Ibrahim Sang Pembelajar

0
570

MediaKALLA.com – Dalam Al Qur’an selain Nabi Muhammad SAW yang dinyatakan sebagai teladan yang baik Allah juga menceritakan tentang Nabi Ibrahim as sebagai teladan yaitu :

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)” (An Nahl : 120)

Apa yang diteladani? Sangat banyak dan salah satunya adalah sifat pembelajar, berfikir kritis, logis, rasional dalam menghadapi masyarakat. Meyakinkan kaumnya dengan mengajak berfikir.

Sejak kecil Ibrahim memang sosok yang kritis, bertanya sampai kepada hal-hal yang terkait dengan pencipta alam semesta ini sebagaimana dikisahkan dalam Al Qur’an :

“Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (Q.S. Al An’am : 76-78)

Pengamatannya kepada benda-benda langit disertai dengan renungan pencarian tuhan mengantarkannya pada kesimpulan akan adanya Tuhan pencipta langit dan bumi. Benda-benda langit seperti bintang, bulan dan matahari bukanlah tuhan tapi dia adalah benda ciptaan Tuhan.

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”. (Q.S. Al An’am : 79)

Era Ibrahim hidup sekitar 6000 tahun yang lalu tentu ilmu pengetahuan dan peradaban manusia belum setinggi sekarang. Manusia masih terjebak pada animisme dan dinamisme. Meyakini adanya dewa-dewa serta kekuatan benda-benda besar sehingga mereka menyembahnya. Namun Ibrahim dengan kekritisannya melawan kepercayaan tersebut.
Setelah dewasa dan mendapat tugas sebagai Nabi maka Ibrahim menghadapi Raja Namruz dan kaumnya yang menyembah berhala. Apa yang dilakukan Ibrahim untuk meyakinkan kaumnya? Beliau menggunakan pendekatan logis-rasional pada masyarakat yang hanya sekadar mengikut nenek moyang dan tradisi tanpa pertimbangan akal. Allah menceritakan dalam Al Qur’an Surat Al Anbiyaa : 54-67

(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?” Mereka menjawab: “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya”.

Bagaimana Ibrahim menghadapi mereka? Pada saat mereka pergi berburu Ibrahim menyelinap masuk ke dalam ruangan berhala dan dihancurkannya semua berhala yang ada dengan kampak kecuali satu berhala yang paling besar. Allah berfirman :

Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.

Saat mereka menyaksikan berhalanya hancur maka mereka pun marah besar dan menuduh Ibrahim yang melakukannya. Ibrahim mengatakan lihatlah kampaknya ada di berhala yang besar, pasti dialah yang menghancurkan yang lainnya. Tanya saja kepada berhala besar itu. Allah berfirman :

Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?” Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”.

Tambah marahlah mereka karena disuruh bertanya kepada patung besar dari batu yang tentu saja tidak bisa berbicara. Nah, itulah saat yang tepat Ibrahim masuk mengubah mind set mereka. Kok patung disembah, padahal patung tersebut tidak bisa apa apa dan tak mampu menolong dirinya sendiri. Allah  berfirman :

Ibrahim berkata: “Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?” Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?

Pelajaran apa yang dapat diperoleh dari kisah tersebut? Pada masa sekarang bisa jadi kita masih menemukan manusia yang bertipe Namruz dan kaumnya. Mereka hanya ikut-ikutan atau taklid buta tanpa berusaha mengkritisinya. Kalau di perusahaan bisa jadi ada karyawan yang fanatik dengan cara-cara lama yang sudah ketinggalan zaman tapi tetap digunakan. Atau orang-orang yang berada di zona nyaman tidak berani lagi melakukan perbaikan.

Perubahan dilakukan ternyata dimulai dengan mengubah mind set dengan diajak untuk berpikir logis. Jika mind set atau pikiran berubah, harapannya keyakinan pun berubah. Jika keyakinan berubah maka sikap pun berubah. Jika sikap berubah maka tindakan pun berubah. Jika tindakan berubah maka hidup pun berubah. Tentu semua berubah menuju yang lebih baik.

Jika ingin menjadi lebih baik maka kunci utamanya adalah menjadi manusia pembelajar. mengamalkan perintah “Iqra” untuk membaca, terus belajar mencari ilmu membaca buku-buku, berdiskusi atau apa saja. Dunia terus berubah dan hanya dapat diikuti dengan belajar, belajar dan belajar. Inovasi, kreasi dan improvement akan dapat dilakukan jika kita terus memiliki cara pandang yang yang luas serta hati yang bersih sehingga dapat melihat persoalan dengan jernih dan menemukan solusi yang tepat dan tidak melanggar aturan Allah.

[author image=”http://www.mediakalla.com/wp-content/uploads/2013/05/Syamril1.jpg” ]Syamril : Koordinator Kalla Educare Yayasan Kalla | Human Capital Division Kalla Group – 13 Ramadhan 1434 H[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.