleh Islam.

Fitrah manusia menyukai kebenaran, kebaikan dan keindahan. Contohnya manusia senang dengan orang yang tulus,  jujur, bertanggung jawab dan teguh pendirian dalam hal yang benar. Rakyat di Asia, Eropa, Amerika, Australia dan Afrika menginginkan pemimpinnya orang yang ikhlas, jujur, amanah dan istiqamah. Bahkan bukan cuma pemimpin, siapa saja diharapkan jadi orang yang baik dan ikhlas, jujur, amanah dan istiqamah adalah beberapa ciri orang yang baik. Jadi bisa dikatakan bahwa itu semua adalah fitrah manusia. Bagi insan Kalla nilai-nilai tauhid, ikhlas, amanah, jujur dan istiqamah merupakan komponen nilai Kerja Ibadah.

Selanjutnya manusia diciptakan Allah bersuku-suku dan berbangsa-bangsa memiliki keluarga kecil dan keluarga besar. Tujuannya agar saling kenal mengenal dan saling tolong menolong. Manusia fitrahnya memiliki sifat kekeluargaan dan tolong-menolong yang dalam kearifan lokal masyarakat Bugis disebut sipatuwo-sipatokkong. Bagi insan Kalla nilai-nilai kekeluargaan, tolong-menolong (sipatuwo-sipatokkong) merupakan komponen nilai Aktif Bersama. Jadi sebenarnya Aktif Bersama itu sesuai dengan fitrah manusia, sehingga mengamalkan Aktif Bersama dalam kehidupan artinya kembali ke fitrah kemanusiaan.

Kemudian manusia dalam hidupnya memiliki dorongan untuk berprestasi (achievement motivation) untuk mencapai yang terbaik (be excellent). Buktinya terlihat pada perkembangan teknologi manusia yang semakin maju dari masa ke masa. Itu semua terwujud karena manusia memiliki kecenderungan untuk berkreasi dan berinovasi untuk memecahkan masalah hidupnya (solutif).  Harapannya dalam menjalani kehidupan bisa secara efektif dan efisien karena semakin lama sumber daya yang tersedia semakin terbatas. Terdapat nilai-nilai kreatif-inovatif-solutif, efektif dan efisien yang merupakan fitrah manusia. Bagi insan Kalla itu semua adalah komponen dari nilai Lebih Cepat Lebih Baik.

Manusia sebagai makhluk sosial dalam kehidupannya berhubungan dengan orang lain dengan prinsip saling membutuhkan. Tidak ada manusia yang mampu hidup sendirian tanpa pertolongan dari orang lain. Interaksi tersebut juga berprinsip saling menguntungkan, maju bersama untuk meraih kesejahteraan bersama. Dalam interaksinya manusia juga sangat senang jika dilayani dengan ramah, sepenuh hati dan dihargai yang dalam istilah manajemen disebut dengan respect to people. Kearifan lokal masyarakat Bugis menyebutnya  sipakatau-sipakalebbi. Terdapat nilai-nilai fitrah maju bersama dan respect to people.  Bagi insan Kalla nilai-nilai tersebut merupakan komponen nilai Apresiasi Pelanggan.

Jadi sebenarnya Jalan Kalla yang terdiri dari Kerja Ibadah, Aktif Bersama, Lebih Cepat Lebih Baik dan Apresiasi Pelanggan itu semua sesuai dengan fitrah manusia, sehingga mengamalkan Jalan Kalla dalam kehidupan artinya kembali ke fitrah. Harapannya dengan Idul Fitri kita semua kembali kepada kesucian dan fitrah sifat dasar kita yang senang kepada kebenaran, kebaikan dan keindahan. Semoga itu semua memudahkan kita untuk menghayati dan mengamalkan Jalan Kalla yang sejalan dengan fitrah kemanusiaan kita. (*)

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

17 − eleven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.